Halaman

Kamis, 15 Maret 2012

Bledug kuwu dan Api Abadi Mrapen


Bledug kuwu

Masyarakat Grobogan Purwodadi sudah tidak asing lagi akan adanya “bledhug kuwu“ tersebut, sebab obyek Bledhug Kuwu telah menjadi obyek wisata alam yang menarik di daerah tersebut. Keajaiban alam berupa “plembungan endhut“ yang meletus ( bledhug ) dengan suara letusan yang cukup keras ini memang benar - benar ajaib. Bledhug itu sepanjang zaman tidak putus - putusnya terjadi dilokasi tanah seluas kurang lebih 40 Ha. Bledhug itu ada yang sangat besar, bahkan ada yang sebesar rumah penduduk.

Menurut cerita tutur, bledhug itu terjadi karena ulah Jaka Linglung, Putra Aji Saka atau Prabu Jaka dari kerajaan Medang Kamulan.

Pada satu ketika Jaka Linglung yang berwujud ular naga itu disuruh Aji Saka atau Prabu Jaka membunuh Dewata Cengkar yang telah berubah rupa menjadi seekor buaya putih yang sangat besar, sebagai syarat untuk diakui sebagai anaknya. Jaka Linglung berangkat ke laut selatan tempat Dewata Cengkar bertahta. Dia tidak sabar melalui darat, maka dia melalui dalam tanah, jalan yang dilalui oleh Jaka Linglung itu akhirnya berubah menjadi “tanah lendhut“ Bledhug yang terjadi adalah nafas Jaka Linglung selama dalam perjalanan itu. Jadi menurut kepercayaan orang, ada hubungan bledhug itu dengan laut selatan.

Kenyataan sampai sekarang, air dari bledhug itu mengandung garam dan ditambang oleh penduduk sekitarnya sebagai tambang garam yang diambil dari air bledhug tersebut.

Selanjutnya cerita Jaka Linglung menurut cerita Aji saka, adalah sebagai berikut : Dalam serat primbon Jayabaya ( hal. 23 - 24 ) terdapatlah pasal yang menyebutkan tentang perginya Prabu Esaka dalam bab V Piwulang Dewa, yang berbunyi :

Pun Jaka sengkala anakipun Empu Anggejali, patutan saking Dewi Saka, Putranipun Raja Sarkil ing pulo Najran Sareng Jaka Sengkolo jumeneng nata, jejuluk Sang Aji Saka jengkar saking negaripun lajeng Nga Jawi, tanpo wonten ing redi kandha ( kendeng ? ) tlatah banyuwangi jejuluk Empu Sengkala. Anuju ing Surya Adam, tahun 5164, Chandra 5316, Empu Sengkala macak titimangsa tahun jawi : kaeteng tahun Candra - Sengkala I Warsa. Tahun Rum anuju angka 444 warsa. Tahun Adam tahun Surya 5161 warsa. Tahun Masehi 78 jumenengan nata.

Aji Saka ke tanah Jawa dengan keempat orang muridnya. Di tanah Jawa dia mendirikan perguruan di ujung kulon. Kemudian mengembara sampai ke Galuh. Disini murid - muridnya ditinggalkannya, dan dia terus mengembara ke arah timur. Sampailah dia ke Medang Kamulan, tempat Prabu Dewata Cengkar, raja yang gemar makan manusia, bertahta .

Menurut serat Sindula ( Babat pajajaran, naskah carik ) negara Medang Kamulan dikuasai oleh seorang raja raksasa yang gemar makan manusia, bernama Prabu Dewata Cengkar. Akibat ulah raja itu rakyat menjadi sangat susah, sebab tiap hari harus dapat menyerahkan seorang manusia sebagai santapannya. Prabu Dewata Cengkar itu adalah putra Prabu Sindula, titisan Dewa Wisnu ke dunia di negara Galuh. Prabu Dewata Cengkar berontak kepada ayahnya Prabu Sidula kalah dan Moskwa Dewata Cengkar menggantikan kedudukan ayahnya sebagai raja Galuh. Kerajaan dipindahkan ke Medang Kamulan.

