Halaman

Kamis, 23 Juli 2015

Inti Bumi Ternyata Berongga


Mengungkap Rahasia Inti Bumi: Bumi Berongga?
Teori bumi berongga

Seberapa dalam pemahaman anda terhadap bumi, tempat hunian anda ini? Selain kehidupan di permukaan bumi, apakah ada kehidupan di daerah lain yang gelap, misalnya di pusat atau inti bumi?. Setelah dikalkulasi, bobot bumi sekarang sekitar 6 triliun ton, jika beberapa bagian dari dalam bumi itu tidak hampa, maka beratnya lebih dari itu.
Teori Bumi berongga pertama kali dikemukakan oleh astronom Inggris Edmund Halley (Komet Halley adalah penemuannya) pada tahun 1692. Dia percaya bahwa bumi itu tidak seperti yang diyakini selama ini oleh kebanyakan orang adalah padat, tapi dibentuk oleh beberapa bola berongga.
Di setiap celah antar bumi, sebenarnya merupakan sebuah lingkungan yang mirip bumi kita, di sana tanamannya subur, dengan iklim yang menyenangkan. Di permukaan bumi, ada beberapa terowongan misterius yang terhubung dengan inti Bumi, asalkan dapat menemukan terowongan itu, maka Anda akan dapat masuk ke dunia inti bumi yang misterius...
Koridor Agartha
Dalam buku India kuno pernah tercatat, bahwa di dalam perut bumi terdapat sebuah koridor bawah tanah “Agartha”, yang artinya “dunia bawah tanah” dalam bahasa Sansekerta. Menurut legenda ada banyak goa-goa di bawah tanah, terowongan dan tikungan berliku-liku saling memotong membentuk jaringan koridor bawah tanah, di bawah tanah terkubur rahasia peradaban kuno dan harta yang tak berujung.
Menurut pengamatan ekspedisi dan catatan dokumentasi, koridor Agartha kemungkinan besar adalah sebuah koridor bawah tanah yang melintasi dasar Atlantik dan menghubungkan Eropa, Asia, Amerika, Afrika dan benua lainnya, selama bertahun-tahun, ia telah menarik banyak ilmuwan dan penjelajah untuk melakukan ekspedisi.
Pada Maret 1942 silam, pasangan David dipanggil ke Gedung Putih untuk melaporkan hasil pengalaman tim ekspedisi kepada Presiden Roosevelt. Menurut beberapa ingatan David bahwa ketika mereka melintasi hutan lebat setempat, bertemu dengan suku Indian berkulit putih kebiru-biruan penjaga bawah tanah pintu masuk koridor, dan menemukan petunjuk ke pintu rahasia.
Orang-orang Indian itu segera mengepung tim ekspedisi dalam hutan lebat tersebut, dan dengan isyarat serius menyuruh tim ekspedisi segera pergi. Orang Indian berbicara dengan mereka, dan baru mengetahui bahwa mereka adalah keturunan Suku Maya, mereka adalah salah satu bagian dari suku Indian, yang disebut suku Lacandon.
Masyarakat Lacandon tinggal di dalam hutan lebat, selama beberapa generasi mereka menjaga tempat suci di kedalaman hutan lebat itu, dan di sanalah pintu masuk ke koridor bawah tanah. Mereka tidak mengizinkan siapa pun untuk memasuki area terlarang tersebut.Meskipun David dan isterinya mengklaim tim ekspedisi mereka menemukan pintu masuk koroidor bawah tanah, namun, mereka tidak bisa memasuki terowongan bawah tanah yang dijaga orang Lacandon.
dunia_bawah_tanah
Panjang koridor bawah tanah Pegunungan Andes
Pada Juli 1960, tim ekspedisi Peru pernah menemukan sebuah koridor bawah tanah di pegunungan Andes 600 km sebelah timur Lima, Peru. Panjang koridor bawah tanah tersebut sekitar 1.000 km, yang menembus ke Chili dan Kolombia.
Demi melindungi bekas peradaban kuno itu, dan dengan pertimbangan tingkat teknologi saat ini yang belum mampu melakukan eksploitasi, pemerintah Peru lalu kembali menutup pintu masuk ke terowongan bawah tanah tersebut dan dijaga ketat. Dan oleh UNESCO, tempat itu dijadikan sebagai Situs Warisan Dunia.
Manusia misterius di kawah gunung berapi Shasta
Pada April 1972, tiga mahasiswa dari Berkeley University, AS, mendaki puncak Gunung Shasta yang tingginya 4.318 meter. Itu adalah gunung berapi yang telah bertahun-tahun mati, tiga mahasiswa melihat dari dekat, ada beberapa benda berbentuk piring terbang masuk dan keluar dari kawah gunung berapi. Hal lebih mengejutkan adalah mereka juga melihat lima “orang berkulit putih tinggi” muncul di kawah. “orang-orang berkulit putih tinggi” itu diam sesaat di kawah, lalu dalam waktu yang sangat singkat, mereka kemudian menghilang di balik batu di kawah.
Kota di dalam goa Myanmar
Selama Perang Dunia II, Heber, seorang tentara Angkatan Darat AS terpisah dengan rekannya dalam pertempuran dengan Jepang saat invasi ke Myanmar, dan ditinggalkan dalam hutan di Burma (Myanmar). Suatu hari, tanpa sengaja ia menemukan sebuah goa yang dihalangi oleh batu raksasa. Heber mengambil risiko masuk ke dalam goa, dan di luar dugaan, di dalam goa yang terangnya bak siang hari yang disinari oleh cahaya buatan itu, ia melihat sesuatu yang seolah-olah adalah sebuah kota bawah tanah yang besar.
Heber yang tengah terpaku saat itu tiba-tiba ditangkap, dan disekap selama empat tahun, belakangan ia mencari kesempatan untuk melarikan diri. Menurut dia, terowongan yang mengarah ke kerajaan bawah tanah ini ada tujuh, ada pintu masuk rahasia yang masing-masing tersebar di beberapa bagian lain di dunia.
bumi_berongga_2
Koridor bawah tanah Guatemala
Antonie Verglas orang Spanyol ketika melakukan survei di Pegunungan Andes dekat Guatemala, ia menemukan koridor bawah tanah dengan panjang 50 km. Koridor panjang ini memiliki lengkungan tajam, dan dari bawah tanah bisa menembus ke Meksiko. Tim ekspedisi Inggris juga menemukan sebuah koridor bawah tanah di Pegunungan Madre Meksiko, yang menuju ke Guatemala. Setiap fajar, dapat mendengar suara drum yang bergema dari koridor bawah tanah.
Lubang tak berujung di Namibia
Pada tahun 1992, Asosiasi Goa Afrika Selatan dan komunitas peneliti goa Swiss menemukan sebuah lubang tak berujung yang misterius di Namibia, Afrika, lubang tersebut berada di bawah kaki gunung di semak rimbun utara tengah gurun pasir Namibia.
Di sini airnya meluap dan jernih, sehamparan air luas, tim penyelidik menyelam ke kedalaman hampir 100 meter di bawah air, tapi tidak mencapai dasarnya. Karena tekanan terlalu kuat, sehingga terpaksa naik lagi ke permukaan. Seberapa dalam lubang itu sebenarnya, apakah mungkin itu adalah ujung dari sebuah lubang di bawah Bumi, namun, sejauh ini masih menjadi misteri.
Lubang tak berujung di Perairan Mediterania
Di timur Mediterania, di lautan Ionian dekat Pelabuhan Argostoli, Pulau Kefalonia, Yunani, ada “lubang tak berujung” yang selama berabad-abad terus menerus menghisap air laut secara besar-besaran. Diperkirakan air yang hilang dalam “lubang tak berujung” itu sebanyak 30.000 ton per hari.
Geographical Society Amerika pernah mengirim sebuah tim ekspedisi untuk melakukan investigasi ilmiah di sana. Sejauh ini tidak ada yang tahu mengapa air laut di sana selalu “bocor” tanpa henti dan ke mana perginya, apakah itu bisa menjadi bukti dari bumi berongga ?
Teknologi dunia inti Bumi di Morona
Di kedalaman bawah tanah daratan Amerika Selatan, ada sistem terowongan yang lebih besar, merentang ribuan kilometer. Terowongan besar ini ditemukan oleh arkeolog Argentina Juan Moritz secara kebetulan di Ekuador pada Juni 1965. Terowongan ini terletak di kedalaman 240 meter di bawah tanah, merupakan sistem terowongan yang sangat besar dan kompleks, total panjang diperkirakan 4000 km lebih, dan belum diketahui ke mana ia berakhir.
Pintu masuk rahasia terowongan terletak di Morona, Gualaquiza, provinsi Morona,San Antonio. Saat ini, hanya di wilayah ratusan kilometer Ekuador dan Peru yang telah diselidiki dan diukur. Pintu masuk ke terowongan ini dijaga ketat siang dan malam oleh suku Indian primitif.
Penulis petualangan Jerman von Daniken pernah ditemani oleh orang Moritz masuk ke dalam koridor bawah tanah tersebut, ia terkejut dan terpesona oleh pandangan dalam koridor. Itu adalah sebuah terowongan rahasia dan maha besar yang melampaui kecerdasan modern sekarang, ia menganggap terowongan dibuat dengan ledakan terarah menggunakan radiasi elektron dan kepala bor suhu ultra tinggi berteknologi tinggi serta teknologi yang belum dimiliki manusia sekarang.
Singkatnya, standar teknologi sekarang tidak dapat mencapai tingkat konstruksi koridor terowongan tersebut. Korodior lebar lurus, atap sangat mulus dan rata. Ada aula yang luasnya lebih dari 20.000 meter persegi, pada jarak tertentu muncul lubang ventilasi udara yang panjangnya rata-rata 1,8 - 3,1 m, lebarnya 80 cm. di dalam terowongan masih ada banyak peradaban prasejarah yang aneh, termasuk kitab emas (Golden Book) yang banyak disebutkan oleh berbagai bangsa dalam legenda kuno.
Von Daniken menganggap bahwa itu adalah proyek paling ambisius di dunia kita, juga merupakan penemuan yang terbesar serta misteri yang paling sulit untuk dipacahkan. Dia mengambil beberapa foto dari terowongan, namun ia menolak untuk memberikan rincian lebih lanjut.
Laksamana Angkatan Laut Amerika Serikat bercerita tentang rahasia inti Bumi
Pada 24 Desember 1965, “Catatan Harian Richard Evelyn Byrd” tersingkap, yang mencatat tentang pertemuan ajaib pensiunan Laksamana Angkatan Laut AS dengan peradaban bawah tanah tahun 1947, mereka menentang militerisasi teknologi nuklir peradaban bumi, karena mereka pernah mengalami sendiri dari konsekuensi mengerikan yang meluluh-lantakkan dunia tersebut.
Byrd menulis dalam buku hariannya, tahun 1947 ia memimpin sebuah ekspedisi dari kutub utara masuk ke dalam inti Bumi, dan yang membingungkan, Byrd terkejut karena melihat lembah yang dipenuhi dengan pohon, ada sungai kecil di atas lembah. Di sana adalah Arktik yang seharusnya merupakan dunia es. Selain itu, Byrd juga menemukan sebuah pangkalan UFO yang besar serta tanaman maupun hewan yang telah punah di dunia, di pangkalan UFO tersebut dihuhi oleh “manusia super” yang memiliki teknologi tinggi.
Orang-orang misterius itu memberitahu padanya bahwa dunia bawah tanah ini bernama “Arya”. Pada awalnya mereka tidak ingin berhubungan dengan dunia luar, tapi setelah militer AS menjatuhkan 2 bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, mereka menyadari bahwa senjata yang dikuasai orang-orang di luar dunia tersebut kemungkinan akan menghancurkan seluruh dunia. Maka mereka mengirim pesawat melakukan negosiasi dengan negara adidaya di bumi, tetapi tidak menerima respon positif, sejumlah pesawat juga mendapat serangan dari pesawat tempur.
Manusia misterius tersebut memprediksi jika manusia di atas bumi menggunakan senjata atom, maka dunia daratan kemungkinan akan menujuk ke jalan penghancuran diri, dan tiba saat itu, umat manusia akan kembali memasuki “Abad Kegelapan”.
Setelah kembali ke AS, Richard Evelyn Byrd segera melaporkan petualangan ini kepada pihak berwenang tertinggi Amerika Serikat. Dalam buku hariannya dia terus mencatat keajaiban yang ditemukan : Tanah itu berada di kutub utara, dan wilayah tersebut adalah sebuah misteri besar.
Orang pertama yang mengemukakan teori bahwa kedua kutub bumi memiliki lubang pintu, adalah seorang pemikir Amerika William Reed, ia adalah penulis buku “The Phantom of the Poles”, yang diterbitkan pada tahun 1906. Buku ini menyajikan tumpukan pertama bukti ilmiah, menurut laporan dari penjelajah kutub utara, mendukung teori bahwa bumi berongga dan kedua kutub memiliki pintu masuk.
Reed memperkirakan bahwa ketebalan permukaan bumi adalah delapan ratus mil, sedangkan diameter berongga di dalamnya adalah 6.400 mil. Teori revolusioner Reed, kesimpulannya adalah sebagai berikut : “Bumi itu berongga, sedangkan kedua kutub itu hanya namanya saja, tidak berisi. Pada titik paling utara dan selatan, ada sebuah lubang masuk. Di pusatnya, ada beberapa daratan, lautan dan sungai yang luas. Di dunia baru tersebut, tumbuhan dan hewan sangat mencolok mata, dan mungkin dihuni oleh manusia yang tidak diketahui oleh manusia di permukaan Bumi.”
