Halaman

Kamis, 11 Juli 2013

Asal Nama Papua




Quote:
Sekitar Tahun 200 M, ahli Geography bernama Ptolamy menyebutnya dengan nama Labadios. Belum diketahui maksudnya apa disebut demikian. Di akhir tahun 500 M, pengarang Tiongkok bernama Ghau Yu Kua memberi nama Tungki, dan pada akhir tahun 600 M, Kerajaan Sriwijaya menyebut nama Papua dengan menggunakan nama Janggi.

Nama Tungki dan Janggi telah mengundang berbagai pendapat, kemungkinan nama Tungki yang sudah berubah dalam sebutannya menjadi Janggi atau sebaliknya. Pada akhir tahun 1300, Majapahit menggunakan dua nama, yakni Wanin dan Sram.

Nama Wanin, tentu tidak lain dari semenanjung Onin di daerah Fak-Fak dan Sram, ialah pulau Seram di Maluku. Ada kemungkinan, budak yang dibawa dan dipersembahkan kepada Majapahit berasal dari Onin, dan yang membawanya ke sana adalah orang Seram dari Maluku, sehingga dua nama ini disebut.

Tidore memberi nama untuk pulau ini dan penduduknya sebagai Papa-Ua yang sudah berubah dalam sebutan menjadi Papua. Pada tahun 1545, Inigo Ortiz de Retes memberi nama Nueva Guinee. Dan ada pelaut lain yang memberi nama Isla Del Oro, yang artinya Pulau Emas.

Nama Nueva Guinee kemudian di-Belanda-kan menjadi Nieuw Guinea. Pada tahun 1956, Belanda merubah nama Niew Guinea menjadi Nederlands Nieuw Guinea. Perubahan nama Nieuw Guinea menjadi Nederlands Nieuw Guinea mengandung maksud positive dan maksud negative.

Positivenya ialah karena nama Nieuw Guinea sering dihubungkan dengan sejarah Hindia Belanda (Nederlands Indie), terutama pihak Indonesia sering menggunakan ini sebagai alasan menuntut Nieuw Guinea dari Belanda.

Negativenya ialah bahwa sebelum Nieuw Guinea dijual, lebih dahulu dijadikan milik Belanda. Hal ini terbukti kemudian, bahwa Nederlands Nieuw Guinea bersama Nederlands Onderdaan yang hidup diatasnya, dijual kepada Indonesia pada 1962. Belanda merasa berhak berbuat demikian, karena sejak 1956, West Papua telah dijadikan miliknya.

Apa yang dilakukan Pemerintah Belanda dimasa itu, paralel dengan tindakan Synode Gereja Hervormd Belanda, sebab pada tahun 1956 itu juga, melepaskan tanggung-jawabnya kepada Dewan Gereja-Gereja di Indonesia.

Pada tahun 1961, Komite Nasional Papua yang pertama menetapkan nama Papua Barat. Pada masa Pemerintahan Sementera PBB (UNTEA), menggunakan dua nama, West New Guinea/West Irian.

Pada tanggal 1 Mei 1963, Irian Barat pun resmi menjadi wilayah Republik Indonesia berdasarakan Persetujuan New York yang ditandatangani 15 Agustus 1962. Republik Indonesia masih menggunakan nama Irian Barat.



Namun, Bung Karno sudah mempersiapkan nama kala itu, yang di dapatnya dari salah seorang pejuang tanah air, nama itu ialah Irian Jaya, yang berarti Ikut Republik Indonesia Anti Nedherland dan kata Jaya artinya menang.

Setelah Proklamasi kemerdekaan tanggal 1 Juli 1971, Pemerintah Revolusioner sementara Republik West Papua di Markas Victoria, menggunakan nama West Papua.

Pada tahun 1973, Pemerintah Republik Indonesia di West Papua merubah nama Irian Barat menjadi Irian Jaya.

Pada tahun 2000 nama Irian Jaya kembali menjadi Papua hingga kini.

Nama Papua, aslinya Papa-Ua, asal dari bahasa Maluku Utara. Maksud sebenarnya, bahwa di pulau ini tidak terdapat seorang raja, yang memerintah disini sebagai seorang bapak, itulah sebabnya pulau dan penduduknya disebut demikian.

Papa-Ua artinya anak piatu. Dari sekian nama yang sudah disebut, Komite Nasional Papua pada tahun 1961, memilih dan menetapkan nama PAPUA, karena rakyat disini kelak disebut bangsa Papua dan tanah airnya Papua Barat (West Papua).

Alasan memilih nama Papua, karena sesuai dengan kenyataan, bahwa penduduk pulau Papua sejak nenek moyang tidak terdapat dinasti yang memerintah atau raja disini, sebagaimana yang ada dibagian bumi yang lain. Orang Papua berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah.

Tidak ada yang dipertuan untuk disembah dan tidak ada yang diperbudak untuk diperhamba. Raja-raja yang tumbuh seperti jamur di Indonesia, adalah akibat pengaruh pedagang bangsa Hindu dan Arab dimasa lampau.

Inilah sebabnya maka rakyat Papua anti kolonialisme, imperialisme, dan neo-kolonialisme. Nenek moyang mereka tidak pernah menyembah-nyembah kepada orang lain, baik dalam lingkungan sendiri. Mereka lahir dan tumbuh diatas tanah airnya sendiri sebagai orang merdeka.

Nama Irian adalah satu nama yang mengandung arti politik. Frans Kaisiepo, almahrum, orang yang pertama mengumumkan nama ini pada konperensi di Malino, Ujung Pandang pada tahun 1945, antara lain berkata : “Perubahan nama Papua menjadi Irian, kecuali mempunyai arti historis, juga mengandung semangat perjuangan : IRIAN artinya Ikut Republik Indonesia Anti Nederland”. (Buku PEPERA 1969 terbitan tahun 1972, hal. 107-108).

Nama Irian diciptakan oleh seorang Indonesia asal Jawa bernama Soegoro, bekas buangan Digul-Atas, tetapi dibebaskan sehabis Perang Dunia kedua dan pernah menjabat Direktur Sekolah Pendidikan administrasi pemerintahan di Hollandia antara tahun 1945-1946.



Perubahan nama Irian Barat menjadi Irian Jaya, terjadi pada tahun 1973, juga mengandung arti politik. Regiem Militer Indonesia tidak menginginkan adanya pembagian Pulau Papua menjadi dua dan berambisi guna menguasai seluruhnya.

Pendirian ini berdasarkan pengalaman tentang adanya dua Vietnam-Selatan dan Utara, tentang adanya dua Jerman-Barat dan Timur, dan tentang adanya dua Korea-Selatan dan Utara. Irian Jaya, Irian yang dimenangkan. Jaya, victoria atau kemenangan. Jika huruf “Y” dipotong kakinya, maka akan terbaca Irian Java alias Irian Jawa.

Asal-Usul Cerita Kapal Hantu Flying Dutchman





Kisah Kapal Hantu Flying Dutchman ini merupakan salah satu kisah yang sangat terkenal dan telah melegenda di seluruh dunia . Sudah banyak buku ditulis dengan mengangkat cerita legenda ini, bahkan dalam film Pirates of the Caribbean: Dead Man’s Chest (2006) dan Pirates of the Caribbean: At World’s End (2007) kapal hantu ini juga ikut dimunculkan.

Tapi, entah nyata atau tidaknya kisah ini aku juga belum tahu, atau mungkin masih sama dengan legenda-legenda lainnya yang dianggap hanya sebatas cerita karang/dongeng turun-temurun.



Menurut cerita rakyat, The Flying Dutchman adalah kapal hantu yang tidak akan pernah bisa berlabuh, tetapi harus mengarungi “tujuh lautan” selamanya. Flying Dutchman selalu terlihat dari kejauhan, kadang-kadang disinari dengan sorot cahaya redup. Banyak versi dari cerita ini. Menurut beberapa sumber, Legenda ini berasal dari Belanda, sementara itu yang lain meng-claim bahwa itu berasal dari sandiwara Inggris The Flying Dutchman (1826) oleh Edward Fitzball dan novel “The Phantom Ship” (1837) oleh Frederick Marryat, kemudian di adaptasi ke cerita Belanda “Het Vliegend Schip” (The Flying Ship) oleh pastor Belanda A.H.C. Römer. Versi lainnya termasuk opera oleh Richard Wagner (1841) dan “The Flying Dutchman on Tappan Sea” oleh Washington Irving (1855).

Beberapa sumber terpercaya menyebutkan bahwa pada abad 17 seorang kapten Belanda bernama Bernard Fokke (versi lain menyebut kapten “Ramhout Van Dam” atau “Van der Decken”) mengarungi lautan dari Holland ke pulau Jawa dengan kecepatan luar biasa. Ia dicurigai meminta bantuan iblis untuk mencapai kecepatan tadi. Namun ditengah pelayarannya menuju Cape of God Hope tiba-tiba cuaca buruk, sehingga kapal oleng. Lalu seorang awak kapal meminta supaya pelayaran dihentikan . Tetapi sang kapten tidak mau, lalu dia berkata “aku bersumpah tidak akan mundur dan akan terus menembus badai untuk mencapai kota tujuanku, atau aku beserta semua awak kapalku akan terkutuk selamanya” Tiba -tiba badai menghantam kapal itu sehingga mereka kalah melawan alam. Dan terkutuklah selama-lamanya Sang Kapten bersama para anak kapalnya itu menjadi jasad hidup dan berlayar di tujuh lautan untuk selama-lamanya. Konon, Kapal tersebut dikutuk untuk melayari 7 samudera sampai akhir zaman. lalu cerita itu menyebar sangat cepat ke seluruh dunia.

Mitos akhir-akhir ini juga mengisahkan apabila suatu kapal modern melihat kapal hantu ini dan awak kapal modern memberi signal, maka kapal modern itu akan tenggelam / celaka. Bagi seorang pelaut, pertemuan yang tak diduga dengan kapal hantu The Flying Dutchman akan mendatangkan bahaya bagi mereka dan konon, ada suatu cara untuk mengelak dari kemungkinan berpapasan dengan kapal hantu tersebut, yakni dengan memasangkan tapal kuda di tiang layar kapal mereka sebagai perlindungan. Selama berabad – abad, legenda The Flying Dutchman menjadi sumber inspirasi para sastrawan dan novelis. Sejak tahun 1826 Edward Fitzball telah menulis novel The Pantom Ship (1837) yang diangkat dari pengalaman bertemu dengan kapal seram ini. Banyak pujangga terkenal seperti Washington Irving dan Sir Walter Scott juga tertarik mengangkat legenda ini.

