Halaman

Selasa, 12 Maret 2013

Para Pengikut Dajal itupun beramai-ramai menyanyikan kepalsuan, kemunafikan dan kebohongan.

Dajjal-ilustrasi
An-Nawas bin Sam'an r a. berkata bahwa pada suatu pagi Rasulullah saw menceritakan tentang Dajal. Kami bertanya, "Rasulullah bagaimana kecepatan Dajal berjalan di muka bumi?" Nabi menjawab, "Seperti mendung yang diterpa angin, maka dia pergi mendatangi suatu kaum dan mengajak mereka (dengan kebohongannya) untuk mengimaninya, lalu dengan segera kaum itu percaya kepadanya. Lalu menyeru langit untuk segera menurunkan hujan. Lalu tanaman-tanaman segera tumbuh subur dan mereka menggembalakan ternaknya yang banyak susunya dan gemuk-gemuk. Kemudian ia mendatangi suatu kaum yang lain, lalu mengajak mereka untuk mengimaninya, tetapi kaum ini menolak semua ajakannya, lalu ditinggalkan kaum tersebut oleh Dajal, mendadak daerah itu menjadi kering dan gersang, tidak ada sedikit pun dari kekayaan (alam) mereka yang tertinggal." (Shahih Muslim)
Rasulullah saw. sangat tepat memberikan gambaran tentang kecepatan Dajal di bumi. Hal ini sebagaimana riwayat tersebut memberikan gambaran tentang gerakan Dajal yang secepat angin. Bahkan, dalam riwayat lain disebutkan bahwa ia dapat melangkah dari timur ke barat dalam sekejap. Apabila kita mau sesekali merenungkan perkembangan teknologi saat ini --apalagi beberapa dekade ke depan-- niscaya prediksi hadits tersebut sangat tepat untuk menggambarkan "teknologi informasi". Dunia yang semakin sempit dikarenakan kecepatan teknologi yang tidak pernah terbayangkan oleh generasi sebelumnya. Kecepatan Dajal yang disebutkan oleh hadits seperti "angin berhembus" itu, tidak lain adalah sistem komunikasi yang didukung oleh teknologi super digital melalui jaringan satelit yang sangat cepat bagaikan kedipan mata.
Langkah informasi dapat seketika mencakup timur dan barat, sesuatu yang bukan lagi aneh pada zaman sekarang apalagi di masa depan. Dajal menjadikan "teknologi pengindraan" (satelit) sebagai sarana untuk mengawasi dunia.

l. Mendatangi Suatu Kaum (Bangsa)
Apa yang diriwayatkan oleh hadits tadi --tentang Dajal mendatangi suatu kaum--mengisyaratkan bahwa propaganda Dajal ke seluruh bangsa-bangsa dengan menawarkan kenikmatan dan kelimpahan materi. Bangsa-bangsa yang menjadi budak ajaran mereka akan segera menikmati limpahan kemakmuran dunia yang dilambangkannya dengan turunnya hujan dan gemuknya ternak peliharaan yang berlimpah air susunya. Sebaliknya, suatu bangsa atau negara yang menolak kerja sama dengan Dajal akan dihancur-luluhkan sebagai satu pelajaran bagi bangsa tersebut dan bangsa lainnya.

Bangsa yang menolak Dajal akan mengalami penderitaan dari segi keuangannya, kemiskinan, dan kekacauan yang luar biasa --sebagaimana diriwayatkan dalam hadits tadi-- dalam bentuk mengalami kekeringan dan sedikitnya kekayaan bangsa tersebut

Siasat licik Dajal adalah menggoda manusia dengan hiburan dan wanita. Telah banyak para pemimpin dunia dan pejabat pemerintahan yang "tersungkur" karena godaan wanita yang sengaja disodorkan melalui jaringan konspirasi Dajal. Hal ini, sudah sejak awal, diperingatkan oleh Rasulullah sebagaimana sabda baliau:

"Dunia ini cantik dan hijau. Sesungguhnya, Allah menjadikan hamu khalifah dan Allah mengamati apa yang kamu lakukan, karena itu jauhilah godaan wanita dan tipuan dunia. Sesungguhnya yang menimpa kaum Bani Israel sebelum kamu adalah karena godaan kaum wanita." (HR Ahmad).

Jaringan konspirasi Dajal menjadikan kaum wanita sebagai "komoditi" (pelacur) bagi kaum turis, bahkan diekspor ke Eropa untuk sekaligus mengorek berbagai informasi dari lawan jenisnya yang terperangkap oleh godaannya tersebut.

Oleh karena itu, umat Islam diperingatkan agar menjauhi jebakan dunia --khususnya godaan wanita-- yang selalu dikemas dengan penuh daya pikat oleh kaum Dajal ini. Ketahuilah bahwa kenikmatan dunia, betapapun gemerlapnya, hanyalah sementara dan tidak mempunyai nilai sama sekali dibandingkan dengan akhirat.