Sementara itu dalam pengembaraan Aji Saka sampailah ke Negara Medang Kamulan itu. Aji Saka datang ke rumah janda sengkeran, seorang janda patih di Medang Kamulan. Disitu, sebagai seorang guru (Brahmana) dia banyak mengajarkan ilmu sastra, ilmu penitisan dan ilmu pengetahuan agama. Dari cerita janda sengkeran diketahui bahwa dalam negara Medang Kamulan sedang dilanda kesusahan yang besar, sebab ulah prabu Dewata Cengkar yang gemar makan manusia. Sebagai seorang Brahmana Aji Saka ingin melepaskan rakyat Medang dari kesengsaraan itu. Maka dia minta kepada janda Sengkeran agar dia haturkan kepada Prabu Dewata Cengkar untuk dijadikan santapannya. Karena kehendak Aji Saka itu tidak dapat dihalangi oleh janda sengkeran, akhirnya Aji Saka dihaturkan ke Prabu Dewata Cengkar untuk dijadikan santapannya .

Di hadapan Prabu Dewata Cengkar, Aji Saka menyatakan mau disantap oleh Sang Prabu asal dapat meluluskan satu permintaannya, yaitu minta tanah seluas kain ikat kepalanya. Sang Prabu tidak keberatan meluluskan permohonan tersebut .

…. Pan apurun dados dhaharing Sang Nata, nanging dharber prajanji nuwun bumi medhang, sawijare kang dhestar, bumi dhen suwun sumiyeh, yen sampun tanpa semonggo karso aji. Serat (Sindula : 17) Demikianlah permohonan Aji Saka tersebut dikabulkan. Destar (Ikat Kepala) diminta oleh prabu Dewata Cengkar, kemudian ditebarkan (dijereng), ternyata kain ikat kepala itu menutupi seluruh daerah Medang Kamulan karena kalah janji, maka Prabu Dewata Cengkar beserta prajuritnya yang setia diusir dari Negeri Medang terjadilah perang yang hebat dan Prabu Dewata Cengkar terpojok di pantai laut selatan, akhirnya dia menceburkan diri ke laut, dan berubah menjadi buaya putih yang merajai laut selatan.

Dyan Dewata cengkar salah kedaden, pan dadi baya putih wis kena ing papa, ceritane kang rama gengiro ka giri - giri, lir endra suta kagila - gila ngajrihi .( Ibit : 18 ) .

Di laut selatan Dewata Cengkar mendirikan kerajaan manusia. Patihnya bernama Adipati Gajah Mina : Bupati Ki Tumenggung Mamprang : prajurit : Haryo Lodan, Ronggo saradulo demang Wikridipo : Ki Pandelengan mina : Santono Tumenggung Mamprang, Harya Kaluyu, Raden Saradula; Demang Wikridipo : Ki Pandelegan Mina : Santapan Tumenggung Mamprang hanya terdapat dua raja yaitu Ratu Kidul dan Prabu Dewata Cengkar. Keduanya saling berebut pengaruh dan saling ingin berkuasa.

Demikianlah setelah Dewata Cengkar kalah dan menjadi buaya putih, Aji Saka diangkat menjadi raja Medhang Kamulan dengan gelar Jaka atau Empu Lodang Widayaka, atau Prabu Aji Saka.

Setelah menjadi raja, Aji Saka ingat akan dua anak abdinya yang ditinggalkan di pulau Mejati, yaitu Ki Dora dan Ki Samboda. Maka diutus abdinya yang lain untuk memanggil kedua abdinya itu. Yang datang adalah Ki Dora sedang Ki Samboda masih tetap di Pulau Majeti menunggui pusaka Aji Saka seperti pesan yang pernah ditinggalkan oleh Aji saka. Melihat kenyataan tersebut, maka Ki Dora disuruh kembali memanggil Ki Samboda dengan membawa keris pusakanya sekali. Tetapi lama sudah kedua abdi itu tidak kembali. Maka Aji Saka memutuskan Ki Duga dan Ki Prayuga ke Pulau Majeti. Dua Prayuga sampailah di Pulau Majeti ditemukan bahwa Ki Dora dan Ki Samboda telah kedapatan mati bersama. Melihat keadaannya keduanya habis berkelahi dan mati sampyuh .