Istilah Flying Dutchman juga dipakai untuk julukan beberapa atlet sepakbola, terutama para pemain ternama asal Belanda. Ironisnya, bintang veteran negeri Orange, Dennis Bergkamp justru dikenal sebagai orang yang phobia atau takut untuk terbang, sehingga ia dijuluki The Non-Flying Dutchman. Beberapa Laporan Penampakan The Flysing Dutchman yang sempat didokumentasikan :

1823 : Kapten Oweb , HMS Leven mengisahkan telah dua kali melihat sebuah kapal kosong terombang ambing ditengah lautan dari kejauhan , namun dalam sekejap mata kapal tersebut kemudian menghilang.

1835 : Dikisahkan pada tahun itu , sebuah kapal berbendera Inggris yang terkepung oleh badai ditengah samudera, didatangi oleh sebuah kapal asing yang disebut-sebut sebagai Kapal Hantu The Flying Dutchman , kemudian secara tiba-tiba kapal asing tersebut mendekat dan seakan-akan ingin menabrak kapal mereka , namun anehnya sebelum keduanya saling berbenturan kapal asing tersebut kemudian lenyap seketika
1881 : Tiga orang anak kapal HMS Bacchante termasuk King George V telah melihat sebuat kapal tak berawak yang berlayar menentang arus kapal mereka. Keesokan harinya , salah seorang daripada mereka ditemui mati dalam keadaan yang mengerikan.

1879 : Anak kapal SS Pretoria juga mengaku pernah melihat kapal hantu tersebut.

1939 : kapal ini terlihat di Mulkzenberg , beberapa orang yang menyaksikannya terkejut kerana kapal usang tersebut tiba-tiba menghilang

1941 : Beberapa saksi mata dipantai Glencairn melaporkan sebuah kapal usang yang menabrak batu karang dan terpecah belah , namun setelah dilakukan penyelidikan di TKP , tidak ada tanda-tanda dari bangkai kapal tersebut.

1942 : Empat orang saksi telah melihat sebuah kapal kosong memasuki perairan Table Bay kemudian menghilang.Seorang pegawai telah mendokumentasikan penemuan tersebut di dalam catatan hariannya.

1942 : Penampakan The Flying Dutchman kembali terlihat oleh awak kapal laut militer M.H.S Jubilee di dekat Cape Town di bulan agustus 1942

1959 : Awak kapal Straat Magelhaen kembali melaporakan melihat sebuah kapal misterius yang terombang-ambing ditengah lautan dalam keadaan kosong dengan teleskopnya.
Davy Jones (The Captain Of Flying Dutchman)

Davy Jones pertama kali tercatat pada tahun 1726 . Menurut kepercayaan para pelaut zaman dahulu, Ia merupakan seorang pelaut (bajak laut) yang mati tenggelam bersama kapalnya kedalam dasar lautan tetapi rohnya dipercaya tetap hidup dan menjadi simbol roh dilautan. Tidak ada seorang pun yang tau siapa Davy Jones itu, bahkan ada yang menghubung-hubungkannya dengan legenda “Kapal Flying Dutchman” dimana Davy Jones dipercaya sebagai kapten dari kapal hantu tersebut atau juga fenomena dihubungkan dengan fenomena yang sering terjadi di “segitga Bermuda”. tetapi melalui legenda dan dongeng para pelaut, dia disimbolkan sebagai roh dasar laut.

Pada 1751 namanya disebutkan dalam Bab 15 dalam buku Tobias George Smollett yang berjudul The Adventures of Peregrin Pickle: " Demi Tuhan! Jack, Anda mungkin berkata apa yang Anda mau, tetapi aku akan terkutuk kalau itu bukan Davy Jones sendiri. Aku mengenalnya lewat mata cawannya,tiga baris giginya, tanduk dan ekornya, dan asap biru yang keluar dari lubang hidungnya. Apa yang dia mau dariku? aku yakin aku tidak pernah melakukan pembunuhan, kecuali di jalan profesiku, dan aku juga tidak pernah menganiaya siapapun sejak pertama kali aku pergi ke laut. "

Dia digambarkan sebagai sosok yang sombong dan suka meneror, “pemimpin para roh jahat dari dasar laut, dan sering terlihat dalam berbagai bentuk, berdiri di antara tali-temali kapal pada saat menjelang badai, bangkai kapal dan bencana lainnya. "
Pada tahun 1803 para pelaut menggunakan istilah “Davy Jones’s locker” sebagai bahasa slang atau istilah untuk yang pertama kali. Davy Jones’s Locker atau loker davy jones dalam bahasa Indonesia adalah sebutan untuk kuburan atau tempat peristirahatan terakhir bagi semua orang yang tewas tenggelam di laut.

"… pelaut akan bertemu kuburan bawah air, atau untuk menggunakan istilah pelaut, pergi ke Davy Jones’s locker."

Seperti kebanyakan kisah-kisah legenda laut yang abadi, banyak terdapat teori mengenai Davy Jones. Ada yang bilang dia adalah seorang pelaut atau bajak laut yang meninggal di laut, sementara yang lain menyatakan bahwa Davy Jones adalah nama seorang pemilik bar dalam cerita balada ‘Jones Ale is Newe,’ dan loker mengerikan yang dia punya mungkin merupakan tempat di mana dia menyimpan stok minumannya.

Pemilik bar di London ini pada abad ke16,dikatakan menjalankan sebuah bar di mana para pelaut yang minum ditempatnya akan dibius dan dimasukkan ke dalam sebuah loker, dan pada saat mereka terbangun,mereka akan menemukan diri mereka telah berada disebuah kapal di laut dan menemukan bahwa mereka telah dipaksa masuk ke dalam Angkatan Laut oleh “Press Geng”(suatu unit khusus di bawah komando seorang perwira berwenang yang tugasnya memaksa orang-orang untuk masuk ke dalam dinas militer).
Beberapa ahli mengatakan bahwa Davy mungkin merupakan bentuk lain dari penyimpangan “duppy”,(roh atau hantu dalam kepercayaan orang afrika dan Indian), dan juga mengatakan bahwa tanda D dan V dalam kata Davy merupakan simbol dari setan.

Dunia Makhluk Halus Menurut Kejawen




  Pada kenyataannya banyak orang yang tertarik menelaah pada dunia mahkluk halus, barang kali mereka mendengar beberapa cerita atau membaca tulisan atau dari buku-buku. Bagi orang yang telah mencapai ilmu sejati dalam kejawen atau mungkin yang sudah menguasai metafisika, dunia mahkluk halus itu biasa adanya, bukannya omong kosong. Dibawah ini digambarkan informasi dari dunia-dunia mereka versi kejawen,dimana ( lebih dari satu dunia ) paling tidak yang terjadi ditanah Jawa.

Banyak ahli kejawen mempunyai pendapat yang sama bahwasanya di dalam dunia yang satu dan sama ini, sebenarnya dihuni oleh tujuh macam alam kehidupan, termasuk alam yang dihuni oleh manusia. Di dunia ini memiliki tujuh saluran kehidupan yang ditempati oleh bermacam-macam mahkluk. Mahkluk-mahkluk dari tujuh alam tersebut, pada prinsipnya mereka mengurusi alamnya masing-masing, aktivitas mereka tidak bercampur setiap alam mempunyai urusannya masing-masing. Dari tujuh alam itu hanyalah alamnya manusia yang mempunyai matahari dan penduduknya yang terdiri dari manusia, binatang dan lain-lain mempunyai badan jasmani.
Penduduk dari 6 alam yang lain mereka mempunyai badan dari cahaya (badan Cahya) atau yang secara populer dikenal sebagai mahkluk halus – wong alus – mahkluk yang tidak kelihatan.
Di 6 alam itu tidak ada hari yang terang berderang karena tidak ada matahari. Keadaannya seperti suasana malam yang cerah dibawah sinar bulan dan bintang-bintang yang terang, maka itu tidak ada sinar yang menyilaukan seperti sinar matahari atau bagaskoro (Jawa halus) Konon Ada 2 macam mahkluk halus : Mahkluk halus asli yang memang dilahirkan – diciptakan sebagai mahkluk halus.
Mahkluk halus yang berasal dari manusia yang telah meninggal. Seperti juga manusia ada yang baik dan jahat, ada yang pintar dan bodoh.

Mahkluk-mahkluk halus yang asli mereka tinggal di dunianya masing-masing, mereka mempunyai masyarakat maka itu ada mahkluk halus yang mempunyai kedudukan tinggi seperti Raja-raja, Ratu-ratu, Menteri-menteri dll, sebaliknya ada yang berpangkat rendah seperti prajurit, pegawai, pekerja dll.
Inilah kenyataannya yang bukan hanya merupakan ilusi atau bayangan semata, alam lain itu antara lain :
1. Merkayangan
Kehidupan di saluran ini hampir sama seperti kehidupan di dunia manusia, kecuali tidak adanya sinar terang seperti matahari. Dalam dunia merkayangan mereka merokok, rokok yang sama seperti dunia manusia, membayar dengan uang yang sama, memakai macam pakaian yang sama, ada banyak mobil yang jenisnya sama di jalan-jalan, ada banyak pabrik-pabrik persis seperti di dunia manusia. Yang mengherankan adalah, mereka itu memiliki tehnologi yang lebih canggih dari manusia, kota-kotanya lebih modern ada pencakar langt, pesawat-pesawat terbang yang ultra modern dll.
Ada juga hal-hal yang mistis di dunia Merkayangan ini, kadang-kadang bila perlu ada juga manusia yang diundang oleh mereka antara lain untuk: melaksanakan pertunjukkan wayang kulit, menghadiri upacara perkimpoian, bekerja di batik, rokok dan manusia-manusia yang telah melakukan pekerjaan di dunia tersebut, mereka itu dibayar dengan uang yang syah dan berlaku seperti mata uang di dunia ini.