Rasulullah SAW bersabda, "Perbandingan dunia dan akhirat, seperti seorang yang mencelupkan jarinya ke dalam laut, lalu diangkatnya dan dilihatnya (jarinya tersebut). Apa yang melekat di ujung jarinya itulah dunia, sedangkan sisanya yaitu air di lautan, maka itulah kenikmatan akhirat." (HR Muslim dan Ibnu Majah)

2. Berkecamuknya Kemungkaran
Abdullah bin Amru bin al Ash r a. berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, "Dajal akan keluar pada umatku, maka tinggalkanlah penjahat-penjahat manusia dalam kecepatan burung, dan jiwa srigala tidak mengenal kebaikan dan tidak menolak mungkar. Hingga setan menyerupakan mereka dan berkata kepada mereka, 'Tidakkah kamu menyambut saya?' Mereka menjawab, 'Apakah yang kauperintahkan kepada kami dengan menyuruh kami menyembah berhala'…" (HR Muslim).

Hadits tersebut memberikan simbol informasi bahwa Dajal akan menjadikan para pengikutnya menjadi manusia yang tidak lagi mengenal agamanya sendiri. Bahkan, mereka menjadi asing dengan agamanya. Umat Islam telah meninggalkan Al-Qur'an sebagai petunjuk hidupnya. Hal inilah yang diperkirakan dan sangat dikhawatirkan Rasulullah saw, sebagaiman firman Allah SWT:

"... 'Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur'an ini suatu yang tidak diacuhkan'…" (al-Furqan: 30).

Kemungkaran semakin merajalela dikarenakan manusia telah melupakan Allah dan terpikat oleh kenikmatan fatamorgana yang ditawarkan dan dikemas dengan sangat memikat oleh para profesional Dajal.

Persatuan suatu bangsa "diobok-obok" sehingga nasionalisme pecah berantakan menjadi kepingan-kepingan negara kecil yang memudahkan Dajal untuk mengontrol mereka. Konflik antaragama diprovokasi dengan segala isu sistematis, sehingga menjadi alasan pembuktian propaganda kaum Dajal bahwa agama tidak lagi dibutuhkan karena hanya menjadi sumber konflik. Manusia harus merdeka dari segala cara berpikir dogmatis yang memperbudak dirinya. Inilah gaya haru dari paham seorang Yahudi licik, Karl Marx. Ia seorang neo Komunisme yang bagaikan binatang "melata dari bawah bumi" mendesis (daabbatim minal ardhi; an-Naml: 82) menyebarkan
racun terhadap fikrah atau cara berpikir umat Islam dan umat agama lain.

Kaum Dajal itu bergerak bagaikan burung yang terbang dengan cepat hinggap ke sana ke mari dan menyebarkan berbagai keburukan. Jiwanya yang sudah kehilangan "moralitas agama" telah diisi oleh hawa nafsu binatang srigala yang tidak kenai belas kasihan: menindas dan menyebarkan fitnah kebencian. Hal ini telah disebutkan oleh Thomas Hobbes:

"Manusia akan menjadi sekelompok srigala yang siap untuk saling mencabik satu sama lain (homo homini lupus belium omnium contra omnes)."

Segala tatanan moral agama dianggapnya sebagai penghalang dinamika dan kemerdekaan berpikir. Agama hanya akan menjadi simbol statusquo yang sekarat, sehingga harus dihilangkan setahap demi setahap dengan memberikan wacana baru, yaitu kenikmatan dunia hedonis-epikuristik. Yaitu, mengajak umat manusia untuk menerima berhala baru, ideologi baru yang matrialistis-rasional serta berbagai bentuk okultisme, agama mistik, dan berbagai takhayul, sebagaimana dijelaskan oleh hadits tadi: sebagai penjahat yang kecepatannya seperti burung, dan jiwanya bagaikan srigala yang tidak mengenal kebaikan dan tidak mau menolak kemungkaran, serta menyuruh menyembah berhala. Para kaki tangan Dajal, baik sadar atau tidak sadar, terbelenggu akal pikirannya. Buta mata hatinya untuk mendengarkan hati nuraninya. Ia terpesona terhadap kehebatan kekuasaan dan intelektualitas Dajal yang "mengangkangi" dunia tanpa saingan itu. Mereka mendatangi dan menyembah untuk meminta bantuan Dajal agar memperoleh curahan hujan dari langit dan tumbuh subur ternak dan tanamannya.

Begitulah yang dinubuwatkan hadits Rasulullah saw. Orang-orang yang lemah iman dan hilang rasa bangganya untuk berpihak kepada Allah dan Rasul-Nya --mereka malu dan merasa minder dengan menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah Rasul sebagai azas dan panduan hidupnya-- akan dengan mudah terperangkap oleh gemerlapnya kekuatan Dajal.