Ing Pulau Mejati Nora kepanggih pun Dora Samboda inulatan, kepanggih mati karone ANACARAKA lampus, labet DATASAWALA sami, sakti PADHAJAYANYA, sakti sareng lamus, MANGGABATANGA sih, sandagane karone magsih sinanding, suku pepet, cokro pengkal. ( Ibit : 21 ) melihat kematian Dora Samboda tersebut, Duga Prayoga segera kembali ke Medang Kamulan, atur periksa kepada Prabu Jaka. Prabu Jaka menerima laporan tersebut sangat sedih sebab sebenarnya dialah yang bersalah. Untuk mengenang peristiwa tersebut maka Prabu Jaka menceritakan CARAKA JAWA yang terdiri dari empat kalimat ( Utusan berjumlah empat orang ) dan masing - masing kalimat terdiri dari 2 huruf Nglegena ( peristiwa itu mengenai lima orang jadi CARAKA JAWA berjumlah dua puluh buah, caraka jawa itu dapat hidup dan berguna bagi kehidupan umat manusia harus disandangi dengan suku, wulu, cakra, cecak, pengkal, taling, taling tarung, layar dan sebagainya. Sedang huruf itu ada beberapa yang mati kalau dipangku

Susunan caraka jawa itu adalah :

HA NA CA RA KA

DA TA SA WA LA

PA DHA JA YA NYA

MA GA BA THA NGA

Caraka jawa tersebut disusun berdasarkan tua mudanya sastra, yaitu “sastra sandi sarimbagi”, setelah ditambah dengan huruf hidup : I, o, u, e, e menjadi berjumlah 25 buah kemudian ditambah lagi dengan pengkal, cakra, keret, cecak dan wignyan jumlah menjadi 30 buah. Lengkaplah sudah cara jawa dapat hidup dan kehidupan manusia didunia .

Dengan karya tersebut menandakan bahwa Aji Saka adalah seorang Brahmana yang wignya, mahir dalam segala ilmu dan ngilmu lahir dan batin. Walaupun sudah menjadi raja, Aji Saka masih tetap melalukan kesenangan lamanya, yaitu pergi menyepi, bertapa di hutan dan gunung keramat .

Pada suatu hari Aji Saka sedang menyepi di hutan dia melihat seekor ular naga yang sedang bertapa di sebuah goa. Aji Saka panas hatinya, ular tersebut dibunuhnya setelah ular naga itu mati terdengarlah suara .

Sikaara mateni ulo taami, busuk tembe Prabu Saka sirna anggabung kelanange pujangga muskha sampun ( Ibit : 44 ).

Suara tersebut berasal dari arwah ular naga yang mati itu. Dan umpatan ular itu nantinya menjadi kenyataan. Pada suatu hari Aji Saka ingin nantinya menjadi kenyataan. Pada suatu hari Aji Saka ingin menengok Nyai Janda Sengkeran. Dahulu ketika dia datang pertama kali di negara Medang Kamulan dia mengetahui Nyai Janda mempunyai seorang anak perempuan yang cantik putri tersebut sekarang mestinya sudah dewasa anak itu bernama Retno Dewi Rarasati. Ketika dia sampai ke rumah janda tersebut dia melihat Retno Dewi Rarasati sedang menumbuk padi. Kainnya terbuka keatas dan kelihatanlah pahanya yang mulus. melihat hal tersebut Aji Saka jatuh birahinya. Dia tidak menahan asmaranya maka jatuhlah air maninya ke bumi kebetulan pada waktu itu ada seekor ayam kate putih simbar delima milik Nyi janda. Air mani itu dimakannya kemudian pergi dilain pihak Retno Dewi Rarasati melihat Aji Saka seperti kena gendam dan jatuh cinta nafsu asmaranya tidak tertahankan, maka noktahnya jatuh cinta. Nafsu asmaranya tidak tertahankan maka noktahnya jatuh ke bumi. Noktah itupun dimakan oleh ayam kate tersebut .