2. Jin-Siluman
Mahkluk halus ini konon suka tinggal didaerah yang ber air seperti di danau-danau, laut, samudera dll, masyarakat siluman diatur seperti masyarakat jaman kuno. Mereka mempunyai Raja, Ratu, Golongan Aristokrat, Pegawai-pegawai Kerajaan, pembantu-pembantu, budak-budak dll. Mereka bisa tinggal di Keraton-keraton, rumah-rumah bangsawan, rumah-rumah yang bergaya kuno dll.
Kalau orang pergi berkunjung ke Solo-Yogyakarta atau jawa Tengah, orang akan mendengar cerita tentang beberapa siluman antara lain: Kanjeng Ratu Kidul – Ratu Laut Selatan, Ratu legendaris, berkuasa dan amat cantik, yang tinggal di istananya di Laut Selatan, dengan pintu gerbangnya Parangkusumo. Parangkusumo ini terkenal sebagai tempat pertemuan antara Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul, dalam pertemuan itu, Kanjeng Ratu Kidul berjanji untuk melindungi semua raja dan kerajaan Mataram. Beliau mempunyai seorang patih wanita yang setia dan sakti yaitu Nyai Roro Kidul, kerajaan laut selatan ini terhampar di Pantai Selatan Pulau Jawa, di beberapa tempat kerajaan ini mempunyai Adipati. Seperti layaknya disebuah negeri kuno di kerajaan laut selatan ini juga ada berbagai upacara, ritual dll dan mereka juga mempunyai angkatan perang yang kuat. Sarpo Bongso-Penguasa Rawa Pening.
Sebuah danau besar yang terletak di dekat kota Ambarawa antara Magelang dan Semarang. Sarpo Bongso ini siluman asli, yang telah tinggal di telaga itu untuk waktu yang lama bersama dengan penduduk golongan siluman. Sedangkan kanjeng Ratu Kidul bukanlah asli siluman, beberapa abad yang lalu beliau adalah seorang Gusti dikerajaan di Jawa, tetapi patihnya Nyai Roro Kidul adalah siluman asli sejak beberapa ribu tahun yang lalu.

3. Kajiman

Mereka hidup dirumah-rumah kuno di dalam masyarakat yang bergaya aristokrat, hampir sama dengan bangsa siluman tetapi mereka itu tinggal di daerah-daerah pegunungan dan tempat-tempat yang berhawa panas. Orang biasanya menyebut merak Jim.

4. Demit

Bangsa ini bertempat tinggal di daerah-daerah pegunungan yang hijau dan lebih sejuk hawanya, rumah-rumah mereka bentuknya sederhana terbuat dari kayu dan bambu, mereka itu seperti manusia hanya bentuk badannya lebih kecil. Disamping masyarakat yang sudah teratur seperti Merkayangan, Siluman, Kajiman, dan Demit masih ada lagi dua menjelaskannya lebih detail, secara singkat kedua masyarakat itu adalah untuk mereka yang jujur, suci dan bijak. Mahkluk halus yang tidak sempurna.
Disamping tujuh macam alam permanen tersebut, ada sebuah saluran yang terjepit, dimana roh-roh dari manusia-manusia yang jahat menderita karena kesalahan yang telah mereka perbuat pada masa lalu, ketika mereka hidup sebagai manusia. Manusia yang salah itu pasti menerima hukumaan untuk kesalahan yang dilakukannya, hukuman itu bisa dijalani pada waktu dia masih hidup di dunia atau lebih jelek pada waktu sesudah kehidupan (afterlife) diterima oleh orang-orang yang sudah melakukan: fitnah, tidak jujur, prewangan (orang yang menyediakan raganya untuk dijadikan medium oleh mahkluk halus), blackmagic, guna-guna yang membuat orang lain menderita, sakit atau mati dll, pengasihan supaya dikasihi oleh orang lain dengan cara-cara yang tidak wajar, membunuh orang, dll perbuatan yang nista.
Memuja berhala untuk menjadi kaya (pesugihan) yang dimaksud dengan berhala dalam kejawen bukanlah patung-patung batu, tetapi adalah sembilan macam mahkluk halus yang katanya, “suka menolong” manusia supaya menjadi kaya dengan kekayaan meterial yang berlimpah.
Pemujaan terhadap kesembilan mahkluk jahat itu merupakan kesalahan fatal, mereka itu bila dilihat dengan mata biasa kelihatan seperti:

Jaran Penoreh – kuda yang kepalanya menoleh kebelakang
Srengara Nyarap – anjing menggigit
Bulus Jimbung – bulus yang besar
Kandang Bubrah – kandang yang rusak
Umbel Molor – ingus yang menetes
Kutuk Lamur – sebangsa ikan, penglihatannya tidak terang
Gemak Melung – gemak, semacam burung yang berkicau
Codot Ngising – kelelawar berak
Bajul Putih – buaya putih.
Bagi mereka yang telah melakukan kesalahan dengan jalan memuja atau menggunakan “jasa-jasa baik“ berhala diatas, mereka tentu akan mendapat hukuman sesudah “kematiannya“ badan dan jiwa mereka mendapat hukuman persyaratan sangkan paraning dumadi (datang dari suci, di dunia ini hidup suci dan kembali lagi ke suci) Berbagai macam hukuman sesudah kehidupan Ini merupakan hukuman yang teramat berat, tidak ada penderitaan yang seberat ini, maka itu setiap orang harus berusaha untuk menghindarinya.

Bagaimana caranya? mudah saja: bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dengan melakukan perbuatan yang baik dan benar, berkelakuan baik, jujur, suka menolong, jangan menipu, jangan mencuri, jangan membunuh, jangan menyiksa, jangan melakukan hal-hal yang jelek dan nista.

Ada pepatah Jawa yang bunyinya “Urip iku mung mampir ngombe“ artinya hidup didunia ini hanyalah untuk mampir minum, itu artinya orang hidup didunia ini hanya dalam waktu singkat maka itu berbuatlah yang pantas/”bener”.

Kerajaan Shambala Yang Tersembunyi di Himalaya




Ada sebuah kepercayaan yang meyakini bahwa di antara puncak-puncak bersalju Himalaya dan lembah-lembah yang terpencil ada sebuah tempat yang tidak tersentuh, sebuah kerajaan dimana kebijakan universal berada di sana.

Di dalam teks-teks kuno, seperti Kalachakra dan Zhang Zhung disebutkan, kerajaan tersebut bernama Shambahala yang berasal dari bahasa Sansakerta dan memiliki arti Tempat Kedamaian atau Tempat Keheningan. Kerajaan tersebut memiliki ibu kota bernama Kalapa dengan raja dari dinasti Kulika.

Banyak orang berusaha mencari kebenaran akan adanya kerajaan itu, namun tak kunjung menemukannya. Maka ada yang kemudian mempercayainya, dan ada pula yang menganggap hanyalah simbol penghubung antara yang nyata dan yang gaib.


Tetapi, dalam teks kuno Zhang Zhung, kerajaan tersebut memiliki kesamaan dengan Lembah Sultej di Himachal Pradesh. Sedangkan Bangsa Mongolia menyamakan dengan lembah-lembah tertentu di Siberia Selatan.

Di sekitar tahun 1833, menyebutkan bahwa Shambhala terletak diantara 45’ dan 50’ lintang utara. Nicholas Roerich (1874-1947), penganut teosofi melakukan penjelajahan pada tahun 1923-1928 dengan melintasi 35 puncak gunung untuk menemukan kerajaan tersebut. Nazi pun, pada tahun 1930, 1934 dan 1938 pernah mengirim tim ekspedisi pencari Shambhala.

Muncul keyakinan bahwa raja Shambhala yang ke-25, Rudra Cakrin akan memimpin pasukan untuk melawan sebuah pasukan yang jahat dan raja itu akan menjadi pemenang. Alex Berzin, seorang cendekiawan meramalkan bahwa peristiwa itu akan terjadi pada tahun 2424 Masehi.

Ada juga kepercayaan bahwa Shambhala merupakan tempat makhluk luar angkasa yang menurut orang tersebut memiliki perlindungan spritual sehingga sulit ditemukan. Menurut mereka, ada banyak pintu menuju kerajaan Shambhala yang berada diseluruh dunia:
1. Taman Nasional Gua Mammoth di Kentucky, AS
2. Gunung Shasta di California, AS yang juga diyakini terdapat kota Agharta dibawah gunung itu
3. Kota Manaus, Brazil
4. Mato Grosso, Brazil
5. Air Terjun Iguacu, perbatasan Brazil dan Argentina
6. Gunung Epomeo, Italia
7. Pegunungan Himalaya, Tibet
8. Pyramid of Giza, Mesir
9. King Solomon’s Mines
10. North and South Poles

Namun yang jelas, Kerajaan itu belum diyemukan hingga saat ini meski ada yang meyakini bahwa para biksu yangmencari tempat itu sudah menemukan dan tinggal disana.

Letusan Toba dan Peradaban Nenek Moyang di Asia


Beberapa hari yang lalu ilmuwan mengemukakan teori tentang letusan gunung Toba, gunung berapi terbesar zaman prasejarah yang berkaitan dengan inti es Greenland dan Antartika, penemuan ini memperkuat perubahan iklim masa lalu yang juga menjelaskan migrasi nenek moyang manusia dari Asia ke seluruh dunia.


Peneliti iklim Denmark (dipublikasikan pada jurnal Climate of the Past) mengubah pandangan mengenai pegunungan di Sumatera, dimana sisa-sisa letusan gunung Toba terjadi sekitar 74,000 tahun lalu meletus dan menjadi letusan gunung berapi terbesar di Bumi dalam dua juta tahun terakhir.

Letusan Gunung Toba Dan Kelanjutan Peradaban


Letusan gunung Toba memuntahkan magma lebih dari 2800 km3, dan sebanyak 800 km3 dilemparkan ke atmosfer sebagai abu yang menyebar hingga ke barat Laut Arab. Aerosol kimia terbawa lebih jauh dan telah terdeteksi di inti es Greenland dan Antartika. Debu vulkanik dan gas seperti belerang dioksida dapat memberikan efek dramatis pada iklim bumi.

Sulfur dioksida menyatu dengan air untuk membentuk tetesan kecil (atau aerosol) dari asam sulfat, yang dapat membuat kabut mengurangi sinar matahari mencapai permukaan bumi, iklim ini dan memicu musim dingin vulkanik. Letusan gunung Toba bertepatan dengan lonjakan konsentrasi sulfat di inti es Greenland, diikuti satu abad atau lebih terjadi pendinginan drastis di mana suhu turun sekitar 10 derajat Celcius. Ilmuwan dari Universitas Kopenhagen Niels Bohr Institute menggunakan data tentang letusan untuk menghubungkan pengeboran inti es Greenland dan Antartika dengan mempelajari keasaman es.


Letusan gunung Toba mengeluarkan awan abu besar dan asam sulfat hingga ke atmosfer dan stratosfer. Awan menyebar di seluruh dunia dan setelah beberapa tahun asam sulfat turun kembali ke bumi dalam bentuk hujan asam.