Menurut fisikawan Rusia Fedor Nevolin, bahwa ketika bumi baru mulai terbentuk, ia adalah segumpalan es dingin besar yang mengambang di alam semesta, di bawah pengaruh sinar matahari dan energi kosmik, ia mulai menjadi lava panas, kemudian secara perlahan-lahan mulai membeku, pada permukaan bumi terbentuk lapisan batu keras, tetapi lava di bawah lapisan batu tetap bertahan pada kondisi panas, magma yang kena panas terus mengembung, membentuk difusi gas dan tersebar di luar Bumi, setelah mengembung dan difusi selama miliaran tahun kemudian, inti bumi sebenarnya telah menjadi sebuah “tempurung raksasa”.
Nevolin menuturkan, bahwa pintu utama penyebaran atmosfer dalam skala besar terletak di kedua kutub utara dan selatan, hingga saat ini di sana masih bisa melihat dengan jelas “lubang gua yang besar”, dan itu adalah bukti jelas geologis.
bumi_berongga_3
Argumen teori bumi berongga
1. Tidak ada buktibahwa bumi itu padat
Sekarang tidak ada mesin bor apa pun yang dapat mengebor sampai ke pusat Bumi, jadi semuanya hanya berdasarkan dugaan. Para ilmuwan mencoba menggunakan seismik untuk membuktikan bahwa bumi itu padat, tetapi gelombang seismik akhirnya menyebar ke samping bukannya menuju ke pusat inti, jadi tidak berdasar kalau dikatakan bumi itu padat.
2. Bumi pasti berongga.
Sekarang para ilmuwan menduga bahwa pusat bumi adalah dari besi cair dan nikel, tetapi besi dan nikel adalah objek dengan kepadatan besar, meskipun berbagai lapisan terhadap gravitasinya adalah nol, tapi masih ada gravitasi matahari dan bulan serta gaya sentrifugal dari rotasi Bumi, dimana benda-benda ini pasti akan meninggalkan geosentris. Jadi bumi itu pasti berongga.
3. Kedua kutub masing-masing memiliki pintu masuk
Dalam pembuktian dari misteri bumi berongga, yang paling meyakinkan adalah empat foto Arktik yang berasal dari ruang angkasa.Tapi setelah dua tahun sejak foto itu diambil belum ada tanggapan serius, sampai akhirnya ditemukan oleh seorang peneliti dan dipublikasikan ke publik. Foto Arctik yang diambil adalah salah satu bukti penting dari bumi berongga.
4. UFO sering muncul di kedua kutub
Pada zaman prasejarah yang jauh, siapa yang membangun terowongan skala besar geosentris ini? dan siapa yang meninggalkan harta pusaka dalam terowongan inti bumi? Mungkin masih harus menunggu eksplorasi dari umat manusia.

Pertempuran dengan UFO


Mengungkap Fakta Rahasia Mengerikan : Pertempuran dengan UFO
Lampu sorot dan artileri membuat langit malam Los Angeles menjadi terang bagaikan siang hari.
Mantan perwira Angkatan Udara AS mengungkapkan, “Alien menaruh perhatian pada senjata nuklir manusia.”
Pada 27 September 2010 lalu, UFO dan ahli senjata nuklir Robert Hastings mengadakan konferensi pers diNational Press Club, Washington, AS, dengan tujuh mantan perwira Angkatan Udara AS, mereka menuturkan, bahwa dengan berdasarkan pengalaman pribadi di pangkalan rudal nuklir Angkatan Udara Amerika Serikat, mereka menyaksikan keberadaan UFO dan peristiwa ditutupnya sistem rudal mereka.
Mereka menyatakan tentang adanyakehidupan lain dari planet lain di bumi, dan kebenaran tentang UFO adalah fakta yang perlu diketahui orang-orang di setiap negara di dunia karena memiliki hak untuk mengetahuinya, mereka juga meminta pemerintahan Obama agar mengungkapkan fakta sebenarnya kepada dunia.
Pertempuran di LosAngeles : Invasi UFO
Dini hari pada tanggal 25 Februari 1942 silam, kurang dari 3 bulan setelah peristiwa Pearl Harbor, pernah terlihat obyek terbang tak dikenal atau UFO terbang berputar di atas langit wilayah Santa Monica, Los Angeles, sehingga menarik militer dalam pertempuran, menembakkan hampir dua ribu peluru meriam dalam dua jam. Lampu sorot dan tembakan artileri membuat langit malam di kota Los Angeles itu bagaikan siang hari.
Tapi setelah fajar, orang-orang menemukan selongsong peluru dimana-mana, tidak ada benda apapun yang ditembak jatuh. Meskipun surat kabar setempat menyatakan bahwa itu adalah pesawat Jepang, tapi lebih banyak yang percaya kalau yang muncul pada malam itu adalah UFO.
Militer AS menemukan “darah hijau”seusai bertempur dengan makhluk asing
Puerto Rico adalah sebuah wilayah otonom Amerika di kawasan Karibia, nama resminya adalah “The Commonwealth of Puerto Rico”. Menurut laporan situs ufoarea, militer AS pernah menangani banyak kasus alien di Puerto Rico, menurut keterangan saksi mata, pernah berulang kali melihat makhluk asing berdarah hijau.
Malam pada tanggal 19 Februari 1984 silam, menurut laporan sejumlah media saat itu, ada UFO yang jatuh di Hutan El Yunque,PegununganLoquillo Puerto Rico. Namun pemerintah AS menyangkalnya. Terbetik berita, bahwa mayat makhluk asing berikut UFO ketika itu diangkut dari Puerto Rico ke Amerika oleh pihak militer dan personil keamanan. Menurut pengungkapan pribadi seorang pejabat militer AS di Puero Rico, bahwa di kawasan hutan lebat di laut Karibia, militer AS memiliki sebuah tim khusus yang diberi misi rahasia, yang terdiri dari 15 prajurit dan tiga perwira, ditambah dengan anggota dari divisi lain.
pesawat_ufo
Tujuh perwakilan menceritakan tentang pengalaman mereka yang menyaksikan UFO
Siang pada 12 November 2007 silam, di gedung National Press Club, Washington, AS, mantan pejabat senior pemerintah dan pilot serta pejabat militer dari Perancis, Inggris, Belgia, Chili, Peru, Iran dan Amerika, menceritakan tentang pengalaman mereka mengadakan kontak dengan UFO dalam jarak dekat.
Parviz Jafari, jenderal dari angkatan udara Iran mengatakan, bahwa pada 18 September 1976 pukul 23:00 malam waktu setempat, sebuah obyek terbang tak dikenal tiba-tiba melayang di atas langit ibukota Teheran, Iran.  Komandan angkatan udara Iran segera mengirim jet tempur F-4 untuk menyelidiki. Ketika pilot jet pertama mendekati obyek bercahaya tersebut, sang pilot kehilangan kontak dengan stasiun di darat, sehingga terpaksa terbang kembali ke pangkalan. Sekitar 10 menit kemudian, Jafari menerbangkan jet tempur kedua mencoba mendekati objek terbang asing yang bercahaya itu.
“Saya mendekati obyek itu, namun, cahaya merah, hijau, oranye dan biru yang berkedip itu sangat menyilaukan mata, sehingga membuat saya sama sekali tidak bisa melihat obyek itu dengan jelas. Kilauan cahaya itu ekstrem cepat, seperti lampu flash. Ada sekitar empat obyek dengan bentuk yang tidak sama masing-masing berpencar di sekeliling obyek utama itu. Ketika obyek terbang asing itu mendekati pesawat tempur saya, senjata saya macet, kontak radio juga menjadi kacau,” ungkap Jafari.
Sementara itu, Jean Claude Duboc, mantan kapten Angkatan Udara Perancis menuturkan, bahwa pada 28 Januari 1994, di atas pesawat penumpang Perancis dengan nomor penerbangan 3532 yang terbang dari kota pelabuhan Nice, Perancis menuju London, Inggris, ia dan beberapa anggota kru pesawat melihat sebuah UFO di sekitar langit kota Paris Perancis.
Jean Claude menjelaskan, “Obyek itu terlihat seperti sebuah piring terbang raksasa, kami mengamati lebih dari satu menit dari sisi kiri pesawat, diameter permukaannya sekitar 1.000 kaki, rasanya bisa dibandingkan dengan diameter bulan atau matahari. Tapi, yang sulit dipercaya adalah, benda maha besar itu tiba-tiba lenyap tak berbekas hanya dalam tempo sekitar 10 – 20 detik.” 
serangan_UFO
Sementara itu, pada tahun 1988, Rodrigo Bravo, kapten dari Angkatan Udara Chile, ketika sebuah pesawat Boeing 737 mendekati landasan pacu Puerto Montt, Chile, pilot pesawat tiba-tiba melihat segumpalan cahaya putih, yang dikelilingi oleh cahaya hijau dan merah. Gumpalan cahaya itu langsung melesat ke moncong pesawat,  menyadari hal itu, sang pilot terpaksa segera mengubah haluan, untuk menghindari tabrakan. Petugas di menara kontrol bandara juga mneyaksikan pemandangan yang menegangkan itu.
Pada 11 April 1980, ketika para pilot berbaris di sebuah pangkalan udara di kota Arequipa, selatan Peru, mereka melihat sebuah obyek terbang asing di angkasa. Karena di pangkalan tersebut merupakan zona larangan terbang, Oscar Santa Maria, pilot dari AU Peru mendapat perintah untuk segera menerbangkan pesawat tempur SU-22 dan menembak jatuh obyek bercahaya asing itu.  
Maria menuturkan, “Saya menembakkan 64 peluru meriam ketika mendekati obyek itu. Beberapa peluru melesat ke permukaan, dan sejumlah peluru lainnya mengenai obyek itu, namun, sama sekali tidak efektif. Ketika berjarak sekitar 300 kaki dari UFO itu, saya bisa pastikan diameter obyek itu sekitar 30 kaki, disertai dengan kubah bulat putih, bagian bawahnya luas terbuat dari logam, berbentuk bundar.
Menurut keterangan Maria, UFO tersebuttidak dilengkapi dengan mesin, tidak ada sistem pembuangan, tidak ada jendela, tidak ada sayap, juga tidak ada antena. UFO tidak memiliki komponen dasar dari semua jenis pesawat pada umumnyua di bumi, juga tidak tampak adanya sistem propulsi.
Pada saat itu, Maria baru menyadari itu bukan pesawat mata-mata, tapi piring terbang. Karena pesawat Maria hampir kehabisan bahan bakar, sehingga ia harus mempercepat untuk kembali ke pangkalan. Setelah mendarat, UFO itu kembali berhenti sekitar 2 jam di pangkalan udara, sementara semua personel di atas pangkalan itu telah menyaksikannya.
April 2006, Ray Bowyer, kapten pesawat sipil dari Aurigny Air Services, Inggris, melihat dua UFO di atas langit kawasan kepulauan Channel, selat Inggris, ia mengamati sekitar 15 menit dalama jarak 55 mil dari obyek terbang asing itu.
Jean-Claude Ribes, pilot Perancis pernah menyerahkan sebuah laporan penyelidikan militer terkait UFO dan keamanan nasional kepada organisasi militer Perancis COMETA. Jean-Claude Ribes mengatakan, “Menurut saya pribadi, fenomena terkait UFO seyogyanya menjadi perhatian serius, melakukan penelitian tanpa purbasangka sedikitpun. Barangkali ada beberapa penjelasan yang memungkinkan, seperti misalnya fenomena atmosfer langka dan fenomena lainnya, tapi beberapa hal menunjukkan secara jelas bahwa ciri-ciri yang dimiliki pesawat yang nyata itu di luar kemampuan kita.”
Makhluk angkasa luar mengincar genom manusia yang sempurna
Meskipun ada sejumlah besar bukti dan kesaksian, tapi bagi sebagian besar orang, UFO, alien tak lebih hanya berupa bahan lelucon di kala senggang. Sehubungan dengan ini, pakar UFO menuturkan, bahwa sikap  pemerintah dari setiap negara terkait UFO itu sangat serius, tapi sengaja disembunyikan pada publik. “UFO juga memiliki sisi politiknya.”
Pemerintah AS khawatir, UFO akan memicu kepanikan mayarakat
Pada tahun 80-an abad ke-20, John J Callahan menjabat sebagai kepala departemen investigasi dan penilaian insiden di US Federal Aviation Administration (FAA) selama enam tahun. Callahan pernah mengusulkan kepada pejabat CIA untuk mengumumkan kepada publik bahwa UFO pernah mengunjungi kita. Tapi petugas CIA memberikan tanggapan, “Jangan pernah melakukan itu, jika kita mengatakan kepada publik Amerika tentang keberadaan UFO, maka mereka akan panik.”
Jika pemerintah AS khawatir publik akan panik setelah melihat UFO, lalu, mengapa manusia bisa merasa takut terhadap UFO misterius dari luar angkasa itu ? Karena perancang UFO dan tingkat teknologi pengguna jauh melampaui tingkat kemampuan manusia bumi saat ini, atau konsep pengetahuan orang-orang yang melekat terhadap ruang alam semesta itu secara tiba-tiba mendapatkan pukulan yang tak terlawan, bahkan merasa panik dan ketakutan? Saat para ilmuwan menjelajahi UFO, maka hal-hal terkait ini juga layak untuk direnungkan bersama.