Kehendak Dewata tidak dapat diingkari. Ayam tersebut kemudian bertelur sebutir. Prabu Aji Saka sangat malu dengan peristiwa tersebut, inilah pembalasan ular naga yang mati di bunuhnya selanjutnya telur tersebut diambil nyi janda dan ditaruh di padaringan. Aneh, beras di padaringan tidak habis - habis walaupun tiap hari diambil berasnya bahkan bertambah banyak. Kemudian telur itu dipindahkan kelumbung tempat menyimpan padi. Dilumbung telur itu menetas menjadi seekor ular naga yang sangat besar, Nyi janda Sengkeran sangat takut pada ular itu kemudian dia berlari untuk menghadap patih melaporkan peristiwa tersebut. Kemanapun Nyi janda pergi selalu diikuti ular naga tersebut. Akhirnya sampailah kehadapan patih terngger. Ki Patih sangat takut melihat ular tersebut lebih mengherankan lagi bahwa ular itu dapat berbicara seperti manusia .

Pujangga Gumuyu suka, kaki patih ojo wedi lan tho payo podha lengah, mengko suntutur rumiyen, Ki patih langkung ajrih, gumeter nggennyo alungguh, ngucap gugup agreragapan. Tik saka apa siriki, tanpa sangkan sumabur ponang pujangga. Tata jalma bisa ngucap. Kulo niki kaki patih, arsa sowan Kanjeng Rama ing Medang Srinarapati. Ki Dipati marijrih, wus sarep ing penggalih ( serat sindula : 46 ) .

Mendengar perkataan ular yang dapat bercakap - cakap layaknya seperti manusia Ki Patih tidak lagi. Maka dia melaporkan hal tersebut kepada Prabu Jaka. Menerima laporan tersebut, raja sangat malu. Dia teringat akan peristiwa masa lalu dengan Retno Dewi Rarasati. Kenyataan itu harus dihadapi dan diterimanya. Akhirnya dia berkata, bahwa laporan itu dia terima dan ular itu diberi nama ular linglung atau Jaka linglung. Raja mengakui sebagai putranya dengan syarat Jaka Linglung dapat membunuh mungsuh utamanya, yaitu Dewata Cengkar, yang sekarang telah beralih menjadi buaya putih bertahta di laut selatan. Jaka linglung menyanggupinya. Maka berangkatlah dia ke laut selatan. Jalan yang dilaluinya menjadi rata, maka dia masuk ke bumi, dan timbul kembali ke laut selatan.

Ingkang kamargen waradin nadyan jurang pan wiradin, kasuwen ambeles mangidul, lebul telengin samudro. [ ibit ;48 ]

Di laut selatan, dia ketemu dengan Ratu Angin ( Ratu Kidul ) yang sedang dilanda kesedihan, karena rakyatnya sedang mendapat gangguan hebat dari rakyat buaya putih Dewata Cengkar. Mengetahui kedatangan Jaka Linglung hendak membunuh Dewata Cengkar itu, Ratu Kidul sangat senang hatinya. Bahkan dia berjanji bila jika linglung dapat membunuh Dewata Cengkar, dia akan mengabdi kepadanya. Dijadikan Raja Selatan, walaupun sebentar, dia akan dijadikan menantunya dikawinkan dengan anaknya : Retno Blorong, kenyataannya Jaka dapat membunuh Dewata Cengkar dan janji Dewi Angin Angin dipenuhi (Ranggawarsito; Witorotyo 111, 1992 , 122 -12 ).

Setelah beberapa lama di laut selatan, Jaka Linglung minta ijin kepada Ratu Kidul untuk kembali ke Medang Kamulan. Berangkatlah dia dengan Istrinya Retno Blorong ke Medang Kamulan.

Dia mengarah ke barat, lewat Samudra, masuk ke dalam tanah, timbul kembali di tanah pasundan. Masuk ke tanah lagi timbul di Jawa Tengah itu sebabnya di Jawa banyak ditemukan sumber air yang mengandung garam ( Bleng ), sebab sumber itu merupakan petilasan Jaka Linglung tersebut. Dalam perjalanannya diteruskan ke timur lewat bawah tanah dan muncul kembali ke Demak di Desa Walak. Masuk ke tanah lagi dan muncul kembali di Grobogan dan berhenti di rawa - rawa garam .

Medal teleng jalat ri ambles pratala weruh benggang jebul ngardi nenggih in Pasundan milo ing sak puniko kuto Bleng ing tanah jawi, patilasan niro sang Linglung ngudi milo malih majin bumi jebul Demak, ing wala wastaniki, ambles malih ing pantala, anjebol ing Grobogan ing Ngumpak lami.(Sindula : 52).