Para peneliti melacak asam ini di lapisan es Greenland dan di belahan bumi Antartika. Semua ini memungkinkan untuk meng-sinkronisasi dua belahan dengan presisi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Rangkaian puncak keasaman dari dua inti es sangat sesuai, peneliti telah menghitung lapisan yang tertimbun selama bertahun-tahun antara puncak asam didua inti es.

Temuan baru ini memungkinkan para ilmuwan untuk membandingkan inti es Greenland dan Antartika dengan akurasi tahunan. Dengan cara ini, mereka dapat menggabungkan pengetahuan terdahulu tentang perubahan iklim di kutub utara dan selatan. Dengan mengukur kandungan gas rumah kaca dalam inti es, para ilmuwan sebelumnya telah memiliki ketidakpastian relatif tentang kejadian beberapa ratus tahun lalu. Tetapi dengan lapisan vulkanik dapat menghubungkan core dalam beberapa dekade.

Gunung Toba Berperan Dalam Perubahan Iklim

Ada banyak spekulasi tentang bagaimana suatu letusan besar mempengaruhi iklim, awan raksasa berpartikel belerang dilemparkan ke stratosfer yang melindungi dari radiasi matahari, tentunya hal ini menyebabkan bumi menjadi dingin. Pemodelan menunjukkan letusan besar gunung Toba bisa menyebabkan pendinginan hingga sepuluh derajat di suhu global selama beberapa dekade.

Sejarah yang sebelumnya dari letusan gunung Toba menegaskan bahwa hal itu menyebabkan cuaca dingin lebih dari 1000 tahun di Greenland. Tetapi temuan baru menunjukkan bahwa letusan gunung Toba tidak menyebabkan pendinginan global yang berkepanjangan, karena bertepatan dengan pemanasan di Antartika.


Dalam penelitian inti es dapat terlihat bahwa tidak ada pendinginan global secara umum sebagai akibat dari letusan gunung Toba. Tentu saja ada faktor fluktuasi pendingin besar di belahan kutub utara, tetapi menjadi lebih hangat di belahan bumi selatan, sehingga pendinginan global berjalan singkat.

Pola iklim berlawanan di utara dan selatan bersamaan dengan perubahan iklim mendadak di utara dapat dilihat di seluruh Zaman Es. Hal ini tentu saja menyatakan secara langsung bahwa gunung Toba meletus selama satu periode di mana pendinginan besar-besaran terjadi di utara. Dalam kaitan periode pendinginan di Greenland pada Zaman Es, belum banyak penemuan letusan besar seperti yang terjadi pada ledakan gunung Toba.
Nenek Moyang Manusia Berasal Dari Asia?

Ini berkaitan dengan studi Michael Storey dari Roskilde University sebelumnya, dia menerbitkan sebuah studi presisi letusan yang tak terlihat hingga sekarang, letusan gunung Toba yang terjadi 73,880 tahun yang lalu.

Storey juga menyatakan studi lain, bahwa nenek moyang manusia berada di Asia Tenggara sekitar 74,000 tahun yang lalu, sejalan dengan revisi terbaru evolusi manusia dan dengan bukti arkeologi dari Arab dan India pada masa Pra-ledakan gunung Toba yang juga menjelaskan manusia modern dari Afrika.

Sejarah ditandai dengan Haplotype disebut L3 yang berasal sebelum manusia meninggalkan Afrika, fosil genetik yang ditemukan pada banyak orang Afrika dan non-Afrika. Catatan Pedro Soares (Molecular Biology Evolution 29, 915–927, 2012) menyatakan molekuler L3 sudah ada sejak 60,000 hingga 70,000 tahun yang lalu yang menunjukkan bahwa manusia meninggalkan Afrika beberapa ribu tahun setelah ledakan gunung Toba.

Haplotype tertua yang merupakan keturunan langsung dari L3 luar Afrika berusia 60,000 hingga 65,000 tahun. Fosil ini memunculkan beberapa pendapat variasi genetik yang tersebar sepanjang Arab hingga ke Bali. Stephen Oppenheimer, seorang ahli genetika University of Oxford mengatakan bahwa manusia bergerak sangat cepat, sebelum mutasi baru terjadi.

Rute yang paling masuk akal dalam migrasi cepat tersebut adalah di sepanjang pantai Samudra Hindia. Pada pertengahan tahun 2000-an, sebagian besar peneliti mengenal mutasi ekspress, hal ini dikenal migrasi pasca ledakan gunung Toba. Kemudian analisis mtDNA dan kromosom Y pria menyatakan bahwa manusia keluar dari Afrika mungkin kurang dari 60,000 tahun yang lalu.

Dan dalam review tahun 2006 yang diterbitkan Paul Mellars (Going East: New Genetic and Archaeological Perspectives on the Modern Human Colonization of Eurasia), Mellars berpendapat bahwa catatan arkeologi Asia dan Australia tidak hanya didukung bukti genetik migrasi pasca ledakan gunung Toba, tetapi juga menunjukkan bagaimana kemajuan budaya membantu untuk membentuk peradaban baru dibelahan dunia.




Manusia Modern Hidup Di India Sebelum Letusan Gunung Toba

Manusia modern hidup di India sebelum terjadinya letusan Gunung Toba, jauh lebih awal dibandingkan penyebaran manusia modern di Eropa ataupun Asia Barat.

Gunung Toba (super volcano) telah meletus secara eksplosif beberapa kali selama kurun waktu 1,2 juta tahun terakhir. Dalam kurun waktu itu, letusan yang terbesar dan paling merusak Bumi terjadi sekitar 74,000 tahun yang lalu. Diperkirakan material vulkanik dimuntahkan sekitar 2800 kilometer kubik selama terjadinya letusan super, jauh lebih besar dari letusan Krakatau dan Pinatubo.

Ketika terjadinya letusan Gunung Toba 74,000 tahun yang lalu, manusia dari berbagi wilayah bumi termasuk Neanderthal dan Homo Floresiensis harus beradaptasi dengan cuaca dingin. Semua spesis menciptakan alat batu, mengumpulkan tanaman dan hewan buruan sebagai mata pencaharian.

Catatan iklim Palaeo yang dikombinasikan dengan data genetik mungkin menunjukkan penurunan drastis jumlah manusia yang selamat ketika terjadinya ledakan (bottleneck). Salah satu misteri yang paling penting dalam memahami dampak letusan Gunung Toba adalah kurangnya penelitian arkeologi melihat sisa-sisa yang sebenarnya ditinggalkan oleh manusia modern, sisa-sisa peninggalan yang secara langsung tertutupi hujan abu diwilayah India.
Penelitian Genetik Manusia Modern India

Menurut teori Bottleneck Genetik, antara 50,000 dan 100,000 tahun yang lalu populasi manusia menurun tajam sekitar 3,000 hingga 10,000 orang yang selamat. Perkiraan ini didukung bukti genetik menunjukkan bahwa manusia yang ada saat ini adalah keturunan dari populasi yang sangat kecil antara 1000 hingga 10,000 pasangan sekitar 70,000 tahun yang lalu.

Para pendukung teori Bottleneck Genetik menunjukkan bahwa letusan Toba mengakibatkan bencana ekologis global, termasuk perusakan vegetasi dengan kekeringan parah diwilayah hutan hujan tropis dan musiman. Musim dingin vulkanik terjadi selama 10 tahun dipicu letusan gunung telah menghancurkan sumber makanan manusia dan menyebabkan penurunan berat dan ukuran populasi. Perubahan lingkungan menghambat perkembangan spesies, termasuk diantaranya Hominid. Perbedaan genetik antara manusia modern mencerminkan perubahan spesis dalam 70,000 tahun terakhir, teori ini lebih mungkin daripada diferensiasi bertahap selama jutaan tahun.

Baru-baru ini penelitian genetik membantah adanya bukti keberadaan manusia modern di Asia Selatan sebelum letusan Gunung Toba di Sumatera yang terjadi sekitar 74,000 tahun lalu. Penelitian tersebut diberitakan Proceedings of the National Academy of Sciences yang menyertakan hasil analisis tentang keberadaan manusia modern.

Letusan Gunung Toba dianggap sebagai salah satu bencana yang menakutkan karena peristiwa ini menyangkut evolusi manusia sekitar 74,000 tahun yang lalu, baik sebelum maupun sesudah letusan gunung. Seperti yang diungkapkan Prof Martin Richards dari University of Huddersfield tahun 2005 lalu, penelitian ini melibatkan bukti DNA mitokondria yang menunjukkan bahwa manusia modern secara anatomis tersebar dari Afrika. Dimana Afrika dianggap sebagai tanah kelahiran yang tersebar sepanjang jalur pantai selatan, dari Horn hingga Saudi terjadi sekitar 60,000 tahun yang lalu pasca letusan Toba.

Akan tetapi, para arkeolog menggali dan menemukan bukti baru di India kemudian mengklaim bahwa manusia modern berada diwilayah India sebelum terjadinya letusan Gunung Toba, jauh lebih awal (120,000 tahun yang lalu) dibandingkan penyebaran manusia modern di Eropa ataupun wilayah Timur Tengah. Temuan ini didasarkan pada penemuan alat batu yang terdapat dibawah lapisan abu Toba, yang tersebar keseluruh dunia.

Salah satu hal yang tidak disertakan pada penelitian tahun 2005 adalah bukti dari India, yaitu urutan mitokondria. Dengan menggunakan DNA mitokondria pada populasi yang ada saat ini dan memproyeksikan berbagai bukti lain dalam penelitian, hal ini menghasikan estimasi yang lebih tepat untuk memperkirakan waktu kedatangan manusia modern di India. Bukti menunjukkan penyebaran dari Afrika dan pemu****n India tidak lebih awal dari 60,000 tahun yang lalu.

Kesamaan arkeologi erat hubunganya dengan teknologi alat batu Afrika dan India setelah 70,000 tahun yang lalu. Kemudian fitur budaya seperti manik-manik dan ukiran menunjukkan kemiripan bahan India bersumber dari wilayah Afrika. Jadi, ada manusia modern di India sebelum letusan Toba, karena bukti alat-alat batu ditemukan disana tapi mereka bisa saja spesis Neanderthal atau populasi pra-modern lainnya.

Sementara manusia kuno yang hidup di Asia Barat dan Eropa tergantikan oleh manusia modern sekitar 50,000 hingga 40,000 tahun lalu yang diiringi teknologi baru, diperkirakan awal manusia Neanderthal hidup diwilayah tersebut.