Jumat, 07 November 2014

Kiprah Pasukan Rajawali TNI di Aceh ( A True Story Part II)


Bukit Tengkorak
SAAT bergabung dengan pasukan Rajawali awal Oktober silam, seorang sersan satu dari Grup I Kopassus (Serang) mendekati saya. Dia tahu saya belum punya kawan hari itu. Di sela-sela obrolan, saya tanya bagaimana rasanya tujuh bulan tugas di Aceh. Saya sebenarnya ingin menggali sindrom “mata kuning” di kalangan serdadu yang telah enam bulan lebih di medan tugas. Dengar-dengar, kalau kena penyakit itu, sapi pun akan terlihat cantik. Tapi jawaban yang saya dapatkan lain. “Biasa saja,” katanya, “Di sini itu perangnya (seperti) perang-perangan. Tapi kalau mati, mati beneran.”
Soal perang-perangan itu ada benarnya. Saya pernah mendatangi sebuah rumah yang menjadi saksi bisu perang TNI dan GAM. Rumah itu rumah seorang transmigran Jawa yang tak lagi berpenghuni di Sarana Pemukiman I, Alue Peunyareng, Meurebo.
Di dindingnya ada banyak tulisan. Isinya tantangan dan sumpah serapah TNI untuk GAM. Di tempat yang sama, GAM juga menorehkan tantangan dan cemoohannya.
Saya tak tahu siapa yang memulai. Tapi saya kira, kemarahan serdadu Indonesia dipicu tulisan arang di dapur rumah itu:
“I Paie Alias Anjing Jalanan. I Paie Sulid orang. (Orang)nya mati dibilang tidak mati …. mati 20 orang dibilang lecet …. TNI Cumak Ngomong yg bisa. Rakyat dia tahu yang salah dgn benar! TNI takut pada GAM. Kalau TNI Tidak takut pd GAM tidak perlu pi gi ramai2. GAM tak takut …. TNI Cari Uang ke Aceh. Honda orang diambi. Punya sendiri tak ada. TNI Budak orang.”
Balasannya …. oh mak, sampai memenuhi tembok di rumah itu, luar dan dalam.
Ini sebagiannya: “GAM. Gerakan Anak Murtad. Juragan Babi Tgk. Syafei. Linud 700/Kombet …. Yonif 521 siap menumpas GAM (Gerakan Anak Murtad) ….. Kalau memang GAM jangan nembak dari jauh, tho!!! …. GAM ….!!! Cantoi, jelas kamu hanya pengisap keringat rakyat dan kamu tak ada bedanya dgn pacet ….. Bacalah ini wahai GAM. Semoga kamu sadar …. GAM pengecup!!! Habis nembak lari. Pemerkosa, perampok, anjing, babi, monyet!!!”
Tapi ada juga yang nadanya kalem. Ada yang menuliskan beberapa penggalan ayat al-Quran yang intinya menyerukan perlunya semua muslim saling menyayangi. Saya kira yang menulis itu berharap ada GAM yang tergerak hatinya dan bertobat setelah membaca tulisannya.
Perang-perangan juga berlangsung di udara. Di radio frekuensi umum, GAM dan serdadu Indonesia seolah berlomba memasukkan beberapa hewan penghuni kebun binatang ke situ.
“Jangan begitulah, Bang. Kita perang, tapi tidak usah di radio,” kata suara di seberang sana.
“Memang kau GAM, anjing, babi!”
Kadang GAM juga yang memulai: “Danki (komandan kompi) apa kamu ini. Tadi saya minum kopi di kedai depan posmu. Sama anak buahmu! Kamu tidak tahu, yah? Makanya kalau ada orang lihat-lihat.”
Balasannya: “Kamu ke sini aja, Anjing! Saya tunggu sekarang kalau berani!”
Tapi sepertinya belum pernah ada yang mengalahkan rekor perang-perangan pasukan Rajawali dari Yonif Linud 432/Kostrad (Makassar) di Bukit Tengkorak medio Mei silam.
Awalnya, saat berkenalan, seorang serdadu Kostrad dari Batalyon 433 seperti menyesalkan kenapa saya tak datang meliput pasukan lebih awal.
“Dulu waktu di Bukit Tengkorak …. oh mak ….,” prajurit itu tak menyelesaikan kalimatnya. Dia hanya memeragakan memiting leher dengan tangan kanan seolah sedang menggoroknya leher seseorang.
“Sayang Abang terlambat. Sekarang ini sudah sepi,” sambungnya.
Saya jadi tertarik menggali adegan mirip-mirip Mel Gibson menggorok leher musuhnya dalam film Braveheart itu. Suatu hari sebelum ikut penyerangan bersama Pasukan Rajawali ke wilayah Patek, saya menyempatkan mewawancari belasan serdadu yang ikut operasi di Bukit Tengkorak. Ada banyak versi cerita dari beberapa kali wawancara dengan orang-orang yang sama. Tapi garis besarnya sama:
10 Mei 2002-Sekitar 60 orang serdadu yang terbagi ke dalam tiga tim berangkat dengan berjalan kaki dari Lhoksari menuju Bukit Tengkorak. Sebelum berangkat, prajurit Yonif Linud 700 sudah memperingatkan bahaya yang akan menghadang. Di puncak bukit, kabarnya, GAM telah memasang senapan mesin berat 12,7 milimeter.
Pasukan bergerak jam dua malam dan baru sampai pada sasaran saat terang-terang tanah. Letnan Dua Daulat Marpaung memimpin tim terdepan.
Di depannya kini berdiri dua bukit kecil setinggi 15 meter. Ada jalan beraspal yang memisah kedua bukit itu. Satu relatif gundul, sana sini ditumbuhi semak-semak. Satunya lagi ditumbuhi lumayan banyak pohon karet muda.
Marpaung tak melihat ada tanda-tanda aneh di bukit itu. Burung-burung silih berganti datang dan pergi.
“Majuuu!” Sekitar 20 orang serdadunya menyelaber kedua bukit. Kosong tak ada apa-apa. Ternyata cuma onggokan dua bukit kecil saja!
Sekitar pukul tujuh pagi, Komandan Kompi Yonif 433 Kapten Tumiko Susanto memerintahkan Marpaung membawa serdadu masuk untuk memeriksa keadaan di Seumara, sekalian menggali informasi intelijen yang menyatakan banyak simpatisan GAM di situ.
Seumara jaraknya kurang 100 meter dari tempat pasukan berdiri. Sekitar 10 meter dari jalan yang membelah bukit, ada jembatan sepanjang empat meter yang mengantar ke perkampungan di sana.
Marpaung berangkat. Semuanya 13 orang. Begitu masuk desa, dia melihat anak-anak muda dan ibu-ibu berkumpul di depan-depan rumah. Bukankah ini jam bertani?
Marpaung meneruskan langkahnya ke rumah keuchik. Begitu sampai, dia memperhatikan seorang pemuda gelisah, mondar-mandir depan rumah keuchik. Ada serdadu yang iseng menyuruhnya mengambil kelapa. Dia menolak. “Saya tidak bisa manjat,” katanya.
Di rumah keuchik, Marpaung mulai gelisah. Terutama setelah melihat sekelompok anak muda sibuk membabat rumput dekat rumah keuchik. Seorang serdadu juga merasakan hal serupa. Dia tak tahan lagi.
“Kau Pak Keuchik,” katanya setengah menghardik, “Sempat ada tembakan sebentar kau yang pertama saya babat.”
Eh, Kapten Tumiko turun ke kampung juga. Dia ingin bertemu langsung dengan keuchik di situ.
“Kamu lapar?” Tumiko bertanya ke Marpaung yang memang sedari pagi belum sarapan. Tumiko mengusulkan merebus mi di rumah keuchik yang sudah menawarkan kopi.
“Nggak usah. Nggak usah,” jawab Marpaung cepat, sembari menatap wajah komandannya dalam-dalam. Dia ingin mengisyaratkan kegelisahannya. Komandan itu akhirnya paham.
Pasukan kembali ke bukit dengan langkah terburu-buru. Beberapa di antaranya berjalan dengan sesekali melihat ke belakang. Seolah akan ada sesuatu.
Sesampainya di bukit, pasukan makan siang. Sembari beristirahat, mereka membicarakan sejumlah keanehan di desa tadi. Menjelang pukul empat sore, ada serdadu yang menyeduh kopi. Marpaung memperingatkan serdadu yang istirahat di bukit. “Eh hati-hati. Kampung sepi sekali. Nggak ada orang.”
Rencananya, pasukan akan bermalam dan keesokan harinya melanjutkan perjalanan ke Pante Ceuremeun. Tahu akan bermalam, Prajurit Satu Bakri dan beberapa serdadu lainnya mulai melepas sepatu. Tiba-tiba datang tembakan dari desa.
“Dududung-dudung-dudung-dududung.” Rentetan senapan AK-47 ke arah bukit mengagetkan seluruh pasukan.
Peluru berterbangan di atas kepala.
Dalam hitungan menit, semua serdadu di bukit tiarap sambil berusaha melindungi kepala, khawatir kejatuhan ranting-ranting kayu yang patah akibat hantaman peluru.
Tembakan setidaknya dari tiga penjuru: dari rumah-rumah penduduk sekitar 70 meter di bawah sana; dari tanggul persawahan sekitar satu kilometer di depan bukit pertama; dan dari rawa-rawa di depan bukit kedua.
“Dududung-dudung-dudung-dududung.” AK terus menyalak.
Selama dua bulan di Aceh, baru kali ini Rajawali 432 mendengar desing amunisi GAM. Prajurit Kepala Hamka yang berada di balik bukit pertama langsung menyembunyikan kepalanya. Dia baru berani mengintip setelah ada jeda tembakan. Mungkin mereka lagi mengisi magasin.
Orang di bukit mulai membalas. Kapten Tumiko memperingatkan pasukannya agar tetap merunduk. Dia tak ingin satu pun anak buahnya celaka.
“Tunduk kamu …. tunduk! Heeeeee …. tunduk kamu! Tunduk!”
Peringatan itu tak banyak berbekas. Beberapa serdadu yang telah mengatasi kekagetannya mulai membalas tembakan.
Tembakan kian menjadi, dari bawah dan atas bukit.
Kapten Tumiko tak henti-hentinya menyuruh serdadu yang berada di bukit kedua untuk merunduk dan menghitung amunisi yang keluar.
“Hitung amunisi. Hitung amunisi.” Perintahnya setengah berteriak.
Baku tembak itu berlanjut hingga pukul tujuh malam. Malam itu semua orang di bukit siaga. Pasukan dibagi. Satu tim di bukit pertama, satu tim di bukit kedua. Di bukit pertama, dipasang tiga Minimi, satu GLM, dan dua SS-1. Satu tim lagi bertahan di bukit kedua yang lebih luas. Tim ketiga dipasang di pebukitan yang sesisi dengan bukit pertama.
Menjelang pukul 10 malam, Kopral Satu Irfan K.N. mengusulkan kepada rekan-rekannya untuk mendirikan tenda. Langit mendung. Usulnya tak digubris. “Rajawali tak perlu tenda,” kata seorang rekannya. Irfan mulai mempersiapkan ponconya. Siapa tahu hujan. Eh, hujan betul. Sekitar pukul 10 malam hujan keras diiringi kilat mengguyur seluruh pasukan. Beberapa serdadu di bukit pertama merapat-rapatkan badannya ke ponco Irfan. “Katanya Rajawali tak perlu tenda,” kata Irfan menyindir.
Tak ada tembakan hingga pagi harinya.
Begitu terjaga, Marpaung menyuruh bawahannya bergegas sarapan. Dia tak ingin dikagetkan oleh tembakan lagi saat makan. Beberapa serdadu mulai merebus kopi. Tapi belum sempat mencicipi, AK sudah menyalak dari desa.
Awalnya pelan. Lalu, “Dududung-dudung-dudung-dududung.”
Seorang serdadu yang jengkel belum sempat menghirup kopinya berteriak kesal: “Ooii, belum sarapan!”
Ajaib. Tembakan berhenti. GAM sepertinya sarapan juga.
Berselang sebentar, baku tembak kembali berlangsung. Dari desa pagi itu, sebuah teriakan terdengar hingga ke bukit: “Paiiii, lonte kamu! Turun kamu kalau berani. Mana Rajawalimu!?”
Mendengar itu, seorang serdadu berbisik ke temannya. “Itu pasti mantan tentara. Pasti pernah melonte.”
Baku tembak berlanjut
Tapi pagi itu, orang-orang di bukit banyak yang penasaran dengan pria setengah baya yang berdiri telanjang dada mengenakan ikat kepala putih menenteng AK dan jalan mondar-mandir di persawahan sekitar 70 meter di bawah sana. Mungkin ada 10 laras di bukit mengarah ke sana.
Koptu Irfan termasuk yang menyasar lelaki itu. “Tang-tang.” Lelaki berbadan bongsor itu masih berdiri di sana. Entah ke mana proyektilnya lari.
“Tang-tang. Tang-tang. Tang-tang.” Tak kena juga. Lelaki itu malah berjongkok di persawahan, merokok, dan memperhatikan orang yang sibuk menembakinya dari atas bukit.
Irfan dongkol luar biasa. Apa salah senjata? Dia mencoba membidik sebuah batang pinang di dekat pria itu. “Tang-tang.” Kena. Senjata yang sudah 14 tahun disandangnya itu, sejak pangkatnya masih prajurit dua, kembali diarahkannya ke lelaki itu.
Sasaran sudah selurus pisir dan pijera. Pasti kena.
“Tang-tang.” Tetap tak kena. Tak sedikit pun lelaki itu bergeming. Bagaimana bisa? Padahal saat latihan, tak satu pun pelurunya yang melenceng dari lesan jarak 300 meter.