Dari Ngembak ( Rawa - rawa ? ) Jaka Linglung meneruskan perjalanan ke Banyuwangi, terus ke Jana Cerewek, ke Banjar, Dikil. Di Jati, Jaka Linglung tidur, disitu upasnya jatuh. Tempat jatuhnya upas itu kemudian dinamakan Desa Gasak. Disinilah kemudian ada “Bleduk Upas“ yang tidak dapat dimakan. Jaka Linglung melanjutkan perjalanan sampai ke Kuwu. Disini agak lama. Dari Kuwu inilah Jaka Linglung datang menghadap Prabu Jaka di Medang Kamulan sejak itulah dia diterima sebagai Putera Prabu Jaka. Oleh Prabu Jaka, Jaka Linglung diangkat sebagai Putra Mahkota dengan gelarnya Prabu Anom Linglung Tunggul Wulung. Istana Kadipaten kemudian dipindahkan ke Desa Kesanga. Sedang istrinya Retno Blorong ditempatkan di Grobogan di Desa Ngembak, wilayah Medang Kana. Kedaton Kesanga disebut pula Kedaton Kadipaten, Tumenggungan, Kariyan Panggabean atau Kranggan. Beberapa waktu menjadi Adipati Anom Tunggul Wulung kemudian pergi bertapa di Tunggul Wulung Kesanga.

Api Abadi Mrapen dijual
MENJELANG bulan purnama, setiap Mei, objek wisata yang biasa sepi tersebut mendadak meriah. Sang juru kunci pun cukup sibuk berbenah dan memoles petilasan dan situs kunonya. Itulah obyek wisata api abadi Mrapen di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan yang, Kamis kemarin (31/5) digunakan pengambilan api suci sebagai rangkaian perayaan Waisak 2551/2007 di pelataran Candi Borobudur.

Ratusan bikhu dari Perwalian Umat Buddha Indonesia (Walubi) mengikuti prosesi itu. Termasuk Ketua Walubi (pusat) Siti Hartati Murdaya. Para penganut agama yang dikenal berpakaian serba coklat dan tanpa rambut di kepala yang datang dari berbagai sekte cukup khitmad mengikuti upacara.

Setelah upacara, diambillah api darma pada sebuah obor (tujuh obor) dan 20 lampu teplok (lampu Jawa-red) yang disulut. Lalu, obor ini dibawa ke Candi Mendut melalui Semarang dan diteruskan ke Candi Borobudur di Magelang.

Ketua Tempat Ibadah Tri Dharma Hok An Bio Gubug, Agus Wijanarko mengatakan, setidaknya ada enam sekte (kelompok- red) yang datang dalam pengambilan api darma. Yakni, Sekte Vasogatra, Maitrasia, Tantrayani, Teravadi, Kasogatra, dan Mahayani.

"Masing-masing sekte melakukan ibadah lebih dulu, sebelum dilakukan pengambilan api suci. Kegiatan ini rutin setiap tahun sebagai rangkaian peringatan Tri Suci Waisak," katanya kepada wartawan, kemarin.

Disebutkan, pertama kali api suci diambil dari api abadi Mrapen tahun 2001. Lalu setiap tahun hingga saat ini. Bagi umat Buddha prosesi ini dianggap sebagai peristiwa sakral dan fenomenal.

Hal demikian dibenarkan oleh Andi Rushadi (43), salah satu keluarga pewaris api Mrapen yang juga bertindak sebagai juru kunci. Sejak dirinya tinggal di sekitar Mrapen, hampir selalu dilibatkan dalam persiapan upacara pengambilan api Waisak.

"Kami sekeluarga biasanya yang bersih- bersih dan mempersiapkan segala sesuatunya dibantu warga, aparat desa, dan kecamatan," kata pria yang mengaku sebagai keturunan ketujuh, Eyang Singo Dirono, nenek moyongnya yang diyakini sebagai pemelihara situ Mrapen sejak ditemukan Sunan Kalijaga.

Masa depan
Menurut Andi, objek wisata Mrapen dikenal memiliki tiga benda peninggalan dari zaman Demak. Yakni lubang yang mengeluarkan mata api, watu bobot (sejenis batu besar-red), dan mata air yang mengandung belerang.