Budaya Menyelam Kaum Wanita di Pulau Cheju Korea


Berbekal baju selam karet hitam, goggle (kacamata) selam, keranjang di bahu dan sebuah sekop mini di pergelangan tangan, mereka menyelam ke dasar laut. Tanpa alat bantu pernapasan kecuali kemampuan paru-paru yang bisa bertahan selama dua menit lebih. Perempuan-perempuan itu "bertarung" dengan waktu untuk menjemput abalone di kedalaman belasan meter.
Merekalah perempuan-perempuan perkasa yang legendaris dari Pulau Cheju, Korea Selatan. Penyelam-penyelam alam yang andal. Secara turun-temurun, perempuan-perempuan Pulau Cheju dan Udo, ditempa kerasnya alam menjadi penyelam paling terampil di dunia.

Rekor Selam!
Quote:
Selama empat jam dalam satu hari, mereka menyelami dasar laut berkarang. Antara ke dalaman 12-20 meter, mereka bergerak sigap mencari aneka hasil laut bernilai mahal.
Rata-rata selama 2 menit mereka menahan napas di kedalaman untuk mengumpulkan satu jenis hasil laut saja. Begitu pun ada juga yang mampu bertahan sampai 3 menit 38 detik, sebuah rekor dunia!

Perempuan-perempuan laut ini memang unik. Dalam penyelaman, mereka bergerak dalam kelompok-kelompok 3-4 orang di satu titik lokasi. Gerakan tiap kelompok seirama, seindah tarian pertunjukan senam air beregu pada olimpiade. Seandainya mereka dilatih dan diikutsertakan dalam kejuaraan selam dunia, mereka pasti bisa mencatat prestasi selam yang luar biasa!

Berburu Abalone
Umumnya mereka "memanen" aneka jenis biota laut seperti landak laut, timun laut, ubur-ubur spesial dan gurita. Namun dari seluruh jenis yang dikumpulkan dalam keranjang yang terikat di bahu mereka, abalone adalah yang paling bernilai. Sejenis siput laut bercangkang keras ini merupakan seafood yang bernilai sangat mahal.

Adalah suatu keberuntungan jika mereka bisa membawa beberapa ekor abalone dalam satu hari penyelaman. Karena abalone adalah makanan laut langka yang sangat bernilai, melebihi lobster bahkan kaviar!


Untuk mendapatkan abalone, mereka rela mengambil risiko yang paling berbahaya. Bukan main-main, abalone termasuk hewan laut berbahaya. Salah pegang, kedua cangkangnya bisa menutup dengan cepat dan menjepit tangan. Jika terjepit cangkang abalone, alamat cacat seumur hidup atau kematian. Tercatat, rata-rata satu perempuan laut Pulau Cheju tewas terjepit abalone. Sebuah harga yang dibayar teramat mahal.

Kaya dan Terhormat
Walau terlihat seperti pekerja kasar, jangan pandang remeh perempuan-perempuan laut ini. Di Korea Selatan, penyelam-penyelam perempuan ini adalah orang-orang yang terkaya dan terhormat.

Mereka melakukan penyelaman hanya pada waktu-waktu atau musim tertentu saja. Jika tidak sedang menyelam, mereka akan mengurus bisnis atau beristirahat di villa atau rumah mewah mereka. Rata-rata perempuan laut Cheju memang bermukim di tepi laut. Namun mereka juga memiliki rumah mewah di kota, bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai tamat perguruan tinggi.

Bahkan tak jarang yang memiliki usaha restoran atau penginapan di daerah wisata Pulau Cheju. Mengapa mereka menyelam? Ini adalah sebuah tradisi. Di masa lalu, Korea menganut sebuah tradisi kuno yang sangat mengagungkan derajat lelaki. Begitu terhormatnya posisi kaum lelaki, sehingga penguasa Korea di masa lalu menetapkan pajak yang tinggi pada kaum lelaki yang bekerja. Namun karena pajak yang tinggi itu, walaupun penghasilan (gaji/upah) tinggi, hasil yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga menjadi minim.

Sementara perempuan dipandang lebih rendah derajatnya, sehingga pajak untuk wanita bekerja juga dipatok rendah. Akibatnya, walau gaji rendah, perempuan ternyata bisa menghasilkan uang yang lebih banyak daripada lelaki.

Menyiasati hal ini, perempuan-perempuan di Pulau Cheju dan sekitarnya mengambil peluang. Mereka menggantikan posisi suaminya dan bekerja untuk mencari nafkah keluarga. Hidup di tepi laut berarti menggali hasil laut. Maka, perempuan-perempuan ini pun mulai menyelam ke dasar laut sebagai pencari uang tambahan bagi lelaki yang hidup sebagai nelayan. Ternyata hasil yang diperoleh perempuan tersebut jauh melebihi hasil kaum lelaki.

Sejak itu, perempuan-perempuan Pulau Cheju pun alih profesi menjadi penyelam sebagai tulang punggung ekonomi keluarga. Sementara lelaki memilih untuk mengambil alih pekerjaan wanita mengurus rumah tangga, mulai dari memasak, mencuci dan mengurus anak. Dari sini lah tradisi menyelam bagi perempuan-perempuan Cheju menggeser nilai lama.

Sejak abad ke-19, kebiasaan perempuan-perempuan laut ini pun diwariskan dari generasi ke generasi. Dan kini, perempuan-perempuan Cheju pun mendapat tempat terhormat sebagai "kepala keluarga".

Antara Tradisi dan Ekonomi
Perempuan-perempuan laut kini menjadi ikon wisata Pulau Cheju dan sekitarnya. Dikenal dengan sebutan "Haenyo". Aktivitas selam mereka terkadang menjadi atraksi menarik bagi sejumlah turis di wilayah tersebut. Melakoni nafkah sebagai penyelam hasil laut, mereka tidak menggunakan alat selam standar, kecuali baju karet, goggle selam dan sebuah sekop mini dan keranjang. Ini sesuai dengan peraturan ketat pemerintah Korea Selatan.

Penggunaan alat selam modern tidak diperkenankan untuk mencari nafkah hasil laut, dan penggunaan alat selam modern hanya diizinkan untuk olahraga dan wisata saja. Seandainya tetap ingin menyelam untuk nafkah, maka yang diizinkan hanya membawa sebuah keranjang, sebuah sekop kecil dan kacamata selam. Itu pun dengan izin pula! Karena itulah, perempuan-perempuan laut ini sama sekali tidak menggunakan alat bantu pernapasan sama sekali dalam menyelam.
Begitu pun, tradisi selam menyelam ini agaknya hanya dilakoni oleh perempuan-perempuan lanjut usia. Berdasarkan data tahun 2003, tercatat 5.650 perempuan penyelam di Cheju. Dari angka itu, 85 persen di antaranya berusia di atas 50 tahun dan hanya 2 orang yang di bawah usia 30 tahun!
"Setiap kali saya menyelam," Yang Jung Sun, perempuan laut usia 75. "Saya merasa pergi ke sisi lain dunia. Jika melihat sesuatu yang bisa dijual di bawah sana, saya akan memaksakan diri mengambilnya."

Yang Jung Sun yang sudah puluhan tahun menyelam mengaku tetap saja dibayangi kematian dalam setiap kali penyelaman. "Ketika selesai menyelam dalam dua menit lebih, paru-paru saya serasa akan meledak. Pandangan terlihat gelap, dan saya merasa akan mati. Itu terjadi setiap saat saya menyelam."

Menurutnya, walaupun ia sudah berkali-kali merasa seperti itu dan mengingatkan dirinya untuk tidak menyelam lagi, tetapi Yang Jung Sun tetap saja kembali menyelam dan menyelam. "Aku selalu kembali menyelam!" katanya dengan senyum.

Sejak era 70-an, tangkapan segar dari perempuan-perempuan laut ini mendapat pasar tetap terutama bagi ekspor ke Jepang. Harga makanan laut itu pun semakin melejit naik. Uang pun mengalir ke kantong perempuan-perempuan perkasa Cheju. Memungkinkan mereka untuk meningkatkan taraf hidup, membangun rumah baru, menyekolahkan anak-anak mereka, bahkan menabung untuk masa depan.

Peningkatan taraf hidup juga terjadi pada Yang Hoa Shu, 67 tahun. Penyelam perempuan yang andal ini mengaku sejak usia delapan tahun sudah mulai menyelam. Ia memiliki penghasilan mencapai 30 ribu dolar AS (setara 270 juta rupiah lebih) setahun.

Ia menetapkan hanya 10 hari sebulan untuk menyelam dan selebihnya mengurus bisnis lain. Seperti sebagian perempuan laut lainnya, Yang Hoa Shu memang memiliki restoran dan penginapan bagi turis di resor wisata Pulau Cheju.

Kesuksesan yang diraihnya selama satu atau dua dekade ini, membuka peluang bagi anaknya untuk meneruskan usaha wisata keluarga, atau melanjutkan karier di kota besar. Hal ini mungkin akan menggeser tradisi selam bagi perempuan laut Cheju di masa yang akan datang. Karena tingkat ekonomi mereka semakin memadai dari hari ke hari, bukan tidak mungkin suatu saat nanti pekerjaan menyelam itu akan ditinggalkan dan terlupakan oleh keturunan mereka kelak.

Cheju Do, Keindahan di Selatan Korea
Cheju Do (Pulau Cheju) adalah sebuah pulau vulkanik di ujung selatan Korea Selatan. Pulau ini terbentuk akibat letusan gunung berapi kira-kira 2 juta tahun lalu. Jejak lava dan aktivitas gunung api di masa lampau membentuknya menjadi pulau berkarang dengan panorama yang mampu membius mata.

Pulau Cheju adalah sebuah tempat yang sarat mitologi dan legenda. Di sekeliling pulau bersuhu sub-tropis dengan empat musim itu, terdapat patung batu yang menjadi simbol kekuatan kuno tertentu (mungkin semacam dewa kesuburan). Cheju juga dipenuhi banyak gua yang berkaitan dengan kisah Dewa Ko, Pu dan Yang dalam mitologi Korea.

Pulau itu memiliki keindahan alam yang sangat memukau. Di tengahnya terdapat sebuah gunung tertinggi di Korea, yakni Mount Halla (1.950 meter di atas permukaan laut). Dari puncaknya kita bisa menatap seluruh pulau yang hanya seluas 1.845 km persegi itu.

Di lepas pantai, bisa disaksikan kegiatan perempuan-perempuan laut yang mencari nafkah. Dalam "tarian selam" mereka yang memukau. Sebuah tradisi turun temurun bagi kaum perempuan Cheju.