Irfan penasaran habis. Dia kembali membidik, menembak, membidik, menembak …. hingga 30 butir peluru di magazen habis. Pria itu masih sehat berdiri di situ.
Apa yang salah? Irfan tak habis pikir. Prajurit Satu Asri lebih penasaran lagi. Dia salah satu penembak runduk (sniper) terbaik di batalyonnya. Tapi, sama saja, tak satu pun bidikannya yang kena.
“Memang monyet itu orang. Seumur hidup saya ndak akan lupa,” kata Irfan mengingat kejadian itu pada saya.
Irfan masih tak puas. Dia ingin melihat reaksi pria itu ditembaki TP. Kebetulan, dia membawa TP Anti-Tank. Sudut elevasinya sudah diatur tepat. “Siiiiiuuutttttt …. blanggggggg.”
Dari tempatnya berdiri, Irfan dapat merasakan tanah di kakinya bergetar.
Tujuh puluh meter di depan sana, lelaki itu masih berdiri menenteng AK di tempatnya semula. TP yang ditembakkan Irfan mengenai pohon pinang sekitar satu meter dari tempat pria bercelana hitam itu berdiri.
TP meledak di atas kepalanya tapi dia tidak lari? Kurang apa lagi? Sudah pisir pijera …. kenapa? Apa salat tahajud malamnya?
Dia perlahan mundur dan berlindung di balik tumpukan batang kelapa.
Hamka menyasar perlindungan itu dengan GLM.
“Ciiiuuuu …. blang.” Hamka menikmati suara granat yang lepas dari moncong senapannya dan menggelegar begitu menyentuh tanah.
“Makan itu GAM,” teriaknya dari atas bukit.
Dia terus menghantamkan granat ke beberapa titik asal tembakan. Satu kali dia mendengar ada yang berteriak “Allahu Akbar!” Hamka yakin ada yang kena.
Tiga pucuk Minimi di atas bukit tak mau ketinggalan. Mereka yang tiarap di balik bukit kedua juga terus membalas tembakan.
Baku tembak berlanjut hingga sore hari.
Malam harinya, hujan dan halilintar menyambar-nyambar. Banyak serdadu yang basah kuyup karena tak membawa ponco. “Memang jadi ilmunya GAM,” kata seorang serdadu yang percaya hujan dua malam itu “kiriman” GAM.
Menjelang subuh hari ketiga, Daulat Marpaung memimpin 25 orang serdadu masuk ke desa. Dia ingin memenuhi tantangan GAM.
Ketegangan tampak di wajah mereka yang ditunjuk. Bagaimana jika GAM telah menanti?
Dua orang prajurit ditunjuk jadi voor spiets. Pasukan jalan sangat lambat. Nyaris merayap. Selangkah berhenti. Selangkah berhenti. Mereka bergerak rapat. Setiap kali akan melangkah, orang yang di depan menepuk pundak orang di belakangnya.
Saat mendekati jembatan, seorang prajurit satu sudah tahu apa yang harus dilakukannya sebagai voor spiets. Dia harus mengecek kemungkinan GAM telah menanam bom di situ. Tangannya meraba-raba aspal jembatan hingga menyentuh sebuah benda. Panas. Tapi kok ….? “Pukimae!” Dia bersungut-sungut menyumpahi tahi sapi yang dipegangnya.
Begitu terang tanah, mereka sudah di desa tanpa diketahui siapa pun.
Seisi kampung sudah mengungsi. Pasukan leluasa menggeledah rumah-rumah yang mereka curigai.
Di sisi kanan jalan, Hamka melihat seseorang menenteng AK.
“Batiiiiii,” bisiknya memanggil seorang bintara pelatih di dekatnya, “GAM! GAM!” Hamka menunjuk-nunjuk orang yang berdiri sekitar 70 meter di depan sana.
“Bagaimana? Saya tembak?” Hamka memain-mainkan telunjuknya di picu. Izin tak keluar. Komandannya ingin tangkapan banyak.
Sayang, tim yang bertugas menggeledah rumah di sebelah kiri berisik. Bunyi tendangan pintu rumah keuchik sampai ke telinga orang itu. Dia baru sadar kalau pasukan sudah masuk ke desa.
Baku tembak dari jarak dekat tak terhindarkan. Pemisahnya hanya halaman rumah dan sedikit persawahan. Dari pagi hingga sore.
Pasukan bertahan di desa hingga hari keempat. GAM sudah mundur. Kabarnya berkekuatan 70 orang. Sebagian yang mereka lihat menggunakan seragam loreng dan hitam-hitam. Ada yang meyakini kalau yang berpakaian loreng itu dari Pidie sementara yang hitam didikan Libya dari wilayah Jeuram.
Pada hari keempat, logistik habis. Tak ada lagi yang punya biskuit atau nasi kaleng. Terpaksa, TB-3 dimainkan. TB-3 adalah istilah serdadu untuk kelapa milik penduduk. Pasukan akhirnya kembali ke Lhoksari pada 14 Mei 2002.
Sehari setelahnya, mereka membaca di Serambi Indonesia keterangan seorang juru bicara GAM kalau ada sembilan orang tentara yang tewas dalam pertempuran di Bukit Tengkorak.
Sekitar setengah bulan setelah pendudukan itu, pasukan kembali ke Bukit Tengkorak. Bukit itu kini sudah gundul. Pengakuan beberapa penduduk, GAM mengerahkan warga desa sekitar untuk membabat pepohonan di situ.
Masuk Kolam Ikan
TENTARA punya istilah khas berburu GAM di hutan-hutan Aceh: masuk kolam mencari ikan. Sekiranya diizinkan ikut, saya diminta menyiapkan perlengkapan standar masuk kolam seperti matras, ransel serbu, shebo, kaos tangan. Paling tidak, saya harus berbaju dan bercelana gelap.
Tapi dari semua itu, demi keselamatan, saya disarankan meminjam rompi antipeluru. Tentara biasanya punya cadangan. Memakainya akan membuat orang merasa aman. Ini juga bagus dipakai supaya kita tak terlihat seperti bondo nekat masuk hutan.
Ada dua lempengan baja di rompi itu. Satu letaknya di depan dada dan satu di punggung. Masing-masing beratnya 10 kilogram. Saya selalu mencopot lempengan baja di punggung. Terlalu berat. Kalau matahari menyengat, lempengan-lepengan itu akan berubah seperti setrika. Saat hujan, ia berubah seperti balok-balok es. Dingin, menusuk tulang.
Pertama kali mencobanya, perut saya sakit. Serasa mau kencing tiap menit. Pasalnya, lempengan baja di dada itu menekan-nekan perut. Saya terlalu tegang untuk memeriksa kalau lempengan baja di rompi itu bisa disetel-setel posisinya. Posisi yang benar adalah menyejajarkan bagian atas lempengan baja dengan tulang dada.
Banyak serdadu yang juga mencopot pelat baja belakang. Beban mereka sudah berat. Jika masuk kolam selama 15 hari, di punggung mereka menggantung ransel 25 kilogram-untuk mudahnya, bayangkan Anda menggendong segalon air selama dua minggu. Itu ditambah SS-1 yang beratnya sekitar lima kilogram. Yang membawa Minimi lebih siksa lagi. Senapan otomatis itu beratnya sampai 15 kilogram.
Sekali waktu saya sempat keki berurusan dengan rompi itu. Ceritanya, kami lagi mengendap di pinggir hutan karet. Saya gerah dan ingin melonggarkan rompi yang melilit badan. Perekatnya saya lepas pelan-pelan. Kraakkkkkkkkkkk …. kraakkkkkkkkkkk …. kraakkkkkkkkkkk ….. Semua mata tertuju ke saya hingga rompi tanggal dari badan. Dengan isyarat dari jauh, seorang letnan dua mengajari saya cara melonggarkannya tanpa harus membangunkan seisi hutan.
Soal makanan selama masuk kolam, saya diminta tak khawatir. Tentara punya aneka ransum. Saya paling suka dengan TB-1. Satu kotak isinya 12 keping biskuit kering. Ini makanan perang bintang tiga kendati ada serdadu dari Makassar yang menyamakannya dengan kanre kongkong (makanan anjing). Rasanya memang anyep. Tapi makan pagi sebiji saja, perut sudah bisa terganjal sampai sore.
Biskuit ini pas dengan teh panas. Praktis dibawa ke mana-mana. Sekali jalan ke hutan, saya sanggup menghabiskan sekotak. Medio September silam, saya terkejut membaca informasi yang tertera di kemasannya. Biskuit yang saya makan dan dibagikan ke seluruh serdadu di Aceh Barat ternyata “Produksi Bulan Juli 2001. Berlaku sampai Juni 2002 …. jangan dimakan bila terdapat kelainan warna, bau, rasa, dan berjamur.”
Serdadu-serdadu itu banyak yang tak memperhatikan kalau itu sudah kadaluwarsa. Atau mungkin tahu tapi tak acuh. Mau apalagi kalau perut lapar dan sudah tak ada yang bisa dimakan?
Saya juga suka dengan ransum yang namanya T2FD. “Nasi bantal” istilah sebagian serdadu. Kalau nasi di dalam plastik kemasan itu-ada rasa soto ayam, ada rasa gule-disiram air panas dan dibiarkan tertutup hingga 15 menit, plastiknya akan menggelembung seperti bantal bayi. Enak dimakan panas-panas. Tapi jaga-jaga saja. Soalnya kalau (maaf) kentut, baunya sengit. Entah kenapa.
Tapi selapar apapun di dalam kolam, saya tak pernah tertarik menyentuh yang namanya TB-2. Ini nasi kalengnya tentara. Macam-macam jenisnya. Ada rasa gudeg, ada rasa kari ayam pedas. Masing-masing dikemas dalam kaleng seukuran mi cepat saji. Sebelum dimakan, sebaiknya direbus atau dibakar dulu. Biar enak melewati di tenggorokan.
Biar begitu, rasanya tetap …. yakkkk. Ada serdadu yang baru mencium baunya sudah muntah. Saya hanya tahan dua suap. Sudah itu, rasanya di tenggorokan baru bisa hilang setelah disiram kopi seharian.
Hanya segelintir serdadu yang senang makan TB-2. Saya mengenal seorang serdadu Rajawali yang sanggup menghabiskan ransum itu sekali duduk dengan beberapa teguk air minum.
Mungkin dia terbiasa. Dia dua kali ditugaskan di Timor Timur dan dua kali di Papua. Pangkatnya masih kopral satu. Umurnya 34 tahun. “Mungkin saya yang paling tua di tamtama,” katanya, “Tapi semangat boleh lawan. Saya ndak mau kalah. (Junior) harus malu kalau koptu bisa naik gunung sementara prada loyo-loyo. Saya kasih malu mereka itu kalau sudah di atas.”
Suatu malam, saya ikut gerak bersamanya ke pelosok Patek, sekitar 130 kilometer dari Banda Aceh. Gerakannya lincah, tapi senyap. Sepertinya dia punya mata cadangan di kegelapan malam. Dia tak pernah tersandung. Dia pemburu yang lihai.
Ada keresek sedikit saja, langsung didekatinya. Malam itu, saat melintas di dekat rawa, dia buru-buru membuka kunci senapannya. Saya kira sudah ada GAM yang menunggu kami di situ. Uh, ternyata hanya babi hutan.
Sampai siang keesokan harinya, gerak pasukan nihil. Tak ada GAM yang dijumpai. Dia kesal bukan main.
Kopral itu sanggup tidur di medan apapun. Di atas rawa basah, di bebatuan hanya dengan menggelar rompi baja sebagai alas tidur sekaligus bantal. Di situ saya mengajaknya berdiskusi soal penyekolahan tawanan. Saya anggap dia dengan segudang pengalamannya akan lebih memberikan gambaran yang lebih jelas.
“Kenapa tidak diserahkan ke polisi saja? Polisi membuat BAP (Berita Acara Pemeriksaan), diserahkan ke pengadilan dan pengadilan memberi hukuman yang setimpal (kalau memang bersalah)?”
“Kalau diserahkan ke polisi,” katanya dingin, “Ya sama saja (nasibnya).”
Dua-tiga hari sebelum kami berkenalan, dia baru menghantamkan balok 8×12 centimeter ke kepala seorang tawanan. Setelahnya, dia menawarkan ke beberapa juniornya untuk menyekolahkan tawanan yang “nyawanya tinggal sedikit” itu.

Tak ada yang menyambut.
“Ada yang sampai pergi sembahyang,” katanya.
Dan itu membuatnya heran. Menurutnya, “Tuhan Mahatahu …. dia (tawanan) itu sudah mengancam nyawa puluhan orang. Membuat anak-anak tidak bisa sekolah. Dia ikut menghadang konvoi 433 di Geurutee. Ada serdadu yang korban. Sekarang masih di rumah sakit pusat Gatot Subroto.”
Tawanan itu namanya Maimun. Dia ditangkap setelah ada bapak-bapak yang melapor ke SGI (Satuan Gabungan Intelijen) karena diancam akan dibunuh jika tak menyerahkan dana perjuangan GAM. Belakangan, Ayah Lian ditemukan mati terbunuh. Nama Maimun disebut-sebut.
Mainum ditangkap saat main bola voli. Awalnya, tak ada serdadu yang tahu wajahnya. Warga di situ tak ada yang mau buka mulut. Serdadu jengkel. Setelah direntet tembakan ke arah kaki, barulah mereka menunjuk hidung Mainum.
Mainum digiring ke pos. Seorang pemuda datang melihatnya. Dia bercerita kalau betul Maimun yang membunuh ayahnya. Mainum berkilah. Katanya, dia memang ada di tempat saat pembunuhan terjadi, tapi bukan dia yang melakukannya.
“Itu lagu lamanya GAM. Kalau ditangkap jadi suci sekali.”
Saat ditahan di sebuah pos, saya melihat Mainum dikerumuni sejumlah serdadu. Saya menyesal tak berani turun dari truk dan melihat langsung wajah pemuda jerawatan itu. Dua tiga hari setelahnya, seorang serdadu bercerita kepada saya kalau Mainum sudah disekolahkan. Mayatnya dibuang ke daerah Lageun.
DI ACEH, tugas utama mencari ikan di kolam-kolam tanggung jawab Pasukan Pemburu Rajawali. Ini tentara terlatih dengan kualitas fisik prima, yang memang dilatih khusus untuk mengejar GAM. Mereka didoktrin untuk rajin jalan, waspada, dan jeli.
Ada yang menyebutnya Pasukan Sayap Lebar. Isinya gabungan prajurit Kostrad dan Kopassus. Saat ini, sekitar 2.000 orang Rajawali di Aceh disebar dalam lima datasemen tempur dari hanya dua datasemen pada 1999.
Naluri tempur mereka di atas rata-rata. Mereka dibekali latihan militer yang sebelumnya hanya didapat anggota Kopassus seperti mengesan jejak (pelatihnya antara lain orang Dayak), sermujam (serangan amunisi tajam), mobud (mobil udara), dan perang rawasuntai (rawa laut sungai dan pantai).
Rajawali terbiasa bergerak dengan jumlah kecil. Satu regu, delapan sampai 12 orang. Jika ada pasukan yang jalan di hutan-hutan Aceh membawa ransel besar, bisa dipastikan itu Rajawali. Jika Anda melihat tentara yang berbelanja di pasar-pasar Aceh dengan dompet terbungkus plastik atau tidur dengan sarung sambung (dua sarung dijahit jadi satu), itu pasti Rajawali.
Mau tahu isi ranselnya? Jika hendak “masuk kolam” lebih dari seminggu, biasanya di setiap ransel itu ada satu setel pakaian loreng cadangan, kaos kaki dua sampai tiga pasang, celana dalam sebanyak-banyaknya, kelambu kepala, matras kedap air, dan sarung sambung.
Untuk logistik, mereka menyiapkan dua kilogram beras per orang, ikan kering setengah kilogram, supermie 30 bungkus, kecap botol kecil, saos botol kecil, minyak goreng botol kecil, bawang, terasi, garam, gula, kopi atau teh, sendok, piring dan gelas plastik.
Selain itu, tiap-tiap serdadu membawa tali perorangan 10 meter dan tali tubuh lima meter. Tali itu diperlukan kalau misalnya pasukan harus berenang di sungai deras atau meluncur dari ketinggian tebing. Bintara pembawa radio biasanya menambahkan 20 biji baterai cadangan ke ranselnya.
Jika ditotal-total, beratnya ransel bisa mencapai 25 kilogram. Berat, cukup membuat bahu keple dan kulit terkelupas. Bila beban berat, jarak yang mereka tempuh relatif dekat. Untuk 10 hari, mereka ditargetkan memeriksa sasaran duga yang total jaraknya 10 kilometer. Praktis dalam sehari, pasukan hanya jalan satu kilometer. Demi kehati-hatian, seringkali jarak 100 meter ditempuh hingga satu jam.
Sekalipun rutenya pendek, tapi medan di Aceh Barat seringkali tidak mendukung. Untuk sampai ke sasaran, mereka kadang harus menggergaji beberapa bukit, berenang di sungai lebar, dan masuk rawa.
Dan kalau sudah rawa atau sungai, alamak …. siksaannya luar biasa.
Saya pertama kali masuk rawa di Peulanteu, kecamatan Samatiga. Rawa itu baru bisa ditembus setelah jalan dua jam. Namanya jalan di rawa yang tak ada embusan angin dan ada pelat baja 10 kilogram di dada, badan jadi keringatan. Peluh menetes dari setiap pori, di kepala, di belakang telinga ….. Bila itu berlanjut, tetesannya akan membuat mata perih. Jalan makin jauh, keringat sudah tidak asin lagi. Badan ini sudah kekurangan cairan.
Para serdadu seperti tak mempedulikan lagi badan yang tenggelam hingga dada di rawa. Mereka berkonsentrasi menjaga agar SS-1 tidak masuk lumpur. Senjata mereka akan macet kalau kena lumpur atau terendam air.
Gerak mereka jadi lebih lambat. Hanya Tuhan yang tahu apa jadinya kami jika ada gerilyawan GAM yang menghadang di rawa itu. Soalnya, mau sembunyi di mana? Tidak ada perlindungan yang aman di tengah rawa.
Soal lintah tak usah ditanya. Lintah ada di sela-sela jari kaki, di betis, di paha, di perut, di selangkangan, dan bahkan menempel di penis. Kalau sudah mengisap darah, dia baru jatuh sesudah menggelembung sebesar jempol kaki, dari hanya seukuran satu ruas kelingking.
Tapi siapa sangka, di tengah hutan rawa itu ada markas pembuatan senjata rakitan GAM. Di situ ditemukan puluhan senapan rakitan setengah jadi, ratusan bendera dan kartu anggota GAM. Di antara empat gubuk pembuatan senjata itu, tentara menemukan seperangkat komputer, printer, dan genset. Saya tak habis pikir bagaimana GAM mengangkat genset raksasa itu melewati rawa.
Mereka tinggal di empat gubuk yang letaknya berdekatan. Gubuknya memang memprihatinkan. Saya mengira orang yang tinggal di situ termasuk di antara mereka yang meyakini kalau usia Aceh merdeka tinggal sebatang rokok lagi. Tiang-tiangnya dari batang-batang kayu seukuran betis anak kecil. Atapnya dari daun rumbia. Nyamuknya tak usah ditanya. Markas itu punya sistem pengamanan berlapis. Ada tiga pos tinjau yang masing-masingnya memiliki pemancar radio.
Melihat barang yang berceceran di gubuk itu saya mengira ada beberapa remaja yang menghuni dan melarikan diri begitu tahu ada tentara. Saya menemukan banyak bungkus rokok Marlboro, botol splash cologne, minyak rambut, dan lain-lain. Saya juga menemukan selembar kartu nama John Aglionby, koresponden harian The Guardian untuk wilayah Asia Pasifik.
Selesai masuk rawa, telapak kaki jadi pucat. Kerutan itu baru bisa hilang setelah dua hari. Saat itu saya memakai sepatu lars. Larsnya kesempitan. Untuk ukuran kaki 42 mestinya lars nomor tujuh sementara lars yang saya pakai nomor enam. Jadinya, kaki terkungkung. Tumit lecet dua-duanya. Lecetnya bersusun-susun. Luka di atas luka.
“Ah, itu belum biasa saja,” kata seorang serdadu menertawakan.
Masak dan makan bersama adalah hiburan satu-satunya bagi Rajawali selama “masuk kolam.” Serdadu biasanya masak dengan misting. Satu misting-seukuran dua batu bata ditumpuk-untuk empat orang. Apinya lebih sering pakai kayu bakar (pembagian parafin jarang ada). Masaknya hanya pagi dan sore. Supaya asapnya tak mencolok, di atas misting ditutupi dahan, biar asapnya menyebar.
Kalau pagi, supermie jadi sayurnya. Kalau ada bayam yang ditemui di kampung-kampung, pakai bayam. Kalau ada tewel (nangka muda) dan kelapa, menu sedikit membaik. Kelapa diparut untuk diperas diambil santannya untuk dimasak dengan nangka muda. Parutnya kaleng sarden yang dilobang-lobangi dengan paku. Ikan keringnya digoreng di atas wajan kecil. Untuk mengulek sambel, terasi bakar dan cabai dimasukkan ke kaleng sarden dan digerus dengan kayu.
Makan saat begitu sedap, bisa sampai keringatan. Semua memang enak kalau perut keroncongan.
Serdadu Indonesia kalau tak merokok sehabis makan mukanya sumpek. Kalau rokok sudah habis, akal mereka jadi panjang. Serbuk teh digulung dengan kertas apa saja sebagai pengganti rokok. Mengepul juga.
Urusan minum, biasanya dua sampai tiga gelas dipakai untuk semua mulut. Mereka sudah biasa dan itu urusan kecil.
Kalau ada teman sakit parah, semuanya merawat. Ransel si sakit dicopot dan isinya dibagi rata ke yang sehat. Sakitnya Rajawali tak jauh-jauh dari tipus, turun bero, bahu keple, dan gatal-gatal.
Jika Basis Operasi Depan (BOD) pindah, Anda sukar menemukan jejak Rajawali. Semua sampah ditanam. Bekas galiannya ditutupi dedaunan sehingga tanah seolah tak pernah diinjak lars.
Kalau di tengah hutan Aceh Anda mendengar SS-1 menyalak dua-dua kali, itu tembakan khas Rajawali. Kalau ada “Purpa” (Pertemuan Perjumpaan), setiap serdadu akan mengejar sasaran seperti orang kesurupan.
“Ciiiiihuuuyyyy!”
“Ciiiiihuuuyyyy!”
“Ciiiiihuuuyyyy!”
“Ciiiiihuuuyyyy!”
“Ciiiiihuuuyyyy!”
“Ciiiiihuuuyyyy…!”
Sambil berteriak, mereka berlari zig zag, mendekati sasaran. Tapi larinya hanya sebentar-sebentar. Tiga detik tiga detik. Mereka mengantisipasi musuh yang bisa membidik sasaran hanya dalam tempo tiga detik.
Sekali masuk kolam, Rajawali kadang tahan sampai 15 hari. Selama itu mereka diharamkan jalan di jalan setapak apalagi beraspal. Mereka dilarang menemui penduduk. Selama itu, mereka akan mengecek setiap sasaran-duga yang sudah digariskan dalam perintah operasi. Kadang, mereka akan mengendap di tempat-tempat tertentu yang berdasarkan informasi intelijen sering dilewati GAM.
Sebelum pengendapan, separuh regu sudah melakukan pengintaian medan, sore harinya. Separuh kekuatan masuk. Menjelang malam, separuh dari serdadu yang berangkat mengintai medan kembali menjemput sisa pasukan.
Di tempat pengendapan, biasanya di pinggir desa, mereka akan membuat formasi bersaf. Ujung empat orang, tengah empat orang, ujung satu lagi empat orang. Ujung ke ujung disambung dengan tali. Tali itu jadi sarana komunikasi utama selama pengendapan yang wajib hukumnya senyap dan tak boleh ada cahaya.
Anda harus jeli kalau lewat di depan tempat pengendapan dan tahu kalau tiga-empat meter dari tempat Anda berdiri ada serdadu yang tengah membidikkan larasnya ke wajah Anda. Mereka memang dibekali cat wajah untuk penyamaran. Warnanya ada yang hitam, coklat, abu-abu, dan hijau.
Rajawali bukan barang asing bagi seisi hutan. Kalau lagi mengendap, burung pun kadang lupa kalau yang dihinggapinya itu punggung manusia. Rajawali dikenal dengan kesabaran dan keuletannya. Mau panas mau hujan, mereka akan tetap di tempat pengendapannya sampai ada perintah pemindahan BOD.
“Hujan kawan. Panas kawan,” kata seorang serdadu menirukan doktrin prajurit infanteri.
Rajawali telah dididik untuk menembak tepat: titik-bidik-titik-kena. Latihannya banyak. Ada tembak jarak, ada tembak reaksi. Tembak jarak, mereka dididik untuk menembak sasaran berdasarkan aba-aba pelatih. Saat pelatih meneriakkan “Dua 50″ misalnya, serdadu mesti menembak sasaran 50 meter dari posisinya, arah jam dua. Ya, kurang lebih miriplah dengan gaya jejaka kota membisiki rekannya kalau ada gadis cantik yang berdiri di suatu tempat.
Tembak reaksi lain lagi. Di sini mereka dilatih menembak skip bergerak dan statis, muncul sesaat lalu tenggelam. Skipnya selalu tiga berdampingan: pak haji, pemuda berpakaian loreng dan perempuan berjilbab. Salah satu dari tiga orang itu bersenjata. Hanya mata yang awas yang bisa menembak tepat. Salah dihukum. Hukumannya, menembak lesan hingga amunisi dalam dua boks peluru habis. Satu boksnya sekitar 1.500 amunisi.
Seorang kopral kepala yang pernah ikut pendidikan Rajawali pada 1996 bercerita saat latihan dulu Prabowo Subianto menyediakan tiga truk amunisi tajam. Katanya, biaya latihan untuk 2.000 orang waktu itu sampai Rp 5 miliar. “Memang yang harus jadi pimpinan di militer itu orang kaya.”
Bagi pasukan Rajawali, anggota Kopassus utamanya, menembak dengan peluru tajam bukan hal asing. Tiap hari di markas latihannya ya itu: menembak, menembak, dan menembak. Kalau tidak menembak sambil tiarap, ya menembak sambil duduk, atau menembak sambil berdiri, atau menembak sambil berlari. Seorang prajurit Kopassus sampai bilang ke saya, “Mas kalau ada keluarga yang mau dagang kuningan datang saja ke Serang. Selongsong di sana tinggal disekop.”
Sebenarnya, batalyon teritorial yang diberangkatkan ke Aceh juga mendapat latihan menembak. Mereka hanya dibekali beberapa lusin peluru hampa. Kalau itu habis, menembak kadang pakai mulut: “Dor-dor-dor.”
Ada yang latah. Seorang bintara bercerita kepada saya kalau ada anak buahnya yang nyaris menembak GAM. Sasaran sudah segaris dengan pisir-pijera. Kunci senapan sudah dibuka. “Dorrrr!” Yang ditembak tidak apa-apa. Dia hanya terkejut mendengar suara tembakan seperti saat latihan perang-perangan.
Bukan Rajawali kalau tidak hapal yel-yel dan mars Rajawali. Mereka biasanya meneriakkan yel-yel dan mars itu saat latihan atau sehabis mendapat sepucuk. “Uh, gembiranya sukar dilukiskan,” kata seorang sersan satu yang bersama anak buahnya pernah mendapat sepucuk Garand.
Marsnya singkat: “Majulah Satgas Rajawaliiii/ Kembangkan sayap-sayapmu/ Dideru angin/ Diterpa badai/ Diterjang peluru/ Tak gentarrrrr jiwa kamiiii/ Rajawaliiii …. Rajawaliiii. Hei!”
Tapi saya kira Anda akan tertawa kalau melihat mereka meneriakkan yel-yel Rajawali. Ini perpaduan suara keras, kepalan tangan, dan sedikit kelenturan jemari. Pertama, dengan tangan terkepal, mereka akan meninju langit dua kali diiringi teriakan: “Rajawali! Rajawali!” Lalu dengan tangan kiri mereka melakukan hal serupa sambil berteriak: “Pemburu. Pemburu.” Setelah itu, mereka akan mengayunkan tangan kanan dua kali dengan bergetar-getar, meniru kepak sayap burung rajawali, dan diiringi teriakan: “Ciiiihuuyyy! Ciiiiihuuuyyy!” Sudah itu, tangan kanan yang sama disentak ke bawah disertai teriakan “Merah Putih, Yes!”
Untuk mengetahui apakah yel-yel itu sudah dilantunkan dengan benar, komandan biasanya hanya melihat urat leher serdadu. Kalau sudah menonjol, itu artinya teriakannya sudah pas. Kalau belum, ulangi sampai bisa.
Mereka yang pernah ikut pendidikan Rajawali akan menempelkan brevet Rajawali di seragamnya. Brevet itu bergambar burung rajawali bermata merah sedang mencengkeram sebilah pedang. “Brevet ini pakainya saja yang gagah. Tapi tugasnya …. alamak!”
Jadi prajurit Rajawali memang susah apalagi kalau komandannya gemar kontak senjata. Saya pernah bertemu seorang komandan pos Rajawali yang sikapnya membuat 30 orang anak buahnya tak pernah bisa istirahat tenang dalam seminggu. “Di pantatnya seperti ada paku. Maunya masuk ‘kolam terus,'” kata seorang serdadu.
Sayang, saya tak bisa akrab dengan komandan itu. Persoalannya sederhana. Dia alergi melihat di leher saya selalu tergantung kartu pers. “Tutup-tutup ini …. saya risih banyak pelanggaran HAM,” katanya saat saya duduk di dekatnya suatu waktu.
Entah pelanggaran hak asasi mana yang dimaksudkannya. Tapi dari seorang anak buahnya, saya mendengar cerita suatu malam pasukannya mengendap di wilayah Babah Aweh, kecamatan Jaya. Ada tiga orang yang melintas di tempat pengendapan. Mereka terkejut begitu mengetahui ada belasan tentara tiarap di pinggir jalan.
Saat disuruh berhenti dan angkat tangan, ketiga orang itu segan melakukannya. Pelan-pelan mereka mundur ke bahu jalan. Salah seorang di antaranya berusaha meraih sesuatu di kantong plastik yang dijinjingnya. Belum sempat, tembakan menggema.
Keadaan gelap. Yang tidak melihat dengan baik ketiga orang itu ikut menembak.
Tembakan berhenti. Begitu didekati, ternyata masih ada seorang yang hidup. Tak sedikit pun badannya lecet akibat tembakan beruntun itu. Rupanya, dia menenggelamkan badan di gundukan tanah di pinggir jalan.
“Sekolahkan saja. Siapa yang mau?” komandan peleton itu menawari anak buahnya. Dia yakin ketiga orang itu GAM. Di kantong plastik tadi anak buahnya menemukan sebuah pistol rakitan.
Dari belakang, seorang serdadu muda bergegas. “Danru …. Danru …. biar saya.”
Tawanan itu diminta berjongkok. Sebutir peluru menembus kepalanya, “Crook …. crookk.” Darah muncrat dari kepala. Mengira masih hidup, serdadu muda itu mengarahkan larasnya ke punggung korban. “Tak-tak-tak.” Tiga peluru 5,56 milimeter bersarang.
Setelahnya, komandan regu minta serdadu muda itu untuk mencicipi darah orang yang ditembaknya. Ada kepercayaan di kalangan tentara (dari Makassar) bahwa mencicipi darah orang yang telah dibunuh akan menghilangkan bayang-bayang wajah korban yang bakal menghantui.
Saat pulang ke pos, serdadu muda itu mengeluh ke komandan regunya.
“Danru, perut saya mual.”
“Kau minum apa tadi?”
“Darah itu,” katanya seraya menunjukkan ukuran darah yang diminumnya: dua genggaman tangan!
Vila Serdadu
TENTARA di Aceh tinggal di pos-pos sepanjang jalan provinsi. Jaraknya cukup rapat. Kendati belum dapat menyamai kerapatan pos tentara di Timor Timur dulu. Di sana, setiap tiga desa ada satu pos tentara. Sementara di Aceh ini, satu pos kadang bertugas mengamankan belasan desa.
Tiap pos mempunyai nama tersendiri. Dalam percakapan radio, pasukan Rajawali di Aceh Barat menamai posnya dengan istilah-istilah yang berhubungan dengan langit seperti Halilintar dan Pelangi. Yang pasukan teritorial meminjam nama hewan penghuni kebun binatang seperti Serigala, Cobra, dan Arwana.
Sekeliling pos dibalut dengan kotak pengaman. Ada yang terbuat dari papan dan sela-selanya diuruk tanah uruk atau pasir. Tingginya rata-rata satu meter dengan ketebalan setengah meter. Selama bukan mortir atau granat, ia mampu meredam laju proyektil apa saja.
Saya pernah melihat pos tentara yang dipagari dengan potongan-potongan batang kelapa setinggi dua meter. Sudah dipagari dengan batang kelapa luar dalam, sela-sela kotak ditimbuni pasir pula.
Awalnya, saya kagum dengan kekuatan orang pos. Memancang batang pohon kelapa sedalam siku dan menguruki sela-selanya bukan pekerjaan ringan. Tapi setelah melihat proses pembukaan sebuah pos, saya jadi tahu kalau selalu ada keringat warga yang ikut bercucuran. Makin besar kotaknya, makin banyak peluh yang menetes. Orang pos kadang mengerahkan warga desa untuk itu.
Dengan segala kekurangannya, serdadu Indonesia memilih menggunakan kata “vila” untuk menyebut pos yang mereka tinggali. Kalau “vila” sudah diberi kotak pengaman, mereka menetapkan di bagian mana pos jaga didirikan dan lalu menyusun alarm stealing. Denah ini berisi ilustrasi kemungkinan dari mana datangnya serangan.
Urusan “vila” beres, perhatian tentara beralih ke kendaraan. Ini bukan mengada-ada. Hampir semua tentara di Aceh pernah merasakan penghadangan di atas kendaraan. Yang teranyar terjadi medio Oktober silam, menimpa dua kompi Kopassus dari Grup II Solo yang melintas di Aceh Barat untuk penugasan di Aceh Selatan.
Namanya pasukan baru datang ke Aceh (saya kira ini pasukan tambahan yang datang ke Aceh tanpa sepengetahuan banyak orang di Jakarta sana), kesiagaan mereka sudah terlihat dari pakaiannya. Masing-masing mengenakan helm dan rompi baja dengan motif darah mengalir. Khas Kopassus. Di bak mobil, laras-laras menonjol kaku ke segala arah kemungkinan datangnya tembakan.
Tapi GAM sepertinya tak ambil pusing. Saat konvoi melintas di kawasan-sering-penghadangan Krueng No, GAM memuntahkan 11-12 kali amunisi AK-47. Orang Komando membalasnya dengan menembakkan 10 biji TP. Tak ada lagi AK yang menyalak dari kejauhan sana.
Mereka memang tidak dihadang, hanya diganggu. Ini sambutan khas GAM untuk setiap pasukan yang baru datang. Dan gangguan itu sudah cukup berkesan bagi pasukan yang belum sehari menginjakkan kaki di bumi Serambi Mekah.
Sekitar dua jam setelahnya, saat konvoi melintas di Calang, seorang serdadu menertawakan rekan-rekannya yang “tinggal helmnya saja yang kelihatan dari jalan.” Saya kira dia juga menertawakan dirinya sendiri, menertawakan kecemasannya saat dihadang GAM pertama kali datang ke Aceh.
Seringnya penghadangan membuat tentara seolah berlomba melapisi kendaraannya dengan baja. Ada banyak macam kendaraan tentara di Aceh. Yang paling sering saya naiki adalah truk buatan Mercedes-Benz. Mobil ini bekerja dengan sistem hidrolik. Kalau tekanan angin di mesin kurang, dia jadi onggokan besi. Tak bisa diapa-apakan. Stir, gas, stater …. semuanya terkunci.
Panjang bak truk lima meter, cukup untuk mengangkat satu peleton serdadu. Bila ditambah dengan panjang kabin sopirnya, totalnya mencapai tujuh meter dengan lebar 2,5 meter. Dari tanah hingga terpal truk, tingginya ada tiga meter. Baknya sulit dinaiki. Tingginya sedada orang dewasa. Kalau di bak tidak ada pijakan kaki, Anda perlu berpegang pada seseorang di atas untuk naik.
Setelah dilapisi baja, berat mobil bertambah dua kali lipat menjadi sekitar 10 ton. Ban cepat kalah. Truk jadi sukar bermanuver di jalan sempit.
Saya sempat melihat metamorfosis sebuah truk Mercedes-Benz yang dari Jawa hanya diselimuti baja tiga milimeter. Baja itu tak cukup tebal. Jika mobil dalam keadaan diam, dia bisa dijebol proyektil AK-47 dari jarak sekitar 200 meter.
Setelah di Aceh, pelan-pelan ketebalan baja truk ditambah. Dari tiga milimeter menjadi delapan milimeter tiga bulan kemudian. Semua bagian vital truk seperti tangki bahan bakar, ruang mesin, dan tangki angin dilapisi baja. Bahkan seandainya ban bisa dibaja, saya yakin itu juga akan dilakukan.
Baja yang paling tebal biasanya dipasang di kabin sopir. Saya lihat ada yang sampai 10 milimeter. Kalau sudah dibaja, truk seperti ganti kulit saja. Orang Jerman yang membuatnya mungkin akan sukar mengenalinya lagi.
Persoalan baru bagi orang di kabin. Pembajaan hanya menyisakan sedikit lubang bagi sopir dan pembantu sopir untuk mengintip jalan di depan. Lubang intip hanya seukuran dua batu bata disambung. Masing-masing satu di depan sopir dan keneknya. Kadang lubang intip sopir dimodeli seperti alis. Tapi tetap saja, pandangan mereka terbatas. Sopir dan keneknya tak dapat melihat jarak tiga meter dari bumper. Untuk melihat kaca spion kanan, sopir di kiri hanya bisa mengandalkan mata kenek. Pokoknya, kenek tidak bisa berleha-leha.
Persoalan lainnya jika ada kerusakan di bagian radiator depan, montir akan susah menjamah bagian-bagian dalam. Geraknya dibatasi lempeng baja yang hanya bisa dilepas jika dipotong dengan las. Sebuah pekerjaan mahabesar. Sirkulasi udara di dalam kabin ikut rusak karena baja itu. Sopir dan kenek kegerahan setiap kali jalan siang.
Selain Mercedes-Benz, tentara punya truk Unimog dan Reo. Dari segi perwajahan kabin, Mercedes yang potongannya kaku seperti balok kalah dari Unimog. Yang terakhir seperti peranakan biawak. Mulutnya panjang. Segala jenis medan, truk ini jalan menanjak oke, lumpur dan sungai sepinggang boleh.
Dari ujung ke ujung, panjang Unimog sekitar lima meter. Dimuati 20 serdadu dia kelimpungan.
Kalau jalan di sawah, Unimog meliuk-liuk seperti biawak. Pernya pakai per keong. Persenelannya delapan. Sekali dorong gigi, mesti empat supaya melaju. Seperti Mercedes, mesinnya mengandalkan tekanan angin. Macet sedikit di situ, berabe urusannya.
Banyak tentara lebih suka naik Unimog karena baknya tinggi, hampir 1,5 meter ketimbang Mercedes yang baknya hanya setinggi pinggang orang dewasa. Nah soal tinggi bak, Reo lebih gila lagi. Ini mobil dilihat dari jarak 10 meter seperti banteng saja. Bannya 10 biji. Delapan roda belakang dan dua di depan. Untuk pergerakan pasukan dalam jumlah besar, dia dan Mercedes bisa diandalkan. Beda dengan Mercedes, setir Reo di kanan. Produksi Korea.
Supaya tak berkarat, lempengan baja tambahan itu dicat. Umumnya hijau. Ada yang warna daun nangka tua ada juga hijau tahi sapi. Yang Reo biasanya dicat hitam. Kalau ada serdadu yang pintar menggambar, truk-truk itu biasanya dilukis dan diberi nama. Pasukan Rajawali, misalnya, menggambar burung Rajawali besar-besar. Orang Kopassus mengecat kabin mobilnya dengan warna bendera republik ini: merah putih. Ada juga yang menggambar kaligrafi berisi penggalan ayat-ayat al-Quran.
Kalau akan ada pergeseran pasukan (serpas), tentara biasanya pilih-pilih mobil. Biasanya mereka akan melirik mobil yang paling tebal bajanya. Kalau mobil yang tersedia ketebalan bajanya sama, mereka akan mencari yang baknya dicor. Ini memang favorit: truk yang sudah dibaja lalu dicor lagi. Biasanya, baja paling luar ukurannya empat milimeter dan selang sejengkal ke dalam ada pelat baja yang ketebalannya sama. Ruang di antaranya itu yang dicor. Tebal bak bisa membengkak hingga 10 centimeter. Saya kira dihajar GLM pun untung kalau baknya bisa lobang.
GAM juga kalau mau menghadang pilih-pilih. Favorit mereka serdadu yang menggunakan truk Toyota Dyna. Ini mobil orang Korem yang kadang dipinjamkan ke pasukan. Tak dibaja. Ada mungkin lima kali saya naik mobil ini. Semua serdadu dari semua jenis pasukan di Aceh akan mikir 100 kali kalau disuruh komandannya naik mobil ini. “Siapa mau setor nyawa di mobil krupuk,” kata seorang prajurit Kostrad dari Batalyon 433, Makassar. Tapi kalau sudah perintah, mobil kerupuk itu tetap digunakan. Biasanya, tentara berebut tempat di pojok. “Biar kalau ada apa-apa langsung loncat.”
GAM kadang pintar kalau menghadang truk yang sudah dibaja. Biasanya, mereka akan mengarahkan tembakan ke pintu mobil. Jadi serdadu terkurung di bak. Kalau ada tembakan, biar bak mobil sudah dibaja dan dicor 10 centimeter, tetap saja seisi bak tanam kepala. Tiarap, mendekat ke sisi bak asal tembakan.
Tapi GAM akan mikir 100 kali jika akan menghadang truk Mercedes atau Reo atau Unimog yang sudah dipasangi Senapan Mesin Berat (SMB). Di Aceh Barat, saya lihat baru Yonif Linud 305/Kostrad 305 (saya kira ini juga pasukan tambahan yang datang ke Aceh tanpa sepengetahuan banyak orang di Jakarta) yang melengkapi beberapa truknya dengan SMB.
Kalau Anda menonton film perang, Anda mungkin pernah melihat sejenis senjata yang dipakai menembaki pesawat terbang. Nah, itu SMB. Dia dipasang di bak dan dilengkapi engsel sehingga bisa diputar-putar.
Panjang larasnya lebih semeter berdiameter sebesar botol kecap. Saya belum pernah mendengar bunyinya. Tapi saya kira akan memekakkan telinga. Panjang amunisinya saja sudah satu jengkal orang dewasa. Selongsongnya sebesar jempol kaki sementara proyektilnya seukuran kelingking dengan ujung lebih runcing. Kalau ada GAM lenggang kangkung dua kilometer di depan sana, peluru itu bisa membuat lobang seukuran bola tenis di dadanya.
GAM juga kemungkinan besar mengurungkan niatnya menghadang konvoi yang di situ ada mobil jenis Rantis (kendaraan perintis). Potongannya mirip-mirip Hornet. Komandan biasanya naik mobil ini. Setahu saya, hanya Kopassus yang punya.
Di atap Rantis ada barang mematikan: Automatic Grenade Launcher (AGL). Barangnya kecil saja, panjangnya paling semeter. Tapi yang keluar dari larasnya adalah granat yang sama yang dipakai di SPG. Keluarnya bukan satu-satu, tapi otomatis.
Kalau AGL sudah menyalak, banyak serdadu yang santai-santai. Yang mau dan punya rokok merokok. Yang bawa ganja melinting “rempah Aceh” itu. Mengisap rokok dalam-dalam sambil menembak, menurut beberapa serdadu, nikmatnya sukar dilukiskan.
Sebenarnya, tak banyak truk yang dibawa pasukan kita ke Aceh. Di Aceh Barat misalnya, di luar mobil ‘kerupuk’ Korem, jumlahnya bisa dihitung dengan jari tangan. Ambil contoh Batalyon 521 hanya mengandalkan empat biji truk Mercedes untuk membantu mobilisasi pasukan. Yang pasukan gerak, seperti Kostrad dan Kopassus, setiap kompinya hanya punya satu kendaraan.
Reo, Unimog, dan Mercedes kalau makan solar naudzubillah. Satu liter hanya tahan lima kilometer. Untuk Mercedes isi tangkinya bisa sampai 130 liter. Sementara Jakarta setiap bulannya hanya sanggup menyediakan 200 liter solar untuk setiap truk. Jika tangki diisi penuh dan dipakai sekali Dorlok (Pendorongan Logistik), konvoi memang bisa sampai Lambaro tapi tidak bisa kembali ke Meulaboh.
Kita sepertinya harus berterima kasih pada perusahaan swasta di Aceh Barat yang menggratiskan cadangan solarnya untuk truk tentara kita. PT Socfin Indonesia misalnya. Perusahaan kelapa sawit ini setiap bulannya menyediakan tiga sampai enam ton solar untuk tentara dan polisi kita di sana. Dan bahkan menyediakan puluhan lembar lempengan baja dan membayari ongkos lasnya untuk truk serdadu Indonesia.
Lambaian Tangan
SATU-dua kali masuk kolam, tak ada ikan yang berhasil dijaring. Tak ada kontak tembak dengan GAM. Beberapa serdadu mulai percaya kalau setiap wartawan ikut pasti tak ada hasil.
Saya tak ambil pusing. Saya selalu mengikuti ke mana saja truk pergi. Seorang serdadu Kopassus geleng-geleng kepala melihat saya seperti gila naik truk.
“Siapa tahu ada tembakan,” kata saya menjawab keheranannya.
“Tuh kan, doanya saja sudah jelek,” Dalam hati saya malu. Bagaimana kalau benar terjadi penghadangan dan ada serdadu yang kena?
Roda truk tentara yang mendukung operasi pasukan di Aceh Barat tiap hari berputar. Kadang, dalam sehari, truk singgah di empat sampai lima pos yang jaraknya sekitar tiga jam perjalanan. Truk selalu dalam pengawalan, minimal lima sampai enam serdadu berjaga di bak.
Bepergian dengan truk tentara membutuhkan fisik yang prima dan semangat besar. Kalau badan loyo, rawan masuk angin. Kalau terlalu sering berdiri di truk, orang bisa turun bero. Paling tidak, mata Anda akan memerah dan rambut akan kusam disiram debu dan angin jalan.
Anda akan sering melihat lambaian tangan penduduk di sepanjang jalan. Paling tidak mereka akan melempar senyum. Anak-anak sekolah yang lagi bermain di halaman akan menghentikan permainannya dan berdesak-desakan di pagar sekolahnya hanya untuk melambaikan tangan kepada orang-orang yang, sebenarnya, tak mereka kenal. Ibu-ibu yang menggendong anak kadang setengah berlari keluar rumah agar tak kehilangan kesempatan.
Orang-orang yang di atas truk menikmati pemandangan itu. Mereka selalu membalas dengan tangan kanan. Orang Aceh akan tersinggung berat jika diberi lambaian tangan kiri. Pamali. Tapi biasanya tentara kita yang hiperaktif melambai-lambaikan tangan kalau ada anak dara yang tersenyum di teras rumah.
Tapi ada juga yang acuh melihat anak-anak sekolah. Malah ada yang sinis. “Anak-anak Aceh,” kata seorang serdadu, “Hari ini melambaikan tangan tapi kalau besar membidikkan laras ke kita.”
Dan kalau truk sudah jalan, rasanya tak ada lagi kendaraan di jalan. Setiap kendaraan yang bergerak dari arah berlawanan akan menepi di bahu jalan. Tidak peduli apa jenisnya: truk Fuso, L-300, kereta (istilah orang Aceh untuk sepeda motor), motor (kendaraan roda empat), becak motor, dan lain-lain. Semua menepi. Mempersilakan truk bergerak dulu.
Truk tentara kita biasanya melaju kencang. Di tikungan, kendaraan yang bergerak dari arah berlawanan, kadang panik lalu buru-buru menepi hingga hampir nyungsep.
Seringkali saya geli melihat adegan-adegan itu. “Jangan ditulis mereka takut sama kita,” kata seorang sopir berpangkat prajurit kepala memperingatkan, “Mereka itu melihat kepentingan kita lebih besar sehingga pantas didahulukan.”
Di atas truk, ada banyak hal yang harus diwaspadai. Yang ringan-ringan: percikan air atau debu jalan. Kalau aspal basah habis diguyur hujan misalnya, putaran roda truk akan mengangkat air ke atas bak. Mereka yang berdiri hingga 1,5 meter dari pintu truk akan terkena percikannya. Kalau sekadar air masih untung. Tapi kalau kebetulan ban menggilas tahi sapi …..
Kedua, tentu saja peluru. Perhatian tentara lebih tertuju pada barang satu ini. Ada kepercayaan di kalangan serdadu Indonesia kalau peluru di Aceh punya Nomor Registrasi Pokok (NRP). Ini jelas merepotkan. Setiap tentara punya NRP tersendiri, terdiri dari sederet angka yang antara lain bisa diketahui kapan seorang serdadu mulai ikut dinas militer berikut tanggal kelahirannya.
Jika sudah di atas truk lalu ada informasi kalau truk akan dihadang, bukan main tegangnya. Nyaris tak ada pembicaraan sepanjang perjalanan. Kadang ada yang mencoba mengendorkan ketegangan dengan bersenandung sambil iseng melambai-lambaikan tangan ke bukit-bukit rawan tak berpenghuni di sepanjang jalan. “Daaaaa, dadah sayaaaaaang. Slaaaaa, slamattt jaaaaalan.”
Sebenarnya, tentara kita punya bekal yang cukup untuk tak terlampau mengkhawatirkan peluru yang punya NRP itu. Toh mereka sudah dibekali rompi dan mobil lapis baja.
Ada yang mencari tameng tambahan yang diyakini lebih sakti: jimat, dari yang berbentuk barang sampai yang berupa doa tertentu yang harus dirapal secara rutin. Yang percaya memakainya atau paling tidak menuliskan doa-doa itu di rompi baja yang digunakannya, diselipkan di dalam dompet, atau hanya dirapalkan setiap kali akan bergerak.
Ada juga yang sepertinya tak ambil pusing. Seorang serdadu Kopassus malah menuliskan kalimat ini di rompi bajanya: Now I’m Nothing. Dia sebenarnya masih muda. Kalau tak salah ingat kelahiran pada 1979. Saya kira dia termasuk di antara serdadu yang masa mudanya “habis dimakan ransel.”
Tapi rasa-rasanya daerah Geurutee punya tuah tersendiri sehingga setiap serdadu, tak peduli dia dari kesatuan mana, ketar-ketir saat melintas di pegunungan yang memisahkan Aceh Besar dan Aceh Barat itu.
Geurutee terkenal dengan jalannya yang berliku. Delapan kilometer panjangnya. Persisnya dari kilometer 64 hingga kilometer 72 dari Banda Aceh arah Meulaboh.
Dari Banda Aceh, kendaraan menanjak sejak kilometer 64. Meliuk-liuk, bermanuver di lereng gunung hingga tiba di Peuyoh Geurutee di kilometer 68. Setelahnya, kendaraan akan bergerak menurun hingga Gle Miga terlihat di ujung kilometer 72.
Jika sempat berhenti di Puncak Geurutee itu, saya yakin Anda akan merasakan sensasi tersendiri. Dari situ, Anda dapat melihat gradasi air laut di bawah sana. Dari yang warnanya biru muda hingga biru pekat. Anda bahkan dapat menghitung berapa saf ombak yang menggulung.
Dari puncak yang sama, Anda juga bisa membayangkan seperti apa jadinya jika, semoga tidak, kendaraan Anda terperosok ke jurang di kanan Geurutee.
Serdadu yang pernah tugas di situ tak dapat memastikan berapa dalamnya jurang di kanan Geurutee. Mereka pernah mencoba menaksir kedalamannya dengan berlomba-lomba melempar baterai PRC yang sudah usang atau menggelundungkan batu besar. Tapi tak seorang pun yang berhasil melihat batu itu sampai ke permukaan laut.
Bukit-bukit di kiri Geurutee juga menyimpan pesona tersendiri. Orang harus mendongak untuk melihat jelas pepohonan apa yang ada di situ karena terjalnya bukit. Tinggi lereng bukit yang tertutupi pepohonan hijau itu mungkin sama dengan kedalaman jurang di bawah sana: 100 meter.
Dari semua pesonanya itu, Geurutee tetap menjadi mimpi buruk bagi setiap tentara yang pernah melintasinya. Nyaris setiap pasukan yang melintasinya pernah dihadang GAM. Bahkan seorang Komandan Korem Teuku Umar nyaris mengembuskan napas terakhir di Geurutee sekiranya proyektil AK-47 yang ditembakkan GAM dari bukit-bukit di kiri jalan menembus kaca Hornet yang ditumpanginya.
Dihadang di Geurutee memang menjengkelkan. Anda tak bisa membalas tembakan karena GAM bersembunyi di tebing-tebing curam. Mereka dapat melihat Anda dengan jelas. Mereka bebas membidik atau melempar granat ke kendaraan yang melintas. Atau tak usah granat, menggelindingkan batu dari atas sana pun Anda yang duduk di bak truk tentara bisa dipastikan akan celaka.
Sementara itu, Anda akan sukar mencari tempat perlindungan jika sudah dihadang. Mau lari ke kanan jurang. Mau lari ke kiri terbentur tebing terjal. Jalan satu-satunya merapatkan badan ke tebing. Tapi kadang kalau sudah disiram tembakan dari atas, biasanya ada yang pantatnya terserempet peluru.
Singkatnya, serdadu praktis hanya bisa berlindung dan berharap semoga GAM segera kehabisan amunisi. Setelah dua jam GAM kehabisan amunisi, baru si serdadu bisa meninggalkan Geurutee.
Menembak saat penghadangan di situ hampir-hampir mustahil. Laras Anda hanya bisa tegak lurus, menembak langit. Kalau hanya kaliber 5,56 yang tertembak ke langit tak terlalu masalah. Tapi kalau TP yang terlempar jadi persoalan besar. Kepala bisa hancur sendiri karena bisa dipastikan TP itu akan kembali ke tempat Anda berdiri.
“Tidak tahu gunung apa itu,” kata seorang serdadu dari Makassar, “Selalunya kita takut kalau lewat.” Ada juga serdadu yang patah arang dengan Geurutee. Dia berharap suatu waktu nanti GAM yang melakukan konvoi dan TNI yang menghadang.
Tapi belakangan ini pasukan yang melintas di situ tak terlampau khawatir lagi. Sudah ada satu peleton serdadu yang saban harinya mengamankan Geurutee dari kemungkinan disusupi GAM.
Kasihan mereka. Tak ada warga desa yang bisa diajak bergaul. Yang ada hanya deru ombak di bawah sana juga gunung batu dan jurang yang curam. Hiburan satu-satunya adalah melihat kendaraan yang melintas.
“Bukan GAM yang bikin kami kesulitan di sini. Tapi agas,” keluh seorang serdadu. Agas sejenis nyamuk tapi badannya jauh lebih lebih ramping. Gigitannya? Alamak …. gatal luar biasa.
Dia selalu datang malam hari dan menyasar kepala dan muka. Makhluk satu itu bisa menembus shebo kendati kepala sudah dibungkus kelambu dan ditutup dengan sarung berlapis. Autan tak mampan. Sakti, cairan antiserangga pembagian TNI, juga impoten. Agas hanya bisa diusir dengan asap rokok.
Geurutee hanya satu di antara ratusan perbukitan di Aceh Barat yang sewaktu-waktu dapat mengancam keselamatan serdadu yang kebetulan berkendaraan. Dan tentara kita tak kehabisan akal. Agar pandangan tak terhalang dan cepat mengetahui gerak-gerik musuh, mereka menggunduli bukit-bukit tempat GAM sering melakukan penghadangan.
Saat saya bergabung dengan pasukan di Aceh Barat, penghadangan sudah jarang terjadi. Rajawali juga kian kesulitan menemukan “ikan di kolam.” Dengar-dengar, GAM merapat ke desa. Menjadi orang desa. Sukar bagi serdadu Indonesia untuk membedakan siapa GAM siapa penduduk biasa kecuali ada informasi intelejen yang memadai.
Di Patek dulu, seorang serdadu gondok luar biasa setelah meminjamkan koreknya kepada seorang warga yang mau membakar rokok. Orang itu ternyata Abu Tausi, salah seorang dedengkot GAM di sana.
Intelijen termasuk di antara kelemahan mendasar pasukan TNI di Aceh.
Sebenarnya, sudah ada Satuan Gabungan Intelijen (SGI) bertanggung jawab untuk urusan itu. Saya sering menguping pembicaraan serdadu di radio dan mendengar “Solo Garut Irian” disebut, ya itulah SGI. Gabungan Sandi Yudha Kopassus dan intel Kostrad.
SGI masuk Aceh pada 1999. Mereka lebih dulu ditanam sebelum Jakarta mulai mengirim kembali pasukan pascapenarikan DOM.
Soal menyamar, SGI memang jagonya. Mereka dibebaskan untuk “berekspresi.” Ada yang memilih berambut gondrong, ada yang bertampang ustaz atau kiai, ada yang menjadi petani, nelayan, penjual kacang, dan sebagainya.
Di sebuah acara syukuran pasukan Brigade Mobil-menyusul tewasnya Abu Arafah, salah seorang komandan GAM di Aceh Barat-saya bertemu dengan seorang bapak yang dari dandanannya saya kira camat setempat. Roman mukanya bersih. Sedikit jenggot dan kumis di wajahnya mengesankan orang yang berkecimpung di dalam urusan agama. Dia berpeci hitam dengan setelan jas safari. Senyumnya tak pernah lepas.
Karena penasaran, saya bertanya kepada seorang letnan dua soal nama camat yang diajaknya berbicara. Serdadu itu tertawa terbahak-bahak. “Bang, dia mengira Abang camat di sini.” Bapak itu hanya tersenyum. Dia ternyata komandannya SGI wilayah Calang.
Tapi penyamaran orang-orang SGI sepertinya kurang membuahkan hasil. Jarang-jarang ada pergerakan pasukan tempur dan teritorial yang didasari pada informasi orang SGI. Ada serdadu Indonesia yang bilang, orang SGI bisa apa saja di Aceh ini. Kecuali satu: bahasa Aceh.
SERINGNYA berkendaraan mengunjungi satu pos ke pos lain, mengantar saya menemukan sebuah dunia baru di Aceh: dunia orang-orang Jawa perantauan. Ada yang leluhur mereka datang ke sini sebagai buruh kontrak di perkebunan karet dan kelapa sawit pada 1920-an. Ada juga yang masuk ke Aceh pada 1980-an sebagai transmigran.
Seingat saya, ada 10 atau mungkin lebih sarana permukiman transmigran di Aceh Barat. Salah satu yang pernah saya kunjungi adalah SP 1 di Alue Peunyareng. Sebagian orang menyebut daerah itu Bukit Jaya. “Di sini dulu seperti Meulaboh saja. Ramai. Lampu di mana-mana,” kata seorang transmigran.
Tapi SP 1 kini sudah kehilangan kekotaannya. Saat datang ke sana September silam, sudah tak ada transmigran Jawa yang menetap di situ. Mereka mengungsi, sebagian ke Banda Aceh dan sebagian lagi ke Medan saat gelombang pengusiran orang Jawa terjadi di Aceh Barat, 1999 silam. (Seorang ibu kelahiran Seunagan tapi berdarah Jawa masih ingat apa yang diteriakkan massa yang menuntut Referendum 1999 dulu, “Jawa koh takue. Jawa koh takue; potong leher orang Jawa)
SP 1 sudah menjadi hutan. Jalan-jalan aspal hingga ke pemukiman transmigran itu nyaris ditelan semak belukar di kiri-kanannya. Tak ada lagi yang berani menginjakkan kaki di kota mati itu.
Saya sempat singgah di sebuah rumah tak berpenghuni di situ. Halamannya disesaki semak belukar. Daun pintu dan jendala sudah tanggal. Beberapa kaca nako hitam masih menggantung di tatakannya. Balok-balok kusen rumah menghitam, hangus dimakan api. Atapnya roboh. Hanya dindingnya yang tetap tegak. Dan luar biasa! Saya yakin si empunya rumah itu dulunya punya kekayaan yang cukup untuk membangun sebuah rumah dengan semua dindingnya dicor! Dia tampak sudah meniatkan diri untuk menjadi orang Aceh, membesarkan anak, berusaha, dan mungkin meninggal di situ.
Saat memasuki ruang tamu, tak sengaja saya menyeret kaki. Begitu tanah yang menutup lantai tersibak, saya tahu kalau seluruh lantai rumah itu dilapisi keramik. Ukuran rumahnya 15×8 meter, belum termasuk garasi 3×4 meter persegi di kiri bangunan. Ada lima kamar di rumah itu. Di setiap kamar, saya melihat masih ada ranjang kayu yang tak berpelitur. Dari bekas langit-langit rumah yang tingginya ada dua meter, saya membayangkan akan menyejukkan tinggal di situ.
Di halaman ada banyak pohon buah; mangga, rambutan, jambu batu dan lain-lain.
Hampir setiap rumah yang saya masuki begitu modelnya. Di belakang rumah, tiap-tiap transmigran mempunyai kebun kelapa sawit. Totalnya, 330 kepala keluarga mempunyai 300 hektar. Sejak ditinggal, banyak kelapa sawit yang busuk di tandannya karena tak ada yang berani memanen.
Tentara dan pemerintah setempat ingin memanfaatkan kebun kelapa sawit yang tak terawat itu. Mereka membangun satu pos baru di sana. Puluhan orang-sebagian besarnya asli Aceh-yang tak memiliki pekerjaan direkrut untuk memanen sawit-sawit itu. Saya tak begitu jelas apa dasar perekrutannya. Tapi saya tahu, masih ada transmigran yang punya tanah di situ tapi tak dipanggil memanen isi kebunnya sendiri. Seorang mayor berdalih, panen sawit itu untuk memberi pekerjaan pada mereka yang menganggur. “Dari pada dipanen GAM,” katanya.
Panenan dijual ke PT Socfin Indonesia. Socfin dan belasan perkebunan sawit dan karet lainnya dekat dengan tentara di Aceh Barat. Tentara mem-backing keamanan di wilayah perkebunan dan gantinya, mereka membantu menutupi kekurangan kebutuhan tentara, utamanya solar.
Saya pernah menanyakan kepada Kapten Dedi Hardono kenapa Jakarta hanya memberi jatah solar 200 liter per bulan untuk setiap truk. Apa mereka tak mengetahui keadaan di sini? Katanya, “Mau dibilang tidak tahu, tidak juga. Mau dibilang tahu, nyatanya begini.”
Saat di Aceh Barat, banyak serdadu yang mendengar kabar temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) kalau di Departemen Pertahanan ada indikasi korupsi dana operasi keamanan Aceh hingga Rp 80 miliar. Mendengar itu, seorang prajurit Kostrad dari Makassar kesal luar biasa, “Lebih baik GAM kita pelihara daripada orang seperti itu. Ini namanya tentara makan tentara.”
Negara menggaji tentara di Aceh Rp 17.300 per hari. Hanya Rp 10 ribu yang masuk ke kantor serdadu (Bandingkan dengan uang saku Rp 1.000 per hari yang diterima pasukan Rajawali yang masuk Pidie 1999 silam). Sisanya ditabungkan komandan agar saat pulang tugas, setiap serdadu punya simpanan.
Serdadu-serdadu itu perlu bermanuver untuk mencukupi semua keperluannya. Untuk tiga kali makan sehari, mereka mengeluarkan Rp 3.000. Sisanya untuk membeli barang-barang kebutuhan harian seperti sabun cuci, sampo, dan rokok-kalau memang merokok.
“Tentara kantongnya saja yang banyak. Isinya jangan ditanya,” kata seorang prajurit kepala. Saya menghitung, di PDL (Pakaian Dinas Lapangan) tentara ada delapan kantong seukuran buku saku. Tak usah melirik isi kantong, dari PDL saja Anda sudah bisa membaca bagaimana kondisi keuangan mereka. Saya banyak melihat tentara yang memakai PDL penuh tambalan. Di bagian lutut, siku, paha …..
Saya berpisah dengan pasukan di Aceh Barat akhir Oktober silam, bersamaan dengan habisnya izin peliputan yang dikeluarkan Mayor Jenderal Djali Yusuf.
Suasananya penuh haru. Beberapa prajurit Kopassus tak dapat menahan rasa iri mengetahui sebentar lagi saya menginjak Jakarta. Ada juga yang mengajak saya bertemu di sebuah diskotek di bilangan Kota, Jakarta. “Nanti kalau ke sana gratis. Kalau mau nginap di hotel, telepon saya saja nanti. Percaya deh gratis.”
Sebagian besar ingin melihat hasil reportase saya. “Sayang yah, Abang tidak bawa foto. Kalau bawa dan tulisannya dimuat ‘kan orang di batalyon bisa lihat.” Ada juga yang masih tak paham kalau izin liputan saya hanya dua bulan. “Gue kira lu tinggal setahun di sini. Bareng aja pulangnya.”
Ada juga yang sambil bergurau menyarankan saya untuk menulis yang “baik-baik saja” kalau tak mau “disekolahkan.” Beberapa lainnya meminta saya tak usah menulis soal rokok Japrem (jatah preman) serta soal burung dan VCD di pos. Dengar-dengar, ada instruksi dari komandan militer setempat yang melarang serdadu memelihara burung dan punya VCD di pos. (Di rumah komandan resort militer setempat, saya malah melihat sangkar burung seukuran kamar kos mahasiswa, kuda, dan juga orang utan)
Yang paling berkesan, perpisahan dengan orang pos di Kaway VXI. Seisi pos berkumpul, menggelar perpisahan ala kadarnya. Ada yang memegang gitar, ada yang memeluk baskom, ada yang menenteng piring dan sendok.
Seorang serdadu memberi aba-aba pesiapan: “Cek-cek-cek …. sound-sound-sound …. gendang-gendang … kurang keras, kurang keras. Gendangnya tes … tuk-tuk-tuk … volume-volume-volume … bas-bas-bas. Udah-dah-dah.”
Malam itu mereka melantunkan Malam Terakhir, lagu perpisahan yang sekaligus ditujukan untuk orang-orang yang akan menunggu kepulangan mereka di dermaga Ujung, Surabaya, nanti: “Malam iniiii, malam terakhir bagi kitaaaaaa untuk melepas rasa rindu di dhadaaaa, esok akuuu akan pergi lama tak kembaliii, kuharap engkau selalu sabar menantiii…..”
( TAMAT)
Sumber : Majalah Pantau Edisi februari 2003