Ketiga benda tersebut diyakini oleh sebagian masyarakat masih keramat. Walau diakui, mata api yang ke luar dari lubang sudah tak sebesar tahun-tahun sebelumnya.

"Mungkin karena faktor alam, apinya sekarang tinggal kecil. Cuma dari dulu hingga sekarang belum pernah padam," terang Andi Rushadi, anak kelima dari almarhumah Ny Parminah, pemilik sertifikat tanah beserta isinya (Mrapen-red) yang lahannya seluas 8.660 m2.

Berdasarkan dongeng, Api Mrapen adalah peninggalan Sunan Kalijaga. Kala itu, Sang Sunan dan rombongan tengah mengembara, sebelum menuju ke Kerajaan Demak, karena kecapekan berhenti di sekitar Mrapen. Lantaran rombongan kelaparan, Sunan berinisiatif memasak.

Namun, karena tak ada api dan air, mendadak Sunan menancapkan tongkatnya ke tanah dua kali (beda tempat-red). Lalu, dari tanah itu keluarlah api dan air belerang. Sedangkan Watu Bobot adalah benda ba-waan Sunan yang sengaja ditinggal di Mrapen. Tempat itu juga dikenal milik Empu Supo, seorang empu ulung dari Kerajaan Demak yang membuat bilah keris di sana (dibakar dengan api Mrapen-red).dr wwsan digital.

Hanya saja, diakui Andi dan keluarganya, karena kondisi dan keinginan keluarga, api abadi Mrapen yang masih dikelola pribadi demikian akan dijual. Dari tanah seluas 8.660m2 yang akan dijual 6.600 m2, termasuk di dalamnya api abadi Mrapen dan peninggalannya.

"Kami masih menawarkan kepada siapa saja yang mau. Karena keluarga menghendaki dijual. Hasilnya dibagi tujuh, anak dari Ny Parminah. Soal harganya kami tidak ingin sebutkan di koran, " terang Andi, yang juga seorang guru sembari mengatakan dua saudaranya yang lain juga tinggal di kompleks Mrapen.

Api Abadi Mrapen Saksi ABG

Mrapen – Lokasi wisata api abadi Mrapen di Desa Grobogan, Jawa Tengah kembali menjadi saksi sejarah olahraga di Tanah Air. Sejak tahun 1963 saat pelaksanaan Ganefo (Games of the New Emerging Forces), yang menjadi cikal bakal Asian Games itu, api yang tak pernah padam itu selalu menjadi titik awal kirab obor yang merupakan bagian dari seremonial tiap olahraga di Indonesia.

Berkenaan dengan perhelatan Pekan Olahraga Pantai Asia atau Asian Beach Games (ABG) 2008 di Bali, pada 18-26 Oktober, Mrapen menjadi bagian sejarah penting bagi kehormatan olahraga Indonesia di mata Asia. Pada Rabu (8/10), api obor ABG akan diambil dari situs bersejarah ini untuk selanjutnya dikirab ke Semarang, Jakarta dan disulut di Bali. Direncanakan Rita Subowo selaku Ketua Harian Bali Asian Beach Games Organizing Committee (BABGOC) sekaligus Komite Olimpik Indonesia (KOI), akan menyulut pertama obor tersebut.
Kemudian diserahkan kepada Suryo Agung, pendulang medali emas pada Sea Games 2007 untuk cabang atletik 100m dan 200m putra, yang kemudian akan mengusung obor ABG menuju Gubernuran Semarang. Api abadi asal Merapen ini akan digunakan untuk menyulut caldron pada acara pembukaan ABG pada tanggal 18 Oktober 2008 bertempat di Garuda Wisnu Kencana (GWK), Bali. Ajang ini diikuti 45 negara dan region Asia serta melibatkan 19 cabang olahraga.
Dalam perjalanannya menuju Pulau Dewata, obor api ABG tersebut direncanakan melewati Kantor Pusat KONI untuk kemudian disemayamkan selama satu malam di Gedung Serba Guna Menegpora, Jumat (10/10). Keesokan harinya obor akan di bawa menuju Istana Negara untuk diterima oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. Dari rilis yang diterbitkan Humas ABG 2008, hadir di Istana Negara adalah 45 Duta Besar dari masing-masing negara peserta, Menegpora Adydaksa Dault, Mendbudpar Jero Wacik dan Rita selaku ketua harian BABGOC. Obor tersebut nantinya diberikan dari Presiden Yudhoyono kepada Aburizal Bakrie selaku Ketua Umum BABGOC untuk kemudian diarak menuju Bali.
Saat tiba di Bali, obor akan melakukan perjalanan melewati sembilan kabupaten di Bali, yaitu Badung, Tabanan, Jembrana, Buleleng, Karang Asem, Klungkung, Bangli, Gianyar, dan Denpasar. Perhentian terahir kirab obor ini akan mengambil tempat di Gubernuran Bali, dan diterima Gubernur Bali I Made Mangku Wastika. Rita sendiri mengaku bangga dapat menjadikan Indonesia sebagai tonggak penting sejarah ABG. Tidak hanya itu, ajang ini diharapkan mengharumkan nama bangsa di pentas dunia.