Abu Sa'id al-Khudri ra. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda:
"Pada waktu keluarnya Dajal, ada seseorang dari kaum mukminin yang pergi (menemui Dajal) kepadanya. Lalu ia disambut oleh polisi-polisi Dajal dan ditanyakan, 'Hendak ke mana engkau?' Ia menjawab, 'Saya ingin menemui orang (Dajal) yang baru keluar.' Lalu mereka bertanya, 'Apakah kamu belum percaya kepada Tuhan kami?' Ia menjawab, 'Tuhan kami tidak samar.' Maka berkatalah polisi Dajal, 'Bunuhlah dia.' Akan tetapi, polisi tersebut ditegur oleh sebagian dari mereka (polisi lain), 'Jangan.' Tuhan kami (Dajal) telah melarang tidak boleh membunuh seorang, selain dari perintahnya. Maka dibawalah mukmin tersebut menghadap kepada Dajal, maka ketika dilihat oleh si mukmin, ia segera berkata, 'Hai sekalian manusia, inilah Dajal yang telah disebut oleh Rasulullah saw'. Maka segera Dajal menyuruh merebahkan mukmin tersebut dan diperintahkan supaya dikupas kulit dan dipukuli punggung dan perutnya. Lalu Dajal bertanya, 'Apakah tetap engkau tidak percaya kepada kami?' Ia menjawab, 'Engkaulah alMasih pendusta.' Kemudian diperintahkan supaya (mukmin tersebut) digergaji dari atas kepalanya hingga ke kakinya menjadi dua bagian, dan berjalan Dajal di tengah dua bagian badan yang telah terbelah dua. Kemudian Dajal memerintahkannya, 'Bangunlah!' Maka bangunlah dan tegaklah ia. Kemudian Dajal kembali bertanya, 'Apakah kamu belum percaya kepadaku?' Ia menjawab, 'Tidak berkurang pengetahuanku tentang engkau, bahkan bertambah yakin.' Kemudian si mukmin berkata, 'Hai sekalian orang, ia (Dajal) tidak dapat berbuat demikian lagi kepada seorang pun'. Maka Dajal berusaha untuk membunuh kembali orang mukmin itu, tetapi Allah telah meletakkan diantara leher hingga belakang orang itu seolah-olah tembaga, hingga tidak dapat disembelihnya. Kemudian dipegang tangan dan kaki orang itu dan dilemparkan. Mereka menyangka ia dilempar ke dalam neraka, padahal ia dilempar ke surga. Kemudian Nabi melanjutkan sabdanya, 'Itulah manusia yang paling besar kesaksiannya (mati syahid) di sisi Tuhan Rabbul 'alamin'…" (HR Muslim)

Anas r a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Akan mengikuti Dajal dari Yahudi Asbahan, tujuh ribu yang memakai pakaian seragam." (HR Muslim)

3. Teror Terhadap Orang Beriman
Dajal akan melakukan teror dengan berbagai cara kepada orang-orang beriman. Mereka membuat isu dan menyebarkan berita bohong, baik melalui berbagai media massa maupun internet, agar orang-orang beriman terpojok dan dinistakan oleh kaumnya. Orang yang bertindak jujur, ikhlas, dan berpihak kepada Allah dan Rasul-Nya akan segera berhadapan dengan teror fitnah yang dilancarkan oleh para pengikut Dajal tersebut. Sehingga datanglah satu kondisi secara sangat nyata dan manusia pun buta mata hatinya melihat kebenaran. Nafsu amarah menjadi akidahnya. Caci maki, umpat, dan hujatan menjadi zikirnya. Lalu fitnah dan kebencian menjadi jubah kebesarannya. Maka menarilah kaum Dajal yang telah memecah belah suatu kaum yang dikawal oleh "mayat-mayat hidup" (zombie).

Kebenaran telah dibohongkan. Kejujuran telah dicemoohkan. Kesalehan telah dilecehkan. Dan para pengikut Dajal itu pun beramai-ramai menyanyikan kepalsuan, kemunafikan, dan kebohongan di atas penderitaan dan darah manusia. Akan tetapi, orang-orang beriman yang masih mempunyai hati nurani tetap waspada terhadap segala bentuk gerakan Dajal zionis yang menampakkan dirinya sebagai al-Masih ad-Dajal. Mereka sadar bahwa Dajal berupaya untuk melakukan cuci otak (brainwashed) kepada kaum mukminin --seperti yang disebutkan hadits Muslim tadi-- dengan cara mengupas kulit dan memukul punggung orang beriman.

Hanya saja, Allah memberikan perlindungannya dengan simbol perisai dari tembaga sehingga orang mukmin itu selamat dari pengaruh Dajal. Mereka (Dajal beserta kaumnya) menyangka bahwa orang mukmin itu telah dibuangnya ke neraka, padahal Allah menggantinya dengan surga (jannatun na'im). Bagi orang beriman, keberpihakan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Betapapun seluruh manusia, pada saat itu, secara sadar atau tidak sadar telah menjadi pengikut dan penyembah berhala yang dipropagandakan kaum Dajal.

0 komentar:

Posting Komentar