Beda dengan pulau-pulau lain, di Cheju yang hanya tiga kali lebih besar dari Singapura ini, semua penduduk makmur. Dihuni sekitar 520 ribu penduduk, di sini tidak ada pengemis dan kejahatan. Semua terlihat aman, damai dan syahdu. Penduduknya ramah dan sajian masakan lautnya menggelitik selera.

Teori Baru Tentang Terjadinya GEMPA

Apakah ledakan dalam Bumi menimbulkan gempa, ataukah sebaliknya?



Sebenarnya pertanyaan ini ditimbulkan oleh adanya pendapat sarjana Barat tentang Drifting Continents yaitu benua-benua yang senantiasa bergerak. Dengan teori ini mereka telah mengetahui adanya sejuta kali gempa bumi setiap tahun di planet ini. Tetapi mereka lupa bahwa kulit Bumi ini telah sangat kuat kukuh malah sangat rapat, karenanya terdapatlah lautan air dua pertiga dari seluruh permukaannya begitupun orang tidak takut lagi berlayar ke mana saja tanpa perasaan akan jatuh di tempat longsor ke dalam perut Bumi.



Continental Drift dikatakan dengan keterangan lengkap sebagai teori, pertama kali diterbitkan oleh Alfred Wegener (Klik di sini) , meteorologis Jerman, pada tahun 1912. Dia menerangkan bahwa dulunya sekira 200 juta tahun yang lalu benua besar Pangaea telah terpecah, masing-masingnya memisah hingga kini menjadi beberapa benua dan pulau-pulau. Sayang dia tidak menerangkan penyebah terpecahnya Pangaea tersebut, karenanya teori itu belumlah lengkap sebagai dikatakan, tetapi haru berbentuk dugaan yang ditimbulkan oleh keadaan dan pengalaman yang menimpa. Dia hanya berdasarkan bentuk benua-benua yang ujung-ujungnya cocok dihubungkan, serta fosil-fosil dan hewan yang hampir bersamaan pada benua-benua itu. Sampai kini daratan-daratan Bumi tersebut masih bergerak lalu menimbulkan gempa yang mendatangkan bencana dan kematian.

Maka tercatatlah sebanyak 1.200 setasiun seismograf yang mencatat 500.000 goncangan setiap tahun di muka Bumi, di antaranya 100.000 dapat didengar dan dirasakan penduduk, dan 1.000 kali telah mendatangkan bencana. Empat dan lima gempa Bumi berlaku di sekeliling Pasifik sedangkan yang lainnya berada di sekitar India, Laut Tengah dan Atlantik.

Tetapi pada tahun I950 timbullah tantangan hebat dari kalangan ahli geofisika terhadap teori Continental Drift tersebut dengan alasan bahwa kulit Bumi di dasar lautan telah sangat keras dan kuat hingga tidak memungkinkan berlakunya pergeseran benua-benua. Namun pada tahun 1960 tersiar lagi pendapat yang membela teori Alfred Wegener dengan mengemukakan keterangan-keterangan yang menguatkan.

Yang jelas pergeseran posisi benua yang disebut dengan Continental Drift itu tidak punya alasan kuat dan tidak dapat diterima logika wajar, karena jarak antara masing-masing benua dan pulau begitu jauh, bahkan ada yang ribuan mil. Tambahan lagi permukaan Bumi ini terdiri dari 2 per 3 lautan bukan daratan.

Kini kita kembali pada pertanyaan tadi, apakah ledakan yang menimbulkan gempa, ataukah gempa yang menimbulkan ledakan?

Jawabnya ialah keduanya sama saja, gempa menimbulkan ledakan itu sendiri juga menimbulkan gempa. Yang menjadi soal adalah penyebab keduanya. Orang membagi dua macam gempa, yaitu tektonik yang ditimbulkan oleh gerak-gerik lapisan Bumi, dan vulkanik yang ditimbulkan oleh letusan gunung. Gempa tektonik hanyalah kelanjutan dari teori Continental Drift yang tanpa alasan kuat, sementara gempa vulkanik adalah akibat dari akfitivas magma dalam perut Bumi, hingga tercatat sampai sejuta kali gempa bumi besar kecil dalam satu tahun.

Suatu hal yang meniadakan pengetahuan orang Barat tentang penyebab gempa ialah dugaan mereka sendiri mengenai sirkulasi magnet Bumi. Mereka beranggapan bahwa magnet positif di selatan Bumi ke luar ke angkasa kemudian membelok ke arah utara menyelubungi planet ini, seterusnya masuk di kutub utara dan bergerak melalui perut Bumi hingga keluar lagi di kutub selatan. Demikian berulang kali berkepanjangan seperti yang termuat dalam gambar no. 1 yang dikutip dari The Pictorial Encyclopedia of Scientific Knowledge, London.


Secara nyata gambar demikian telah memperlihatkan kesalahan tentang sirkulasi magnet Bumi. Kesalahan itu bilamana dijadikan dasar perkembangan ilmu pengetahuan, akan tendapatlah kekeliruan yang banyak, akhirnya berupa deadlock hingga berbagai masalah tak mungkin terpecahkan seperti yang menyangkut dengan asal-usul gempa Bumi. Padahal orang sama mengetahui bahwa semua planet bertarikan dengan Surya yang dikitarinya. Masing-masingnya bagaikan bergantung dengan tali magnet yang berhubungan dengan Surya. Jika sirkulasi magnet seperti pada gambar tadi benar kejadian maka Bumi kita tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Surya, akibatnya telah lama melayang jauh entah ke mana di angkasa luas meninggalkan Surya tersebut. Gambar itu juga memperihatkan bahwa magnet hanya berunsur positif, tiada unsur negatifnya. Keadaan demikian tidak cocok dengan kejadian sehari-hari.

a. Jika orang menempatkan suatu batang magnet buatan pada serbuk besi, maka kedua ujung magnet itu sama menarik serbuk tersebut dengan jumlah yang sama banyak. Hal ini membuktikan magnet negatif juga ada bersamaamn dengan magnet positif pada ujung yang berlainan.

b. Jika orang menggantungkan suatu batang magnet secara bebas di udara, maka ujung positif akan tertarik ke utara dan ujung negatifnya tertarik ke selatan. Hal ini membuktikan kedua macam magnet itu selalu ada bersamaan, mengenai wujud dan fungsinya.

c. Jika orang menghubungkan dua ujung kawat beraliran listrik negatif dan positif, maka dia akan menghasilkan cetusan api. Cetusan ini membuktikan adanya unsur negatif bersamaan dengan unsur positif, dan bukanlah negatif magnet itu sesuatu yang kosong hampa.

Tentang keadaan magnet demikian nyata keliru pendapat Barat seperti pada gambar tadI.
Perempuan itu walaupun termasuk golongan negatif, namun dia konkrit ada, bukan kosong hampa. Demikian pula magnet positif dan negatif Bumi.

Jadi untuk menggambarkan sirkulasi magnet Bumi yang selalu berhubungan dengan Surya yang diorbitnya, tentulah unsur magnet negatif juga harus ada bersamaan dengan magnet positif pada kutub yang berlainan. Kedua unsur magnet itu harus dihubungkan dengan Surya yang jadi tempat bergantung bagi Bumi. Tanpa perhitungan skala maka gambar itu adalah sebagai berikut:



Magnet negatif yang keluar dari utara Bumi langsung bergerak ke utara Surya, keluar di permukaannya dan masuk di selatan Bumi. Sementara magnet positif yang keluar dari selatan Bumi langsung bergerak ke selatan Surya, keluar di permukaannya dan masuk lagi di utara Bumi. Kedua unsur magnet yang berlainan ini berantukan dalam perut Bumi hingga tercatatlah getaran besar kecil sepanjang tahun, dibedakan oleh besarnya radiasi yang datang dari Surya. Perbedaan besar radiasi Surya tersebut disebabkan oleh saling bertarikannya dengan 9 planet lain yang selalu mengorbit, masing-masingnya bermagnet yang sirkulasinya bersamaan dengan magnet Bumi. Manakala ada suatu planet yang kebetulan satu arah dengan Bumi terhadap Surya, maka terjadilah pembesaran radiasi Surya atas Bumi atau atas planet itu, dan berlakulah misalnya gempa, letusan gunung, tornado atau sebagainya.


Kenapa magma Bumi senantiasa panas, dan apakah dia akan berlangsung terus begitu? Boleh pula kita tambahkan di sini: Kenapa permukaan Surya tetap bergolak?

Maka dengan gambaran sirkulasi magnet Bumi tadi dapatlah diketahui kenapa magma tidak pernah mendingin tetapi selalu panas karena dia bertindak selaku fillament besar dengan tegangan tinggi yang selalu menyala dalam perut Bumi. Dia selalu dialiri arus listrik dari kutub selatan dan kutuh utara selaku anoda dan kathoda, dan dengan begitu kelirulah juga pendapat orang yang mengatakan magnet jadi hilang pada suhu yang sangat panas. Dengan gambaran tentang sirkulasi magnet tadi juga dapat pula diketahui kenapa permukaan Surya senantiasa bergolak. karena selalu mengeluarkan aliran listrik kepada 10 planet yang mengitarinya.

Kalau orang memperhatikan apa yang dinamakan dengan Van Allen Belts, lalu dihubungkan dengan keterangan kita berdasarkan Alquran sebagai di atas tadi, akan didapatlah suatu pembukaan baru tentang sirkulasi magnet bumi dengan alasan kuat. Seorang ahli fisika USA yang mengajar di University Iowa Canada, bernama James A. Van Allen, berdasarkan hasil penyelidikannya tahun 1958, dan diperkuat oleh penyelidikan pesawat tak berawak Explorer 1, 2, dan 12, telah menemukan daerah radiasi luas di angkasa keliling ekuator Bumi. Dalam daerah itu, aliran listrik yang datang dari Surya sebagian besar dapat ditangkap oleh lapangan magnet Bumi sekira ribuan mil dari permukaan planet ini. Kalau digambarkan maka daerah itu tampak berbentuk dua tanduk yang saling menantang atau berupa hilal Bulan.

Bagian dalamnya membujur pada 45˚ garis lintang di utara dan di selatan, sedangkan bagian luarnya sampai pada 62˚.
Dikatakan bahwa datang dari Surya itu entah elektron ataukah proton. partikelnya belum diketahui, tetapi jika orang mengikuti keterangan Alquran, maka yang datang dari Surya itu bukanlah partikel tetapi sinar atau gelombang magnet yang menimbulkan perubahan cuaca atau badai magnet pada aurora di angkasa utara dan selatan bumi.






 


Gempa Aceh 2013 disebabkan oleh Planet Neptunus

Gempa berkekuatan 6,2 Skala Righter yang berpusat di Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh mengakibatkan sejumlah bangunan rubuh. Gempa bumi melanda Aceh pada Selasa, 2 Juli 2013, pukul 14.37 WIB.

Pada saat itu Posisi Surya, Bumi dan Planet Neptunus SEGARIS


Check this out: gambar di atas diambil dari sini

http://www.fourmilab.ch/cgi-bin/uncgi/Solar





Setelah kita mengetahui betapa sirkulasi magnet antara Bumi dan Surya, maka dapatlah disadari kenapa jalur gempa dan vulkanik ada pada daerah-daerah tertentu antara Makkah dan Tuamoto di timur dan barat permukaan Bumi. Bahwa magnet positif yang masuk di utara Bumi sebagiannya ada yang membelok ke arah Makkah, yang lainnya langsung menuju ke selatan. Begitu pula magnet negatit yang masuk di selatan ada yang membelok ke Tuamoto di Pasifik dan setengahnya langsung ke utara dalam perut Bumi, hingga gambarnya kira-kira sebagai berikut:


Titik M ialah Makkah di Saudi Arabia terbebas dari gempa dengan beberapa alasan, yaitu kulit Bumi di sana tebal sebab dulunya adalah kutub utara sebelum tofan di zaman Nuh, kedua, karena tempat itu paling jauh dari titik T, dan ketiga karena magnet negatif dari T lebih cenderung bergerak langsung ke arah Artik di titik U.


Sementara itu titik T ialah Tuamoto di Pasifik. Kegiatan vulkanis di sana masih berlaku karena dulunya kutub selatan yang bermagnet positif. Kini dilalui oleh magnet negatif yang datang dari Antartik di titik S. Dan selatan ini ada aliran magnet yang menuju Makkah di titik M, tetapi sebelum sampainya, telah berantukan dengan magnet dari utara dalam perut Bumi. Dengan sirkulasi magnet demikian dapat diketahui kenapa Australia juga terbehas dari bahaya gempa Bumi, dan Iceland jadi vulkanik sangat hebat.


Maka satu-satunya cara yang efektif mengurangi bahaya gempa dan letusan gunung berapi ialah menghubungkan Makkah dengan Antartik, Tuamoto dengan Artik, dan kutub-kutub itu sendiri melalui Atlantik dengan bahan para magnet. Hubungan yang terakhir ini juga dapat mengurangi bahaya tornado dan hurricane dan sekaligus menghasilkan energi raksasa dari Bumi yang sesungguhnya adalah dynamo alam yang listrik besar. Usaha-usaha pengurangan bahaya tersebut dengan memakai ledakan bom atom ataupun penyuntikan air ke dalam Bumi adalah perbuatan sia-sia dan tidak logis.

Itulah sebagian akibat praktis dari tofan besar di zaman Nuh. Kalau pada masa purbakala manusia bermukim pada Pangaea yaitu daratan luas tanpa laut dan tanpa pergantian musim bahkan juga kekurangan sinar Surya, tetapi tak pernah mengalami bahaya gempa dan tornado, maka kini manusia tinggal pada benua dan pulau-pulau dengan laut dan hujan secukupnya, dengan hasil tambang melimpah ruah, tetapi diancam oleh bencana alam yang semakin banyak. Kalau dulunya orang tidak perlu berpikir keras dan tidak pernah mendapat pelajaran dari bencana alam, sementara ilmu tinggi yang didapatnya hanyalah tensebab riwayat peradaban yang sangat panjang, maka kini orang harus berpikir keras karena selalu ditantang oleh pergantian musim dan bencana alam, kanenanya manusia kini lebih cepat maju dan dalam beberapa ribu tahun telah mulai melakukan penerbangan artarplanet. Jadi, tofan besar di zaman Nuh. di samping destruktif terhadap masyarakat kafir, juga konstruktif bagi Bumi dan masyarakat manusia kini sebagai yang dimaksud ALLAH pada Ayat 29/19.

Suatu hal lagi yang harus dibicarakan mengenai akibat praktis tadi ialah mengenai posisi dan orbit Bumi keliling Surya. Sudah menjadi pengetahuan umum di dunia selama ini, sebagai tercantum pada gambar no. 1, bahwa Bumi ini miring terhadap Surya. Yang menjadi sebab tentang ini ialah karena orang-orang Barat tidak dapat mengambil pelajaran dari The Bible mengenai peristiwa besar di zaman Nabi Nuh, sebagaimana dinyatakan ALLAH pada Ayat 11/49. Tetapi selama ribuan tahun mereka dihadapkan kepada pergantian musim yang berlaku, maka untuk way out mereka sengaja memberikan ketentuan bahwa Bumi ini miring terhadap Surya. Dengan posisi begitu terdapatlah pergantian musim yang sangat berpengaruh dalam kehidupan mereka. Walaupun ketentuan ini tanpa dasar dan tidak dapat dipertahankan, namun itulah satu-satunya yang mungkin mereka jadikan pegangan. Mereka menggambarkan status Bumi dalam orbitnya keliling Surya sebagaimana diajarkan di sekolah-sekolah dan termuat dalam buku-buku ialah seperti gambar no. 4 ini:

Dengan sketsa demikian, orang Barat memperkirakan bahwa Bumi menempatkan Surya di sebelah kirinya sewaktu mengorbit dengan sumbu putaran yang miring terhadap garis ekliptik, maka tercatatlah daerah permukaan Bumi rnenurut iklim yang ditimbulkan perbedaan sinar Surya yang diterimanya setiap tahun:

Frigrid Zone yaitu daerah dingin pada masing-masing kutub Bumi sampai pada 23½ derajat ke selatan atau ke utaranya.

Torrid Zone yaitu daerah panas, mulai dari garis ekuator sampai 23½ derajat ke selatan atau ke utaranya.

Temperature Zone yaitu daerah musim, berada di antara kedua daerah di atas tadi di belahan selatan dan di belahan utara Bumi.

Di antara tiga macam daerah itu maka Temperature Zone paling luas, semuanya didasarkan atas posisi Surya sepanjang tahun Masehi dipandang dari permukaan Bumi; bahwa:

21 maret : tepat berada di atas Ekuator, sembari bergerak ke arah utara.

21 Juni : Surya tepat di atas 23½ derajat di belahan utara Bumi. Waktu itu berlaku musim dingin dan malam panjang di kutub selatan. Mulai tanggal itu Surya bergerak kembali ke arab ekuator.

21 September : Surya tepat kembali di atas ekuator sembari bergerak ke arah selatan.

21 Desember : Surya tepat berada 23½ derajat di belahan selatan Bumi. Waktu itu berlaku musim dingin dan malam panjang di kutub utara. Mulai tanggal itu Surya bergerak kembali ke arah ekuator yang dicapainya pada tanggal 21 Maret.


Dengan perpindahan posisi Surya begitu sepanjang tahun terbentuklah pergantiam musim yang jadi dasar penanggalan tahun Masehi. Tetapi bukanlah Bumi berstatus miring di sumbunya sebagai dikatakan berdeklinasi 23°27’, karena memang tiada alasan dan penyebab yang menjadikan demikian. Dikatakan bahwa bumi senantiasa berada dalam garis ekliptik sewaktu beredar keliling Surya, jika benar demikian, tentulah terjadi gerhana Surya setiap tanggal 1 bulan Qamariah dan gerhana Bulan setiap tanggal 15-nya, namun gerhana tersebut tidak berlaku, karenanya kelirulah pendapat Barat tentang status Bumi tadi.

Berdasarkan logika Wajar, setiap orang akan menyatakan sketsa itu keliru, karena kedua kutub Bumi tentulah akan sama jauh dari Surya sepanjang zaman kecuali ada penyebab yang memaksanya berubah. Sementara itu Bumi yang selalu berputar di sumbunya sewaktu berkeliling Surya tentulah kedua sumbunya dan arah putarannya sepanjang terhadap Surya sebagaimana keadaan dua sumbu roda dan arab putarannya terhadap jalan raya. Jika sketsa tadi benar-benar berlaku maka Bumi ini akan keluar dari garis orbitnya keliling Surya ke arah lain sesuai dengan arah putarannya.


Jadi bagaimana keadaan sebenarnya ? Dan bagaimana bentuk orbit Bumi keliling Surya hingga terbentuk pergantian musim?

Bumi bukan berposisi miring terhadap Surya tetapi semenjak berlakunya pendekatan suatu rombongan Comet pada Tatasurya kita, dan Surya keluar dari statusnya lain diikuti oleh semua planet yang mengorbit, maka terjadilah pergantian musim karena setiap planet terdorong ke utara dan ke selatan dari garis ekliptik keliling Surya. Karena dorongan itu dimulai oleh daya tarik Surya terhadap planet-planet tentulah dia menjadi semakin pendek dari masa ke masa. Itulah yang menyebabkan berkurangnya waktu penanggalan musim seperti yang dilakukan oleh Paus Georgery terhadap kalender Julius Caesar pada tanggal 4 Oktober 1582. Julius Caesar benar pada zamannya dan Paus Georgery juga benar pada masanya, maka yang berubah ialah lenggang Bumi ke utara dan ke selatan garis ekliptik menjadi semakin pendek dan otomatis mengurangi pergantian musim.

Pada Encyclopedia Americana 1975 buku 9 halaman 588 termuat keterangan yang artinya antara lain, bahwa tahun itu ternyata deklinasi rotasi Bumi 23°27’ dan garis ekliptik, dan penyimpangan demikian terus berkurang 0°75’ setiap 100 tahun, karena itu praktislah daerab kutub akan jadi semakin luas. Tetapi anehnya, buku itu tidak menerangkan sudah berapa lama deklinasi itu berlaku, berapa derajat dulunya, dan kenapa senantiasa berkurang setiap abad.

Pada hakekatnya, bukanlah Bumi berdeklinasi terhadap garis ekliptik, tetapi terdorong ke utara dan ke selatan, dan pengurangan 0°75’ setiap abad itu bukanlah pengurangan deklinasi tetapi pengurangan lenggang Bumi yang otomatis mengurangi waktu pergantian musim serta memperluas daerah kutub. Untuk ini perhatikanlah kembali catatan dari Bussiness Times.






 






 







Default

Kini Surya tampaknya telah rnengurangi geraknya arah ke utara dan ke selatan, rnemperluas daerah kutub-kutub dan memperpendek waktu musim, tetapi yang perlu diketahui juga ialah bahwa dengan itu bencana alam yang ditimbulkan oleh pembesaran radiasi Surya menjadi semakin banyak, melebihi kejadian pada abad-abad yang lampau.

Bukti lain yang dapat disajikan di sini bagi zigzag lenggang Bumi hingga terwujudnya pergartian musim ialah gerak edaran Sunspots atau bintik-bintik di permukaan Surya, semuanya bergerak arah ke selatan dan ke utara sembari beredar keliling Surya sesuai dengan gerak orbit planet-planet dalam Tatasurya kita. Kita mengetahui bahwa antara planet-planet dan Surya berlaku saling bertarikan, begitu pula antara Bulan dengan Bumi. Jika yang terakhir ini menimbulkan pasang naik dan surut di lautan, maka hubungan planet-planet dengan Surya menimbulkan bintik-bintik atau Sunspots yaitu bagian-bagian permukaan Surya yang melambung tinggi hingga puncak apinya agak meredup dan tampaknya agak gelap.

Jadi dengan gerak edaran Sunspots demikian dapatlah diketahui aktifitas radiasi Surya yang sampai ke Bumi di mana perubahan cuaca berlaku atau mungkin pula gempa dari letusan gunung. Dan dengan itu juga jelaslah bahwa Bumi bersama planet lain senantiasa melenggang dari garis ekliptik sewaktu mengorbit keliling Surya. Kalau misalnya Bumi dan planet-planet itu selalu dalam garis ekliptik maka Sunspots tadi tidak akan ikut melenggang tetapi akan selalu pula berada pada ekuator permukaan Surya.

Kemudian itu perhatikanlah pula daerah Umbra yang ditimbulkan gerhana Surya total yaitu daerah gelap sewaktu gerhana itu berlaku. Kalau benar pendapat Barat tentang posisi Bumi dalam orbit nya senantiasa dalam garis ekliptik, tentulah daerah Umbra itu berbentuk garis lurus dari barat ke timur, tetapi kenyataannya melengkung ke utara atau ke selatan sesuai dengan gerak lenggang Bumi ke selatan dan ke utara garis ekliptik tersebut. Tentang ini para sarjana barat tidak mungkin memberikan keterangan tentang alasan dan penyebab, sebagaimana mereka juga tidak menerangkan kenapa Bulan yang mengorbit keliling Bumi tidak selalu tepat di atas garis ekuator Bumi, tetapi terdorong ke utara dan ke selatan. Kalau Bumi dikatakan mengorbit selalu dalam garis-garis ekliptik tentulah juga Bulan selalu berada di atas garis ekuator keliling Bumi.

Mengenai gerhana Surya penuh, The Book of PopuIar Science jilid 3 halaman 130 menerangkan antara lain maksudnya, bahwa:

a. Jarak Bulan dan Bumi rata-rata 239.000 mil, paling dekat 221.500 mil ketika mana dapat berlaku gerhana penuh, dan paling jauh 252.000 mil.

b. Gerhana total menyebabkan adanya Umbra yaitu daerah gelap penuh, dan gerhana partial menyebabkan adanya Penumbra yaitu daerah agak gelap.

c. Gerhana total selalu dimulai dengan gerhana partial dan disudahi juga dengan gerhana partial.

d. Penumbra dan Umbra itu bergerak dari barat ke arab timur permukaan Bumi dengan kecepatan melebihi 1.000 mil perjam.

e. Umbra ada sekira 167 mil diameter dan bergerak ke timur selama 7 ½ menit, didahului sekira 2.500 mil penumbra dan diakhiri dengan 2.500 mil penumbra.


Gerhana total hanya dapat berlaku pada waktu menjelang hilal Bulan atau pada tanggal 1 hari bulan Qamaniah. Berdasarkan alinea a dan f di atas ini dapatlah diketahui bahwa Perihelion orbit Bulan berlaku pada setiap tanggal 1 hari bulan Qamariah , waktu mana Surya, Bulan. dan Bumi berada dalam satu guris lurus, tetapi karena Bulan dan Bumi terdorong ke utara dan ke selatan sewaktu mengorhit, maka gerhana Surya tidak berlaku pada setiap tanggal 1bulan itu. Lenggang Bumi tersebut dapat dibuktikan dari gambar daerah yang dilalui Umbra yang tidak dibicarakan dalam The Book of Popular Science tentang alasan dan penyebabnya:
Pada gambar di atas ini terdapat empat kali gerhana Surya total yang berlaku pada tanggal dari tahun yang berbeda. Keempatnya tampak membentuk jalur gelap dan barat arah ke timur dan kemudian membelok ke utara atau ke selatan. Keadaan pembelokan demikian harus mempunyai alasan dan salah satu cara untuk mendapatkannya hanyalah dengan menganalisa Ayat Suci Alquran.

Kita sudah mengetahui babwa mulai tanggal 22 Desember setiap tahun, Surya tampak bergerak ke arah utara, Padahal yang kejadian ialah Bumi kita sendiri yang bergerak arah ke selatan. lngatlah, Surya adalah pusat orbit yang dikitari oleh sepuluh planet termasuk Bumi ini. Demikian pula mulai tanggal 21 Juni Surya tampak bergerak arah ke selatan, padahal Bumi kita yang bergerak ke utara.

Maka gerhana total yang berlaku pada tanggal 10 Juli 1972 dan tanggal 31 Juli 1981 sebagai tercantum pada gambar no. 5 ternyata membuat lajur Umbra yang melengkung ke selatan. Yang demikian berarti bahwa waktu itu Bumi sedang bengerak ke arah utara hingga bayangan Bulan tampak membelok ke selatan. Demikian pula yang berlaku pada tanggal 7 Maret 1970 dan 26 Maret 1979. Ketika itu Bumi sedang bergerak ke arah selatan maka bayangan Bulan tampak membelok ke utara.

Hal begitu tentulah menjadi masalah besar bagi ilmu astronomi, tetapi The Book of Popular Science tidak memperbincangkannya, tentang mana kita merasa bahwa penulisnya kelupaan atau belum mempunyai bahan analisa berdasarkan teori tentang orbit Bumi yang dianut . Namun jalur Umbra gerhana total tersebut adalah satu di antara sekian banyak bukti yang menerangkan bumi terdorong ke selatan dan ke utara garis ekliptik dalam orbitnya kini. Demikian pula yang berlaku pada planet-planet lain dalam daerah Tatasurya kita.


Jika digambarkan Surya sebagai suatu titik segitiga dan kutub magnet selatan dan utara Bumi menjadi dua sudut lainnya, sebagai tercantum pada gamhar no. 2, maka terbentuklah segitiga samakaki yang selamanya berlaku dalam tarik-menarik antara Surya dengan bumi. Hubungan yang berbentuk segitiga samakaki tersebut tetap berlaku walaupun Bumi terdorong ke selatan dan ke utara garis ekliptik.

Keadaannya sebagai berikut:

Sebelumn tofan besar di zaman Nuh, semua planet mengorbit keliling Surya senantiasa berada dalam garis ekliptik. Sesudah tofan besar itu berlakulah gerak zigzag planet-planet dalam orbitnya hingga setiapnya keluar dan garis ekliptik ke arah selatan dan utara.

Sewaktu Bumi terdorong ke utara sebagai pada B dalam gambar no. 6. namun kutub-kutub magnet Bumi tetap membentuk segitiga samakaki dengan Surya, begitu pula kebetulan berada di selatan garis ekliptik seperti yang berlaku pada planet Mars dalam gambar. Maka perubahan tempat kutub-kutub magnet yang senantiasa berpindah tempat menurut keadaan kini telah sama diakui oleh para Sarjana Barat. Memang kutub-kutub magnet itu hanya berada tepat pada kutub putaran Bumi yaitu pada tanggal 21 Maret dan 22 September waktu mana Bumi tepat pula pada guris ekliptik. Selain pada kedua tanggal itu, tercatatlah posisi kutub-kutub magnet Bumi berpindah tempat maksimal 10 derajat atau lebih kurang 1.100 km dari kutub putaran, dan waktu itu tercatatlah tanggal 21 juni yaitu ketika Bumi berada maksimal di selatan ekliptik dan tanggal 22 Desember ketika Bumi maksimal di utara ekliptik. Inilah yang dimaksud dalam Ayat 16/48, 71/19 dan Ayat 71/20.

Hubungan tarik menarik itu menimbulkan Sunspots yang juga beredar keliling permukaan Surya pada arah bersamaan dengan gerak planet-planet bahkan mengikuti zigzag orbit planet-planet itu sendiri. Demikianlah banyak sekali catatan yang kita temui tentang Sunspots dengan geraknya yang zigzag tersebut disiarkan oleh para sarjana Barat, perbedaannya ialah bahwa mereka menghitungnya ada 100, sedangkan Ayat 69/32 menyatakan hanya 70 buah.

Jika orang sudi memperhatikan posisi Sunspots, akan diketahuilah bahwa masing-masingnya memberi petunjuk tentang posisi planet yang menimbulkannya keliling Surya. Karena itu setiap Sunspots itu memperlihatkan aktivitas tinggi yang menurut catatan rata-rata 10.000 dan ada yang sampai sejuta kali kegiatan daerah lainnya di permukaan Surya.

Semisalnya Mercury atau Venus berada pada titik Konsentrasi (K) maka planet itu tepat berada di atas suatu Sunspots, maka ketika itu berlakulah bencana alam di permukaan planet tersebut. Demikian pula Mars sendiri sewaktu kebetulan berada pada titik Konsentrasi Jupiter atau Saturnus maka kenyataannya memang Mars adalah suatu planet yang paling parah karena mengorbit di bawah dua planet besar, dan kebetulan tepat pada jangkauan Konsentrasi keduanya.

Bumi sendiri walaupun tidak berada pada jangkauan suatu Konsentrasi planet lain, namun ada tujuh planet yang mengorbit di atas garis edarnya. Pada waktu-waktu tertentu masing-masing transit tepat, tetapi banyak sedikitnya ikut juga mengganggu keadaan Bumi. Yang demikian berlaku tujuh kali dalam setahun. Semisalnya suatu planet luar tepat mengadakan transit di atas Bumi terhadap Surya, maka waktu itu radiasi yang harus sampai kepada planet tersebut menjamah Bumi. Apakah radiasi itu berbentuk magnet negatif ataupun positif, namun Bumi mendapat kelebihan dan ini menimbulkan bencana alam, apalagi jika planet itu kebetulan pula berada di dekat Perihelion orbitnya waktu mana tanik-menanik dengan Surya besar sekali.