Sosial Ekonomi Masyarakat Kec. Purwodadi

Kondisi sosial ekonomi masyarakat yang mempengaruhi secara langsung keberadaan TWA Gunung Baung adalah masyarakat yang tinggal di wilayah kecamatan yang berbatasan langsung dengan taman wisata alam, yaitu Kecamatan Purwodadi Kabupaten Pasuruan.

Kecamatan Purwodadi, Kabuparten Pasuruan berada di
sebelah Selatan kawasan TWA Gunung Baung. Wilayah Kecamatan Purwodadi pada tahun 2006 terdiri dari tiga belas Desa, 68 dusun, 414 Rukun Tetangga, dan 118 Rukun Warga. Kecamatan Purwodadi berada 400 m dpl, dengan 55% wilayah berupa dataran sampai berombak, 20 % berombak sampai berbukit dan 25 % berbukit sampai bergunung (gambar 1). Curah hujan 
tahunan mencapai 3.245 mm per tahun.







Populasi penduduk Kecamatan Purwodadi terus meningkat dengan laju pertambahan yang cukup tinggi, yaitu 8,22% per tahun, dengan tingkat kelahiran 36 bayi per bulan dan tingkat kematian 30 orang per bulan. Jumlah penduduk Kecamatan Purwodadi antara tahun 2004 sampai 2006 tersaji pada (Gambar 2).









Tingkat kesejahteraan masyarakat di Kecamatan Purwodadi yang berbatasan langsung dengan TWA Gunung Baung pada tahun 2006 sebagian besar (77%) diklasifikasikan miskin (Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I), sedangkan yang tidak miskin (Keluarga Sejahtera II) hanya 33% (Gambar 3).







Tata guna lahan di Kecamatan Purwodadi sebagian besar digunakan untuk kegiatan di sektor pertanian (92%) dan berikutnya digunakan sebagai kawasan perkebunan (4%), kawasan hutan (3%) dan 1% dari total luas kawasan untuk bangunan (rumah, jalan, tempat ibadah dan sarana sosial lain).

Tata guna lahan secara diagramatis ditampilkan dalam (Gambar 4). Oleh karena itu, penduduk Kecamatan Purwodadi sebagian besar (86%) berusaha di sektor pertanian, kemudian disusul sektor perdagangan (8%), sebagai PNS/TNI/POLRI (3%), di sektor konstruksi (2%) dan sektor industri (1%) (Gambar 5).




Sarana pendidikan yang ada di Kecamatan Purwodadi meliputi Taman Kanak-Kanak sebanyak tiga lembaga, 55 Sekolah Dasar, 16 Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri dan Swasta, dan delapan Sekolah Menengah Umum Negeri dan Swasta.
Sarana kesehatan yang ada di Kecamatan Purwodadi adalah sembilan buah poliklinik desa (POLIDES), 58 pos pelayanan terpadu (POSYANDU) dan dua pos obat desa.


Masyarakat Purwodadi mayoritas beragama Islam (Gambar 6), dengan didukung sarana Ibadah yang meliputi 66 Masjid, 285 Mushola, lima buah gereja dan satu buah Vihara.

3 komentar: